
Fina duduk di salah satu sofa dengan kaki yang tertumpuk. Di depannya terdapat kamera-kamera yang menyorotnya dari berbagai sisi. Papan-papan lampu menjulang tinggi memberi pancaran pada wajahnya. Di hadapannya, ramai orang-orang yang tampak sibuk. Sesekali mondar-mandir, memerintah, juga berteriak-teriak.
Fina menatap salah satu kamera. Tatapannya penuh arti.
“Ketika aku berusia 17 tahun, aku didiagnosa depression disorder. Mungkin orang-orang akan bilanhg ‘Memangnya apa, sih, yang dipikirkan anak umur 17 tahun? Kamu berlebihan. Kamu tak menyayangi dirimu sendiri.’ Tapi mereka tak akan mengerti, sebelum mereka mengambil posisi.”
Fina menjeda ucapannya sejenak. Host disampingnya menyimak dengan baik.
“Untuk penderita depresi, rasanya begitu menyeramkan untuk menapakkan kaki selangkah saja dari rumah. Kita terlalu takut bertemu orang. Takut untuk bergerak. Takut untuk dipandang. Satu hal yang selalu orang depresi tanyakan pada dirinya sendiri, ‘Apa aku sudah gila?’”
Mata Fina berkaca-kaca. Host dengan pekanya menyalurkan sekotak tisu.
“Moment-moment yang sangat melelahkan. Tetapi satu hal yang aku pahami sekarang. Merasa tak baik-baik saja bukanlah sebuah kesalahan. Karena kita adalah manusia. Yang perlu merasakan sedih. Perlu merasa kecewa. Perlu merasa bimbang. Perlu merasa capek. Kita memerlukan perasaan-perasaan itu. Untuk terus memahami hal-hal baru. Untuk terus bertumbuh. Untuk menjadi kuat dan terus bertahan.”
Sontak suara tepuk tangan mengiringi dari para crew. Fina menyeka pipinya yang tanpa terasa mengalir setetes air mata.
“Luar biasa banget, Fina. Sangat inspiratif... You are strong girl...” Host menimbali.
Gerald dan Bapak yang menyaksikan Fina secara langsung di balik layar ikut terharu. Mata bapak berlinang air. Perasaan bangga menyelimuti melihat putrinya tumbuh menjadi gadis yang kuat.
__ADS_1
“Itu benaran anak saya? Yang sedang masuk TV itu?” Bapak bertanya pada Gerald dengan perasaan haru, tak menyangka.
Gerald melingkarkan tangannya di pundak Bapak. Ia terangguk. “Iya.. Itu anak Bapak. Anak Bapak Dono.”
“Tuhan... Terimakasih banyak telah memberikanku putri yang hebat.” Bapak bersyukur pada Tuhan.
“Ok, Fina. Kalau soal asmaranya gimana nih? Ada gak sih orang-orang yang berperan penting dalam proses penyembuhan kamu?” Host melemparkan pertanyaan topik lain pada Fina.
“Kalau soal asmara aku belum fokus ke situ, sih. Tapi kalau orang yang punya peran penting dalam proses penyembuhan aku, tentu nada beberapa. Ada bapak aku, psikolog aku, Dokter Gerald. Ada teman-teman aku yang baik-baik banget. Ada Win, Hersa, Dery, Ahdan, Letta, Fuji, Yola. Dan juga ada kakak aku, Kak Lindy. Aku bersyukur banget bisa bertemu orang-orang baik seperti mereka” Fina mengakhiri dengan senyuman.
“Wah... Ada banyak banget, ya, orang yang sayang sama aku. Penoton dirumah juga pasti sayang kalau bertemy orang seperti kamu,” kata Host.
Seperti Fuji yang menyaksikannya di televisi rumahnya seraya menikmati cemilan berupa kacang-kacangan.
“Good job, girl!!” sorak Fuji dengan lantang.
Berbeda dengan Ahdan yang mengajak keluarganya untuk turut menyaksikan penampilan “temannya” itu di layar televisi.
“Nah itu tuh, yang lagi ngomong, teman Ahdan. Hebat, kan?” Ahdan membangga-banggakannya pada Ibu, Ayah dan Kakak perempuannya.
__ADS_1
“Dia yang hebat! Bukan kamu! Kamu tuh punya teman kayak gitu harusnya jadi motivasi buat sukses. Ini malah kerjaannnya tidur mulu,” celetuk Ibu Ahdan yang justru malah mengomeli anaknya. Ahdan merintih kesakitan karena menerima beberapa pukulan dari Ibunya.
Sedangkan Lindy, ia yang sedang berada di busway menatap bangga “adiknya” lewat layar ponselnya. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Ia sudah menyangka sejak awal kalau Fina akan melewati fase itu dan tiba di fase ini.
“So gorgeous...” Lindy bergumam.
Selesai acara, Fina langsung menghampiri Bapak dan memeluknya. Bapak tak bisa menahan air matanya lagi untuk tidak turun. “Ibu di atas pasti bangga sama kamu,” lirih Bapak.
Mendengar itu, Fina jadi ingin ikut menangis. Setetes air mata jatuh lagi.
Setelah memeluk Bapak, Fina beralih memeluk Gerald. Entah ini untuk yang ke berapa kalinya.
“Kamu hebat, Teman Kecilku.” Gerald memuji Fina.
“Semua berkat kamu, Andro.” Fina membalas.
Hari ini penuh dengan tangisan haru. Kalau dulu Fina banyak menangis karena penderitaan, sekarang ia menangis karena rasa haru. Tuhan maha adil. Setelah deras hujan akan terbit pelangi. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa kemudian jika kita lebih dulu menyerah. Jadi, jangan menyerah. Istirahatlah sejenak jika lelah. Esok hari perjuanganmu kembali berlanjut.
***
__ADS_1