
Fina berjalan menuju kelasnya dengan membawa sewadah cireng dan satu cup es teh. Ia baru saja dari kantin. Fina terus berjalan menyusuri koridor dengan langkah santai. Dari arah berlawanan, tampak Win yang tengah berjalan hendak ke kantin, menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu pergi. Saat di kantin, Fina sempat melirik sebentar ke meja Win dan memang ia tak menemukan sosoknya di sana. Hanya ada teman-temannya.
Fina dan Win terus melangkah. Jarak mereka semakin dekat. Sampai akhirnya mereka berpapasan.
Wusshh...
Semua berjalan begitu cepat. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut salah satu dari mereka. Fina tertegun. Kakinnya menginjak pedal rem dengan sendirinya. 'Apa dia beneran Win?' batinnya. Fina menoleh ke belakang. Cowok itu terus berjalan memunggunginya. Dan dia benaran Win. 'Apa dia tidak melihat?'Fina bertanya sekali lagi. Tetapi sepertinya pertanyaan kedua terdengar tidak masuk akal. Fina berada di depannya dan Win pasti menyadari itu.
Fina kecewa. Mengapa Win tidak menegurnya? Ia terlalu banyak berharap. Ada rasa sesak membaur di sekitar dadanya. Entah mengapa rasanya sakit sekali di campakkan seperti itu. Mereka seakan kembali menjadi dua orang asing. Tidak-tidak! Meskipun asing Win tidak pernah seacuh ini. Sebelum mereka kenal, Win bahkan sudah sok-akrab dengan Fina. Tadi itu seakan bukan Win yang Fina kenal.
Fina melanjutkan langkahnya. Menuju ke kelas dengan perasaan sesak.
***
Fina mencoba mencari jawaban mengapa Win bersikap acuh padanya sesampai ia di rumah. Fina terduduk di kasurnya, melamun. Setengah hatinya masih berkata kalau itu bukan Win. Semalam Win masih bersikap ramah padanya. Mengapa keesokannya ia berubah 360 derajat? 'Apa Win punya kembaran?Won?' Batinnya memprediksi kemungkinan lain. Tidak! Fina harus terima kalau cowok yang kemarin ia temui adalah Win. Pertanyaannya sekarang, mengapa Win bersikap seperti itu kepadanya?
Sepertinya Win marah karena selama ini dianggap angin oleh Fina. Tapi apakah itu berlebihan? Rasanya tidak. Fina baru menyadari kalau dianggap tidak ada oleh orang yang ia sayang amatlah menyakitkan. Lebih menyakitkan ketimbang mendapat amarah langsung dari orang tersebut.
Rasanya Fina ingin mengechat Win untuk meminta maaf. Tapi, ia masih bingung untuk saat ini. Soal Win. Soal hubungannya ke depannya. Soal Felisha. Soal ancaman itu. Fina membatalkan niatnya. Ia beralih menelepon Lindy untuk menemaninya membeli es-krim di Mall besok. Besok adalah hari sabtu, hari libur sekolah.
“Halo, Kakakku,” panggil Fina. Mereka sudah cukup akrab.
'Iya, adikku?' jawab Lindy membuat Fina geli ingin tertawa.
“Besok bisa antar ke Mall gak beli es-krim? Mau memperbaiki mood”
'Kenapa tidak?' I love es-krim too
“Yeay.. Makasih Kalin!” panggilan baru dari Fina untuk Lindy: Kalin.
'Your welcome, cutety...'
Fina mematikan teleponnya. Ia bersyukur datang satu orang baik lagi ke dalam hidupnya. Orang yang bisa menjadi sosok kakak untuk dirinya.
...***...
Lindy dan Fina pergi ke Mall menggunakan mobil pribadi Honda Brio milik Lindy. Sesampai di Mall, mereka langsung menuju tempat permainan. Fina memaikan mesin capit boneka.Percobaan pertama ia gagal. Alat pencapit itu hanya mengangkut angin. Giliran Lindy mencobanya. Hasilnya sama. Mereka gagal mendapatkan boneka. Namun, mereka tak menyerah dan terus mencoba. Sampai akhirnya Fina menaklukan permainan itu.Dia mendapatkan boneka beruang dinosaurus lucu berwarna hijau.
Fina melompat-lompat girang. Bertos-ria dengan Lindy.
“Aku namain siapa, ya, bonekanya?” Fina meminta saran Lindy.
__ADS_1
“Gerald aja,” Lindy mengajukan. “Anggap aja Gerald ke dua.”
Fina tertawa. Entah dimana sisi kembarnya, tapi sepertinya itu ide bagus.
Sehabis dari tempat permainan, Lindy mengajak Fina ke toko baju, melihat-lihat pakaian.
“Kayaknya ini bagus deh di kamu.” Lindy mencocokkan salah satu baju di tubuh Fina. Matanya memicing, membuat penilaian. “Lucu.”
“Kamu mau?” Lindy menawarkan.
“Aku gak bawa uang banyak, Kalin.” Fina menolak.
“Tapi kamu suka gak?”
Fina mengangguk.
“Kalau suka harus dimiliki. Biar aku yang bayar.” Lindy berbaik hati.
“Beneran, Kalin?” Fina merasa tak enak hati. Lindy terangguk. Fina memeluk tubuh Lindy erat, berterima-kasih.
Fina keluar dari toko dengan menjinjing tote-bag kertas berisi baju yang baru saja dibelikan Lindy. Dibibirnya terukir senyum. Ia senang sekali hari ini. Fina dan Lindy berjalan untuk membeli es-krim. Tiba-tiba kesenangannya seharian ini runtuh begitu saja saat melihat seorang cowok yang sedang berjalan beriringan dengan sesosok perempuan. Win dan Felisha. Mereka berpapasan. Lidah Fina rasanya kelu, tak bisa berkata apa-apa. Win pun hanya terdiam. Tampkanya ia pun tak menyangka akan bertemu Fina di sini. Sebaliknya, Felisha malah tersenyum senang dan memaksa menggangdeng tangan Win.
“Are you OK?” tanya Lindy yang merasa Fina memiliki hubungan dengan cowok yang baru saja di laluinya.
Fina memaksa tersenyum. Ia tak mau merusak kebahagiaannya seharian ini.
“I’m OK” Fina berbohong. Mereka bergegas ke gerai es-krim.
“Kamu pasti mau pesan es-krim rasa stroberi. Ya, kan?” tebak Lindy.
Fina terengang. “Kok Kakak tahu?”
Lindy melirih pelan. “Kakak peramal.”
Tentu saja Fina tak percaya dengan ucapan Lindy. Ia masih bingung mengapa Lindy bisa mengetahui rasa es-krim kesukaannya. Tapi, sesaat kemudian ia sudah melupakan itu.
“Kamu tunggu sini, ya. Biar Kalin pesenin.” Lindy berbaik hati.
Fina menunggu Lindy yang tengah memasan es-krim untuk keduanya. Ia duduk menopang dagu, melamun. Kenapa harus Felisha? Satu pertanyaan itu tebesit di kepala Fina. Bibir Fina melengkung ke bawah. Apakah hubungannya dengan Win akan benar-benar berakhir?
Lindy datang membawa 2 cup es-krim stroberi. Fina menegakkan tubuhnya, menunjukkan senyumnya.
__ADS_1
“Its OK to not be OK. Kalau sedih ya sedih aja. Gak usah ditolak. Kita manusia yang kaya akan emosi, bukan robot. Nih.” Lindy memberikan satu es-krim di tangannya ke Fina yang disertai wejangan melihat Fina bersedih.
Senyum Fina hilang saat mendengar perkataan Lindy. Ia menunjukkan perasaannya saat ini.
“Aku sendiri gak tahu kenapa aku sedih,” tutur Fina dengan lemas.
“Cowok yang tadi itu teman kamu?” Lindy membahas Win.
Fina mengangguk.
“Kamu suka, ya sama dia?” tebak Lindy.
Fina kaget mendengar pertanyaan Lindy. Ia hanya mengedikkan bahu.
“Cewek yang sama dia pacarnya?”
Fina mengedikkan bahu lagi. Barangkali mereka sudah berpacaran sekarang. “Tapi kayaknya sih mereka nggak pacaran.”
“Kalau bukan, kok masih lemas-lemasan begini? Gapai dong.” Lindy memberi semangat. Sesendok es-krim masuk ke mulutnya.
“Kalin, aku mau nanya deh.” Tiba-tiba terbesit satu pertanyaan di benak Fina.
“Apa?” Lindy menjawab ramah, mempersilahkan.
“Kalau Kakak suka sama orang, tapi ada risiko yang menanti, Kakak bakal lakuin apa?”
“Hm...” Lindy tampak berpikir untuk beberapa saat. “Itu tergantung kamu. Yang jelas, kehilangan orang itu juga adalah sebuah risiko. Its your choice.”
Hati Fina tergugah mendengar jawaban Lindy. Mungkin kehilangan Win adalah risiko terbesar yang Fina miliki saat ini. Fina tak bisa membayangkan hidupnya tanpa Win. Masihkah ada orang sebaik Win yang siap menemaninya melewati periode-periode kehancuran?
“Kalau risikonya Kakak akan dijauhi orang-orang hanya karena mereka tahu siapa Kakak sebenarnya?”
“Kalau kakak dijauhi orang-orang hanya karena Kakak menjadi apa adanya, Kakak akan bersyukur. Karena kakak jadi tahu orang-orang yang benar-benar tulus sayang sama Kakak, sama yang engga. Just be who you are selagi itu bukan kesalahan, Fina.”
Fina mendapat pencerahan dari Lindy. Tiba-tiba ia merasa naif atas sikapnya beberapa hari terakhir terhadap Win. Mengapa ia harus menghindar dari Win hanya karena ancaman Felisha? Hanya karena Fina takut akan pemikiran orang. Seperti yang diucapkan Lindy, bukankah lebih baik kita menjadi diri sendiri selagi kita tak berbuat salah? Ucapan orang itu tak penting. Mengapa Fina harus takut dijauhi orang-orang kalau ia punya Win yang menerimanya apa adanya.
“Makasih, Kalin.” Fina kembali tersenyum. Senyum yang jujur. Jawaban Lindy amat sangat membantu. Ia melanjutkan menghabiskan es-krimnya.
... ***
...
__ADS_1