Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?

Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?
Hari Kesehatan Mental Sedunia


__ADS_3

Fina salah fokus ketika ia tak sengaja melihat tanggal di layar ponselnya yang menunjukkan tanggal 9 Oktober 2020. Besok akan menjadi 1p Oktober 2020. Ada apa dengan hari tersebut? Besok adalah hari kesehatan mental sedunia. Fina tak pernah melupakan hari itu. Karena setiap tahun dia selalu merayakannya. Melakukan hal-hal yang sangat membahagian baginya. Seperti solo traveling, membeli banyak barang-barang baru, mencoba makanan-makanan enak dan lain sebagainya.


Tapi untuk yang kali ini, ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Yang lebih bermanfaat untuk orang lain, bukan hanya untuknya. Tetapi apa? Fina duduk sejenak di kasurnya, memutar otak. Pandangannya tak sengaja melihat sampul buku karya Lindy yang diberikan padanya saat perilisan buku tersebut. Judul buku itu membuahkan ide untuk Fina. “Tak usah malu menjadi diri sendiri.” Fina ingin membuat orang-orang dengan berbagai masalah mental untuk lebih percaya diri. Untuk bisa menginjak dunia tanpa harus merasa malu. Untuk bisa mendapatkan teman tanpa takut penolakan. Untuk bisa sharing ceritanya dan meyakini kalau tak apa-apa untuk tak baik-baik saja.


Fina sudah memikirkan besok ia akan melakukan apa. Fina juga sudah mengabari teman-teman SMA untuk membantu mensukseskan rencananya.


Seulas senyuman berseri di bibir Fina. Ia tak sabar untuk hal spektakuler besok. Fina harap dunia bisa meliriknya.


“Its gonna be end.” Fina bergumam sendiri dengan intonasi penuh api membara.


Fina yang sudah mengenenakan piama, beranjak tidur.


...***


...


Hari ini tanggal 12 Oktober 2020 yang dimana merupakan peringatan hari kesehatan mental sedunia. Fina, Letta, Fuji dan Yola sudah berkumpul di salah satu parkiran di tepi jalan besar dengan membawa beberapa kertas karton dan masing-masing memiliki tulisan.


Sekarang sudah pukul 11:00 pagi. Ibukota sedang ramai-ramainya. Seharusnya mereka sudah bisa melakukan rencananya, karena orang-orang yang Fina hubungi kemarinmalam sudah terkumpul semua.


“Nunggu apa lagi?” tanya Fina pada teman-teman ceweknya.


“Bentar masih ada yang belum datang.” Letta menunda.


“Nah, itu dia.” Yola menunjuk ke satu arah, yang sontak membuat teman-temannya langsung menoleh bersamaan.


Serentetan cowok dengan masing-masing membawa gulungan karton tengah berjalan mendekat. Hersa, Dery, Ahdan dan... Win? Oh Tuhan... Ini kali pertama lagi Fina bertemu dengan Win setelah berbulan-bulan lamanya. Ingin sekali Fina menanyakan kabarnya, tapi Fina terlalu canggung. Win semakin tampan.


“Gue yang ngajak mereka. It’s OK kan?” ucap Fuji setelah melihat keterkejutan Fina.


Fina hanya mengangguk.


Setelah semuanya berkumpul. Tanpa ingin berlama-lama dan segera mengakhiri kecanggungan antar Fina dan Win, Fina menginterupsi untuk memulai rencananya.

__ADS_1


“Tunggu...” Baru saja Fina ingin bergerak, suara bariton seseorang menghentikannya.


Gerald dan Lindy. Mereka berdua tengah berjalan menghampiri. Lindy melambaikan tangan pada Fina, tampak begitu ceria. Gerald terlihat keren dengan jaket kulit berwarna hitam yang sepadan dengan kaca mata anti matahari yang di pakainya. Mereka berdua tidak membawa karton, melainkan banner. Pasti salah satu dari temannya ada yang memberitahu mereka.


Setelah semua personil terkumpul, Fina menginterupsi. “Are you ready guys?”


“Ready.” Jawab mereka dengan serempak.


Mereka mulai berpencar ke beberapa titik dengan membawa kartonnya masing-masing.


Dery berdiri di tengah jalan, membuka lebar kertas kartonnya bertuliskan: Gak pa-pa buat gak baik-baik saja.


Lalu, Fuji yang berada di tepi jalan membuka kartonnya yang betuliskan: Stop buat penderita depresi semakin cemas karena stigma tak jelas.


Ahdan membuka kartonnya yang bertuliskan: Depresi bukan berarti kurang iman.


Begitu juga dengan Yola dengan kartonnya yang bertuliskan: Hancurkan stigma negatif soal kesehatan mental.


Juga Letta dengan kartonnya yang bertuliskan: Kamu tidak sendiri.


Win membuka karton miliknya yang bertuliskan: Depresi bukanlah sebuah kesalahan.


Kemudian Fina. Cewek itu mengangkat tangannya tinggu-tinggi, lalu merentangkan karton milikya yang bertuliskan: Saya penderita social anxiety. Dan sekarang saya sadar kalau saya good enough.


Dan terakhir Lindy dan Gerald dengan bannernya yang berukukuran sekitar 10 meter kali 5 meter mengibarkannya di penyeberangan jalan lalu mengikatnya. Banner mereka bertuliskan: Ke Psikolog bukan berarti kamu aneh.


...***...


Kegiatan mereka berakhir dengan acara makan-makan yang ditraktir Gerald. Mereka makan di sebuah cafe tepi jalan. Fina duduk dengan teman-teman ceweknya di satu meja, Win dengan komplotannya sedangkan Gerald dengan Lindy di meja lain.


Fina izin ke toilet kepada teman-temannya. Saat menuju ke sana, ia berpapasan dengan Win yang baru saja dari toilet. Kecanggungan merebak. Fina menunduk, tak kuasa menatap wajah Win. Fina terus berlalu, tiba-tiba dari arah belakang tangannya dicengkram. Fina terkejut. Win?


“Mau ikut.” Rupanya Letta. Fina melirik ke arah Win yang sudah ada di kursinya. Dia terlalu berharap.

__ADS_1


Fina mengangguk kepada Letta, kemudian mereka berdua ke toilet.


Fina memesan dimsum. Selama memakan itu, sesekali ia melirik ke arah Win yang duduk di seberangnya yang sedang mengobrol bersama teman-teman cowoknya. Ralat. Bukan sesekali, tetapi sering sekali


. Win tak sengaja menangkap Fina yang sedang melihatinya. Fina buru-buru mengalihkan pandangannya, lalu Win kembali ke kesibukannya: Mengobrol.


Rasanya hancur sekali hati Fina melihat mereka yang dulu akrab, sekarang menjadi asing. Tetapi Fina harus bisa menerima kenyataan, meskipun pahit dan sulit.


Mereka hendak pulang namun diluar kafe turun hujan. Fina berdiri mematung di depan halaman kafe seorang diri, menyaksikan rintik-rintik hujan yang berjatuhan. Sepotong kenangan kembali terputar di kepalanya. Moment ketika Fina dan Win terjebak hujan lalu Win menyelimuti tubuh Fina dan tubuhnya dengan satu jaket supaya mereka tak kedinginan.


-Flashback-


“Fin... “ panggil Win.


“Hmm?” Fina menoleh. Jarak wajah mereka dekat sekali.


“Jangan tinggalin aku, ya? Aku sayang banget sama kamu,” kata Win penuh ketulusan.


Fina tersenyum. “Bahkan aku pun ragu bisa tinggalin kamu atau enggak.”


Tanpa Fina sangka Win mengecup pipi Fina, membuat Fina terpaku seketika.


Pikiran Fina mengingat kembali percakapan dan kecupan itu. Fina tersadar, kembali ke dunianya yang sekarang. Menerima kenyataan kalau hubungan mereka tak semanis dulu.


Tiba-tiba, seseorang memberikan jaketnya kepada Fina, nyaris seperti yang Win lakukan dulu kepadanya. Bedanya kali ini Fina memakai jaketnya seorang diri. Fina menoleh. Orang itu adalah Gerald.


“Dingin, Fin. Masuk dulu, yuk. Nanti sakit. Hujannya masih deras. Nanti kalau udah agak reda, kita pulang.” Gerald membujuk Fina kembali ke dalam kafe, layaknya membujuk anak kecil.


Fina menurut. Ia masuk ke dalam kafe. Teman-temannya sudah lebih dulu pulang, menyisakan dirinya, Gerald dan Lindy. Mereka bertiga seperti sebuah keluarga kecil. Mimpi apa Fina bisa akrab dengan psikolog berpendidikan dan penulis terkenal.


...***


...

__ADS_1


__ADS_2