
Fina berdiri tegap di kamarnya seraya memegang secarik kertas yang berisi bait demi bait puisi yang telah dibuatnya. Acara perpisahan tinggal menghitung hari. Sesekali muncul keraguan dalam dirinya. Beberapa hari lagi ia akan menerobos dinding penghalang yang selama ini mengungkungnya.
Fina mengambil ancang-ancang. Suasana hatinya mulai larut dengan makna puisi itu. Wajahnya berekspresi. Bibir Fina berucap, mengeluarkan suara yang berat nan nyaring.
Mereka bilang saya gila...
Tapi mereka tahu apa?
Mereka bilang iman saya yang kurang..
Tapi mereka siapa?
Pandangan fina mengedar. Tangannya bergerak. Ia berimajinasi di depannnya terdapat kerumunan orang yang menontonnya.
Bukannya tak apa-apa untuk merasa tak baik-baik saja?
Biarkan air mata menjadi tanda kalau kita manusia
Tak ada hukum yang melarang duka.
Ketahuilah, kamu berharga.
Mulut-mulut kosong itu...
Anggap saja angin lalu..
Fina selesai membaca puisi. Latihan yang baik. Tapi suasana akan berbeda ketika ia berada di atas panggung sungguhan. Mengingat itu, kecemasan muncul lagi. Fina tak mau membayangkan kejadian buruk.
Hanya sebentar, Fina. Lo pasti bisa. Tenang... Fina bergumam sendiri, meyakinkan dirinya.
Ia menghembuskan napas lega. Sesi latihan usai. Fina harus menyiapkan mentalnya dan belajar mengontrol kecemasannya untuk acara perpisahan nanti.
...***
...
Waktu begitu cepat berlalu. Saat yang dinanti tiba: Acara perpisahan SMA Bina Antaraga. Para siswa terlihat amat gagah mengenakan jaz hitam disertai dengan dasi yang melilit leher-leher mereka. Para siswi tak mau tersaingi. Mereka tampak elok nan anggun dengan gaun kebaya. Acara tersebut diselenggarakan di salah satu gedung megah. Para Orang-tua turut hadir, menjadi saksi kelulusan putra-putri mereka. Termasuk bapak Fina.
Acara tersebut di buka dengan sambutan dari kepala sekolah. Kemudian, berlanjut ke pemberian medali. Satu demi satu siswa naik ke atas panggung untuk mendapatkan kalung medali dan melakukan sesi foto.
__ADS_1
Fina tampak menawan dengan gaun kebaya pink yang melekat di tubuh rampingnya. Pink warna kesukaannya, maka dari itu ia memilih warna tersebut untuk hari spesial ini. Sejak langkah pertama ia memasuki gedung itu, pikirannya sudah stuck di penampilan puisi yang akan ia bawakan. Kakinya mulai bergetar. Fina menantang dirinya untuk tidak minum obat cemas hari ini.
Fina di kursinya, terduduk kaku. Ia sedang menunggu giliran pengalungan medali itu. Tiba-tiba pandangannya mendapati Gerald dan Lindy di barisan khusus para wali. Gerald dan Lindy melambaikan tangan sambil tersenyum simpul melihat Fina. Fina memaksa tersenyum balik. Padahal sebenarnya ia sedang mengontrol napasnya untuk meminimalisir cemasnya.
“You are so beautiful, Fina.” Lindy bersorak.
“Im proud of you, Fina...” Gerald mengikuti.
Gilirannya tiba. Fina berjalan ke atas panggung untuk pengalungan medali. Matnya mengedar ke sekitar. Banyak sekali orang, Yang Fina pikirkan hanya satu: Apakah ia bisa membaca puisi di depan ratusan orang itu? Seketika ketakutan menyerangnya. Pikiran-pikiran buruk berkelebat. Bagaimana jika dia berbuat salah? Bagaimana jika orang-orang menertawakannya? Bagaimana jika penampilannya berakhir hancur?
Fina mulai kewalahan menghadapi cemasnya. Sampai akhirnya sesi pertunjukan tiba. Kecemasan Fina memuncak. Penampilan pertama di isi oleh seorang siswi yang bernyanyi solo. Riuh tepuk tangan membanjiri saat kata terakhir dari lirik lagu yang ia nyanyikan selesai dilantunkan. Pertunjukkan kedua dimiliki oleh seorang siswa yang ber-stand up comedy. Seisi gedung dibisingkan dengan gelak-tawa. Semua orang terkekeh. Kecuali Fina, ia masih sibuk mengontrol napasnya. Setelah ini gilirannya tiba.
Nama Fina diucapkan oleh pembawa acara. Fina menutup mata sejenak, mencoba tenang lalu bergegas ke atas panggung dengan membawa secarik kertas bertuliskan puisi ciptaannya. Tepuk tangan sudah lebih dulu menyambut. Felisha, Helena dan Devi berdiri antusias saat melihat Fina, seorang siswi yang mengidap kecemasan sosial, berhasil masuk perangkapnya untuk tampil di depan ratusan pasang mata.
“Ho!!!! Go Fina go Fina go!” Felisha dan kedua temannya berteriak heboh. Yang mana justru membuat Fina semakin merasa tak nyaman di atas panggung.
“You can do it, Fina.” Lindy menyemangati. Fina mendengar suara itu meski dari kejauhan.
Fina menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mulai mengatur intonasi suaranya dan membacakan puisi di secarik kertas di tangannya.
Mereka bilang saya gila...
Tapi mereka tahu apa?
Mereka bilang iman saya kurang...
Tapi, mereka siapa?
Bait kedua juga berjalan mulus. Beralih ke bait berikutnya.
Bukannya tak apa-apa untuk tak baik-baik saja?..
Biarkan...
Fina tersendat. Bibirnya berhenti berucap. Suara-suara orang-orang yang seakan memprovokasinya menyeruak ke telinganya.
Dasar aneh!
Memangnya anak umur 18 tahun masalahnya seberat apa sih?
__ADS_1
Si paling drama
Kamu itu banyak masalah, Fina. Tante gak mau hal itu mempengaruhi Win.
Kata-kata itu... Kata-kata yang pernah Fina dapatkan dari orang-orang yang hanya bisa bicara tanpa berpikir meruntuhkan kepercayaan diri Fina di atas panggung.
Fina mengedarkan pandangannya ke orang-orang di depan matanya. Felisha, Helena, Devi, Mama Win, mereka semua hadir disini dan sontak membuat Fina takut. Fina benar-benar hilang konsentrasi total. Kepalanya terasa sakit. Kata-kata dari mereka terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Pandangan Fina buram. Kakinya lemas. Fina tak bisa melanjutkan membaca puisi.
“Sorry..” Fina pergi menuruni tangga dan berlari. Felisha tersenyum penuh kemenangan. Rencananya sukses. Ia mulai memprovokasi penonton untuk menyoraki Fina.
“Hoooo!!!” Felisha memimpin. Siswa-siswi mengikuti. Gedung itu sekarang dipenuhi olrh sorakan kekalahan untuk Fina.
“Kecewa!”
“Malu-maluin!”
“Banyak drama!”
Beberapa siswa melontarkan kata-kata tak enak di dengar.
Fina berlari seraya menangis menuju toilet. Namun, belum sampai toilet kakinya sudah lemas lebih dulu. Ia membiarkan tubuhnya terjatuh di lorong sepi. Fina menumpahkan semua air matanya atas kegagalannya kala ini.
Suara langkah kaki mendekat. Seseorang berjongkok dan menyodorkan secarik tisu pada gadis yang sedang rapuh di sisi lorong itu. Fina menoleh. Seperkian detik ia termenung melihat sosok di hadapannya. Saat ini ia hanya ingin memeluk orang itu. Fina memeluk Geralad, mengabaikan tisu yang diberikan cowok itu.
Fina tersedu-sedan di pundak Gerald. Gerald mengelus punggung Fina, menenangkan.
“Its okay..” Gerald dengan suara teduhnya melirih. “Tadi itu kamu sudah hebat.”
“Ma-af Dok... Aku gagal.” Fina berkata putus-putus.
“Fine... Aku akan selalu ada di sini, membantu kamu keluar dari ini semua,” kata Gerald.
Hari itu, mungkin Fina gagal untuk tampil di hadapan ratusan pasang mata. Tetapi, ia selalu percaya. Masa depan akan lebih bersinar. Ia akan terus bertumbuh, menjadi sosok yang lebih kuat.
Hari itu juga, Win menyaksikan Gerald dan Fina di lorong yang tengah berpelukan. Fina tampak begitu tenang di pelukan Gerald pasca kejadian barusan. Win mulai sadar dan bersikap dewasa. Sekarang usianya menuju 19 tahun. Perubahan pola pikir terjadi sebagai bentuk kedewasaan. Sikap kekanak-kanakkannya terkikis sedikit demi sedikit. Sekarang ia sadar, Fina lebih membutuhkan siapa.
...***
...
__ADS_1