Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?

Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?
Konsultasi


__ADS_3

Fina duduk di sofa panjang. Wajahnya seakan membawa berita tak baik. Dihadapannya sudah terduduk Dokter Gerald yang sudah memasang telinganya baik-baik.


“ Ada apa Fina? Kok wajahnya kusut begitu?” tanya Gerald. Ia antara kasihan dan gemas melihat ekpresi itu keluar dari wajah bening Fina.


“Sekarang satu sekolah sudah tahu, Dok. Ada yang menyebarkan terkait kondisi aku. Aku takut, Dok. Aku gak mau kembali ke sekolah. Aku takut dianggap aneh, gila, atau apapun itu. Aku takut dengan perkataan mereka, pandangan mereka terhadapku, pemikiran mereka. Gak ada emosi lain yang aku rasakan selain rasa takut.” Fina berkata dengan cemas, dengan nada berlari-larian.


“Tenang, Fina, tenang... Sekarang pertanyaannya, samua yang kamu katakan itu, itu menurut siapa?”” Gerald mencoba menenangkan napas Fina yang memburu.


Fina terdiam sejenak. Tak bisa menjawab.


“Stigma di masyarakt begitu adanya.”


“Gini, Fina. Pemikiran orang lain terhadap kamu itu, adalah bergantung dengan kamu memberi makna apa kepada tatapan mereka. Kalau kamu memberi makna tatapan mereka kepada kamu adalah sebuah kebencian, maka itu yang kamu yakini. Tapi kalau kamu memberi makna kalau mereka menyukaimu, kamu akan merasa lebih percaya diri” jelas Dokter Gerald. Fina menyimak dengan baik.


“Tapi, kalau aku anggap mereka menyukaiku, apa itu artinya aku membohongi diriku sendiri?”


“Balik lagi ke bagaimana kamu memandang diri kamu. Apakah kamu memandang diri kamu yang aneh? Atau keren karena kamu bisa melewati semua ini.”


Fina manggut-manggut. Seperti ada setitik cahaya kembali di dalam dadanya.


“Kalau kamu besok cemas, kamu bisa coba makan permen karet biar lebih relaks.” Gerald menyarankan.


Sesi konsul berakhir. Fina merasa sangat beruntung bertemu orang-orang seperti Dokter Gerald. Jasanya begitu besar, bahkan tak bisa disandingkan dengan rupiah. Rasanya Fina ingin mengungkapkan sejuta sayang kepada Gerald, namun hanya sebatas hubungan Dokter dan pasiennya.


...***


...


Fina memaksakan kakinya untuk terus melangkah maju. Rahangnya bergerak, mengunyah sesuatu. Permen karet. Barangkali benda itu bisa melenturkan otot-ototnya. Fina menyapu lorong sekolah. Orang-orang di sisi kanan-kirinya tentu saja mengalihkan perhatiannya sejenak pada gadis yang sejak kemarin menjadi perbincangan itu.

__ADS_1


Fina terus berjalan di tengah tatapan tajam siswa-siswi bak pisau belati. Fina melewati 2 orang cowok yang saling berhadapan, mengobrol.


“Anak umur 17 tahun emang masalahnya seberat apa sih?” cowok itu menyunggingkan senyum miring, meremehkan. Cowok dihadapannya hanya tersenyum menyeringai.


Kaki Fina sempat reflek berhenti saat mendengar celetukan itu. Tetapi kemudian ia kembali meneruskan langkahnya. 'Benar kata pepatah. Orang gak akan pernah mengerti, sebelum mereka merasakannya sendiri.' Fina bergumam dalam hati. Permen karet di mulutnya mulai kehilangan rasa.


Cibiran-cibiran terkait kondisi mental Fina tak hanya datang dari satu-dua orang. Mereka tak menganggap serius apa yang Fina alami. Mereka tak paham betapa pentingnya kesehatan mental seseorang. Negara ini butuh pemahaman lebih terkait kesehatan mental.


Fina pergi ke kantin sendiri. Untuk saat ini rasanya ia ingin melakukan segala sesuatu serba sendiri. Ia pun mengatakan hal tersebut kepada Win.


Fina melintasi satu meja. Satu meja yang dihuni 3 orang perempuan yang sukses membuatnya terdiam mematung. Salah satu dari siswi itu adalah teman dekat Fina saat kelas 10. Tetapi mereka sudah tak lagi bersama semenjak hilangnya Fina di kelas 11 karena masalah mental yang di deritanya. Saat kelas 11, Fina masih bersekolah. Namun saja ia berubah jadi sosok yang pendiam, pemurung dan jarang terlihat. Sesuatu yang bisa disebut ‘hilang’.


“Sahabat lo, tuh, temenin,” ucap salah satu cewek kepada Tari sembari melirik Fina.


Tari memasang ekspresi berlebihan, seolah tak terima disebut sahabat. “Sahabat? Takut banget, loh. Dia aneh sekarang.”


Teman-teman Tari tertawa melihat respon Tari yang berlebihan.


Fina menuju ke salah satu meja kosong. Ia duduk disana. Seorang diri. Dari meja tempat Win biasa berkumpul dengan teman-temannya, Win dapat melihat Fina yang sedang duduk sendiri. Cowok itu teringat pesan Fina yang menginginkan waktu sendiri. Tetapi, tetap saja, siapa yang tega melihat orang yang disuka merasa kesepian di tengah kebingaran.


Win bangkit dari kursinya, berniat untuk menghampiri Fina. Tetapi tindakannya tiba-tiba ia urungkan saat melihat Fuji dan Letta mendekati gadis itu. Win tersenyum. Seperti ada angin sejuk di dadanya. Lega sekali. Ia sangat berterima-kasih kepada Fuji dan Letta.


“Hi, Fina...” Letta menyapa Fina dengan ceria.


Fina tersenyum. “Hi...’


“Kita boleh duduk di sini kan?” Fuji meminta izin.


Fina terangguk. Kedua cewek yang sudah lama bersahabat itu duduk di sisi kanan dan kiri Fina.

__ADS_1


“Mau pada pesen apa? Sini biar gue yang pesenin.” Letta menawarkan dengan baik hati. Letta adalah cewek paling peka seantero sekolah Setia Bakti. Hersa sangat beruntung memilikinya.


“Gue kentang goreng satu. Minumnya lemon tea.” Fuji memberikan list pesanannya.


“Lo apa?” tanya Letta pada Fina.


“Mau mie ayam aja, deh. Sama es teh manis satu.”


“Ok, tunggu bentar, ya.” Letta berkata ramah layaknya pelayan kafe. Cewek itu bergegas untuk membeli pesanan teman-temannya.


“You are stronger than you realize, Fina.” Satu kalimat itu membuat Fina menoleh ke arah Fuji. Ucapan cewek itu sukses mendarat di hatinya.


“Tuhan membiarkan kamu hidup, karena Tuhan tahu kamu bisa menjalaninya dan melewati semua permasalahan di dalamnya.” Hati Fina rasanya terenyuh mendengar kalimat Fuji. Cewek itu sukses membuat mata Fina dilapisi cairan tipis.


“Can i hug you?” Fuji menwarkan. Fina terangguk. Fuji memeluk Fina dengan penuh kehangatan.


“Thanks a lot...” Fina melirih. Fuji terangguk seraya mengusap-usap punggung Fina.


Win ingin menangis melihat moment tersebut. Persahabatan yang begitu manis. Tiba-tiba tubuhnya meleyot dan memeluk Dery yang berada di sebelahnya. Sontak, Dery dibuat terkejut dengan sikap Win yang dadakan.


“Kenapa lagi, nih, Ban dalem. Rindu Fina lo?” Dery merespon bingung.


“Oh, sekarang Dery selingkuhnya sama Win? Bilangin Fuji, ah...” Ahdan menyeringai.


Di samping itu, makanan cewe-cewek datang bersamaan dengan Letta.


“Kamsahamnida..” ucap Letta dengan bahasa korea efek kebanyakan nonton Drakor yang berarti ‘selamat makan’.


Tak mengapa kamu dikhianati satu teman. Bersyukur karena Tuhan memberitahumu siapa dia sebenarnya. Hal-hal baik akan segera datang setelah kekecewaan.

__ADS_1


...***


...


__ADS_2