Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?

Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?
Permintaan Maaf


__ADS_3

Fina yang sedang menikmati makan siang dengan nasi goreng nanas bersama Bapak di meja makan, mendegar suara ketukan dari pintu rumahnya. Fina menghentikan gerakan Bapak yang hendak membukakan pintu, membiarkan dirinya saja yang melakukan hal itu.


Fina bergegas untuk membukan pintu. Senyumnya spontan menghilang saat melihat sosok yang mendatangi rumahnya siang hari begini.


“Felisha?” Fina tergagap-gagap.


“Hi.” Felisha menyapa. Lama mereka tak bertemu.


“Dan...:” Fina melirik seorang wanita yang datang bersama Felisha.


“Saya mamanya Win.” Kate bisa melihat kebingungan Fina.


“Tante...” Fina dengan santunnya menyalami tangan Kate.


“Siapa Fin?” Bapak tiba-tiba muncul menghampiri mereka.


“Mama, Win, Pak.”


“Oh, Win yang waktu itu pernah kesini? Yang bisikin bapak tentang...” Bapak heboh sendiri. Namun, ia memilih untuk tak melanjutkan kalimatnya. “Mari masuk, Bu.”


Mereka duduk bersama di ruang tamu. Suasana hening beberapa saat.


“Ada apa, ya, Tante?” tanya Fina memecah keheningan.


“Begini, Fina. Kedatangan Tante kesini untuk meminta maaf soal percakapan waktu itu. Tante harap kamu tak memasukkannya ke hati.” Tiba-tiba Kate meraih tangan Fina dengan tulus. “Tante udah salah menilaimu, Fina. Mendengar ceritamu seutuhnya, Tante yakin kalau kamu adalah sosok yang tangguh.”


Fina hanya bisa terdiam. Sedari kecil kita memang selalu diajarkan untuk memaafkan. Namun, kenyataannya memaafkan tak semudah itu. Luka tak bisa disembuhkan dalam sekejap hanya dengan sepatah kata maaf.


“Aku juga minta maaf, Fina. Aku sudah bersikap jahat ke kamu. Gak seharusnya aku melakukan hal-hal bodoh seperti itu.” Felisha menyusul dengan permintaan maafnya.


Fina bukan tipikal orang yang sulit memaafkan. Tapi, perlakukan mereka dahulu meninggalkan luka batin yang hingga kini masih bisa Fina rasakan dampaknya. Otaknya merekam semua perlakuan mereka terhadapnya. Dan rekaman itu akan terus melekat di ingatannya seumur hidup. Mungkin, luka fisik bisa disembuhkan dengan obat-obatan tanpa meninggalkan bekas. Tapi, luka batin berbeda. Ia bagaikan gelas yang ketika di pecahkan, meski sudah disambungkan kembali dengan lem perekat, retakannya masih terlihat.


“Beri saya waktu untuk mempertimbangkan.” Fina melepas tangannya dari genggaman Kate.

__ADS_1


“Tante mengerti. Pasti tak mudah untuk kamu memaafkan. Tapi hanya ini yang bisa kami lakukan.” Kate memaklumi keputusan Fina. Ketulusan maaf yang Kate ajukan hanya Tuhanlah yang tahu. Felisha mengangguk, sependapat dengan Kate.


“Soal, Win. Dia mengambil kuliah di Washington, Fin. Dia sepertinya sangat hancur belakangan ini karena jauh darimu, sampai mencari tempat pelarian di luar negeri. Beberapa hari lalu dia baru pulang ke Indonesia. Besok, Win akan kembali ke Washington. Lebih baik kamu temui dia dulu,” Felisha memberi informasi terkait Win.


Fina hanya termenung. Ia merasa bingung dengan perasaannya sendiri kalau terkait dengan Win. “Beri saya waktu.”


Percakapan mereka berakhir. Fina butuh seseorang yang dapat memberinya solusi. Dan Fina rasa sepertinya ia tahu siapa orang tersebut.


...***...


Malam hari. Fina mengajak Gerald untuk menghirup udara segar. Mereka berdua berjalan beriringan di street-food. Fina mengenakan sweater dengan kuncup yang menutupi kepalanya, membuat ia tampak imut.


“Ada apa? Tumben ngajak jalan malam-malam?” Gerald sudah menyangka ada hal penting yang ingin Fina bicarakan padanya.


“Ini soal Win. Besok dia akan pergi ke Washington. Dan entah mengapa, rasanya berat untuk membiarkannya begitu saja. Seperti ada sesuatu yang akan hilang. Meskipun, mungkin sekarang aku bukan siapa-siapanya lagi.”


“Apa kamu menyukainya? Maksud Dokter, masih menyukainya?” tanya Gerald langsung menuju inti permasalahan.


“Kalau begitu, selesaikan dulu. Biar lega. Temui dia.”


“Kalau Dokter gimana?” Fina spontan bertanya seperti itu, membuat kecanggungan merebak.


“Ma-maksudnya?” Gerald terbata-bata.


“Hm... Gimana, ya, jelasinnya.” Fina salah tingkah. Maksud Fina adalah prihal perasaan. Namun sekejap lidahnya menjadi kelu. “Dokter anggap aku apa?”


Gerald tergelak mendengar pertanyaan Fina.


“Kok ketawa?” Fina heran yang disertai dengan sedikit malu.


“Kamu mau aku anggap apa?” Kaki Gerald berhenti. Matanya menyorot mata Fina.


“Hm... Adik?”

__ADS_1


“Kalaau gitu, sekarang kamu adikku.” Gerald mengacak-acak rambut Fina.


“ES KRIM STROBERI!” Fina gugup dan mengalihkan perhatian dengan menunjuk penjual es-krim di dekat mereka.


“OOO... Sepertinya kita harus menghabiskan satu gerobak penuh.” Suara Gerald meninggi. Ia menatap gerobak es-krim itu dengan mata sipit dan lidah yang mengulum bibirnya.


Fina berlari lebih dulu menuju letak gerobak es-krim itu.


Fina memesan satu cone es-krim stroberi dengan amat ceria.


Gerald mengamati wajah bahagia itu. Bibirnya mengukir senyum.


Kebahagiaanmu adalah prioritasmu, Fina. Aku akan selalu support apapun pilihanmu. Gerald membatin.


“Mas, mas, ini es-krimnya.” Penjual es-krim berusaha untuk membuat Gerald tersadar dari lamunannya.


“Gak mau, Bang, dia. Biar buat saya aja.” Fina merebut es-krim yang seharusnya untuk Gerald. Kini, ada dua cone es-krim di genggaman cewek itu.


“Yee... Itukan punya Dokter!” Gerald protes.


“Lagian bengong mulu. Mikirin cicilan, ya?” Ffina menjilat dua es-krim di tangannya secara bergantian.


“Buatin satu lagi ya, Bang.” Gerald memesan satu es-krim.


Setelah mendapatkan es-krim yang ia mau, pria itu iseng memberikan noda di hidung Fin dengan es-krim stroberi di tangannya.


“Ah... Dokter!!” Fina mengeluh dan menyeka hidungnya yang terdapat lelehan es-krim.


Gerald tertawa cekikikan. Tawa itu... Apakah nyata? Atau hanya fatamorgana?


...***


...

__ADS_1


__ADS_2