Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?

Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?
Amukan Win


__ADS_3

Seorang wanita masuk ke kelas X11 IPA-2. Aura kemandirian terpancar pada sosok wanita itu. Bara api menyala-ala di dadanya, menyalurkan semangat yang membakar suasana. Wanita itu yang akrab disapa Bu Samara itu meletakkan tas jinjingnya di meja khusus untuk guru. Ketua kelas mengambil alih, memimpin doa, diikuti dengan memberi salam.


Bu Samara menuliskan beberapa nama di papan tulis yang ia ambil dari daftar nama siswa-siswi di kelas tersebut secara asal. Ada 5 nama yang di tulis berbaris di papan putih itu dengan masing-masing diberi jarak dan diberi nomor. Salah satu dari nama itu adalah Fina Amalia. Fina sempat terkejut melihat namanya terukir di sana.


“Ada 5 nama di papan tulis. Ibu akan buat kelompok dan 5 orang ini akan menjadi ketua kelompok kalian.” Bu Samara berbicara tegas. Terdengar suara diskusi siswa-siswi prihal nama-nama yang tercantum di papan tulis.


“Kelompok 1. Amar. Siapa yang mau menjadi anggota kelompok Amar? Acungkan tangan”


Beberapa siswa mengangkat tangannya. Bu Samara menanyakan nama siswa-siswi tersebut dan menuliskannya dibawah nama “Amar” secara beruntun.


“Kelompok 2. Pelita. Siapa yang mau?”


Beberapa siswa yang didominasi oleh siswi mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Nyaris setengah kelas sudah memiliki kelompok. Diakhir pembagian kelompok akan ada perataan jumlah anggota.


“Kelompok 3. Fina. Ada yang mau?”


Hening. Tak terlihat satu tangan pun terangkat. Fina merasa malu kepada dirinya sendiri.


Bu Samara menautkan alisnya, merespon. “Gak ada yang mau?”


“Lo sono..” terdengar beberapa siswa saling menyarankan.


“Kagak, ah. Takut gak benar.” Terdengar juga beberapa siswa menolak.


“Ibu kecewa sama kalian. Ibu pakai metode seperti ini supaya kalian belajar bagaimana mempercayai orang lain. Tetapi ternyata kalian sama teman sendiri aja gak percaya.” Kecewa Bu Samara. Dia melanjutkan pembagian kelompok ke nama berikutnya. Siswa yang belum dapat kelompok atau kelompok yang punya anggota lebih, akan menjadi bagian dari kelompok Fina.


'Apa mereka benar-benar menganggap aku gila? Ah, aku tak peduli. Mereka bukan dokter. Bahkan Dokter Gerald saja tak menyebut aku gila.' Gumam Fina.

__ADS_1


...***


...


Fina pergi ke rooftop bersama Win. Mereka berdiri menikmati pemandangan dari atas sana dengan tangan yang tertopang di dinding pembatas rofoftop. Wajah Fina sedikit melas. Hal ini pastilah berhubungan dengan kejadian di kelas tadi pagi.


“Andai kamu sekelas sama aku, Win. Kadang aku ngerasa kesepian.” Fina berkata sendu.


“Aku juga berharap begitu. Kadang aku juga ngerasa kerinduan di kelas gak ada kamu.” Win menggombal, tapi realita. Fina sedang tidak mood digombali. Ia benar-benar merasa malas untuk kembali ke kelas.


“Win, aku serius. Aku selalu sendiri di kelas.” Nada bicara Fina naik, terbawa emosi.


Win menegakkan tubuhnya, menghadap Fina. Cowok itu memutar bahu Fina, membuat mereka kini saling bertatapan.


“Lebih baik sendiri, kan, dari pada punya teman tapi menyakiti?” Win menaikkan satu alisnya. Fina tertegun. “Ya, walaupun manusia gak bisa hidup sendiri.”


Fina merasa lega mendengar ucapan Win. Ia tersenyum.


“Sorry, aku gak bisa 24 jam ada di samping kamu. Tapi, aku akan berusaha ada disaat kamu merasakan hal-hal seperti ini,” ucap Win membuat Fina semakin tenang.


“Kembali ke kelas, yuk. Jangan lama-lama bolosnya.” Win melirik jam tangan digital yang melingkar di tangan kanannya.


Win menarik tangan Fina, mengajak berjalan. Tetapi langkah Fina tersendat. “Takut.”


Win mendekat, memberikan Fina pelukan hangat. “Its Fine, Fina. Kecemasan itu ada dalam diri kamu, bukan kamu yang ada dalam kecemasan itu. Kamu lebih kuat. Kamu pasti bisa mengontrolnya.”


Fina terangguk, lalu perlahan kembali melangkah, menuju kelas. Win menggandeng tangan Fina, memberi kekuatan.

__ADS_1


...***


...


Bel pulang berdering. Fina berjalan meninggalkan kelas menuju parkiran. Ada Win yang sudah menanti di sana. Tanpa Fina sadari, orang-orang di belakang punggungnya tertawa menyeringai ke arahnya.


Fina terus berjalan, seakan tak terjadi apa-apa. Melewati barisan-barisan manusia.Orang-orang di balik punggungnya kompak memusatkan perhatiannya ke satu titik.


Fina tiba di parkiran. Ia tersenyum pada Win dan mempercepat langkahnya, mendekati. Win merasa ada yang aneh melihat perangai orang-orang di sekitar Fina yang memperhatikan punggung gadis itu dengan seksama.


Win membalikkan tubuh Fina. Dugaannya benar. Ada secarik kertas menempel di punggung cewek itu yang bertuliskan “SI PALING DRAMA.”(Fina memakai tas totebag).


Ekspresi Win berubah sangar dalam sekejap. Ia mencabut kertas tersebut dengan kekuatan dan meremas-remasnya.


“KENAPA KALIAN DIAM AJA NGELIAT TULISAN ITU DI PUNGGUNG DIA?” maki Win kepada orang-orang di sekitar parkiran. Kali ini Win benar-benar murka. Ia tidak bisa memaafkan. Wajah orang-orang itu seketika pias. Namun ada juga yang malah menunjukkan ekspresi tak suka kepada Win karena dianggap berlebihan.


“Bercanda, kali. Serius amat. Gak seru, ah,” celetuk salah satu cowok yang membuat Win semakin naik pitam. Win menghampiri cowok itu.


“Lo bilang itu bercanda? Lo bisa bedain gak bercanda sama merundung?” sergah Win. Urat-urat leher cowok itu terlihat jelas.


“Jawab?!” Win mencengkram kerah baju cowok di hadapannya hingga memebuat dia berjinjit kewalahan. Cowok itu seketika wajahnya memelas.


Fina yang berdiri di samping motor Win tertunduk malu atas tulisan itu.


“Sekalian kalian semua bubar!” Win membubarkan kerumunan di parkiran yang beberapa saat menonton dirinya.


Parkiran kembali kondusif. Win menyalakan motornya kemudian melaju bersama Fina.

__ADS_1


***


__ADS_2