Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?

Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?
Salahkah Untuk Tak Baik-baik Saja?


__ADS_3

Fina kembali berkonsultasi dengan Dokter Gerald. Wajahnya tak seceria biasanya. Gerald bisa menebak ada yang sedang tak enak yang dia alami.


“Memangnya salah ya, Dok, untuk gak baik-baik aja?” satu pertanyaan keluar dari mulut Fina. Tatapam gadis itu sendu. Ia masih jelas mengingat perkataan Mama Win malam itu.


“Tentu tidak Fina. Kita hanya manusia. Sangat normal untuk tak baik-baik saja.”


“Tapi kenapa orang-orang disekitarku melihatku seolah ada yang salah denganku. Seolah ada banyak masalah dengan diriku.”


“Sekarang Dokter tanya. Apakah omongan orang itu penting untuk kamu Fina?”


Fina menggeleng.


“Kalau begitu abaikan saja. Omongan orang tidak mendefinisikan siapa kamu. Mereka bahkan tak mengenal kamu dengan baik. Mereka mungkin hanya melihat kamu satu-dua kali dalam semingggu. Jadi kamu tidak bisa mengklaim ucapan mereka adalah sebuah realita.”


Fina tertegun. Bahkan ia belum pernah berbicara secara langsung dengan Mama Win.


“Makasih Dok.” Fina mulai menarik senyumnya.


Ruangan hening sejenak.

__ADS_1


“Dok...,” panggil Fina.


“Ya? Ada lagi?” tanya Gerald.


“Cukup, Dok. I just wanna say... Thanks for everything.” Fina melihat betapa besarnya jasa Gerald kepadanya.


“Your welcome, Fina.. Dokter juga senang punya pasien seperti kamu.” Gerald tersenyum tipis. “Kamu pasti bisa melewati ini semua Fina. Hal baik akan segera menanti.”


“Makasih, Dok. Semua berkat dokter juga. Boleh aku minta satu permintaan Dok?” pinta Fina.


“Sure...” Gerald berbaik hati.


“Why not?” Gerald berdiri dari kursinya. Fina mengikuti. Fina mendekati dokter itu lantas memeluknya. Fina sudah menganggap dokter seperti bagian dari keluarganya.


“Its, OK, Fina. Kamu orang yang kuat.” Gerald melirih di telinga Fina.


“You make me OK, Dok.” Fina membalas.


Pelukan itu berakhir. Fina berpamitan dengan Gerald untuk segera pergi. Gerald melambaikan tangannya dengan menggemaskan seperti kembali ke seusia Fina. Fina tersenyum. Dia sangat merasa beruntung sudah dipertemukan dengan dokter seperti Gerald.

__ADS_1


...***


...


Fina tak langsung pulang ke rumah. Ia mampir sejenak ke pusara ibunya. Dia merindukan ibunya. Dan ada banyak hal yang ingin ia ceritakan kepadanya.


Fina berjongkok di samping pusara ibunya. Memusatkan pandangannya pada batu nisan yang terukir nama Ibunya.


“Bu... Ibu mau tahu gak? Sekarang aku udah bisa bikin nasi goreng nanas. Kata teman-teman aku, sih, enak. Tapi gak tahu kalau menurut ibu.” Fina berkata sendu. Matanya berlapis air.


“Aku juga ketemu sama orang-orang baik, Bu. Ada Win, ada Dokter Gerald, ada Kalin, ada Fuji dan Letta, pokoknya banyak deh.” Fina tersenyum membayangkan wajah teman-temannya yang ia sebutkan.


“Ibu gak usah khawatir. Insyaallah Fina akan berhenti hidup seperti ini, Bu. Nanti Fina gak akan perlu lagi obat-obatan. Fina gak akan nangis lagi di setiap malam. Fina gak akan lagi ngerasain sakit di leher. Fina gak akan lagi kesulitan bernapas.” Fina meyakinkan ibunya. Setetes air mata mengalir di pipinya, mengingat betapa hancurnya ia dulu. “Ibu yang tenang ya di sana. Fina sudah merelakan Ibu pergi.”


Fina menyeka pipinya. Ia beranjak pergi dari tempat itu. Ia menoleh ke belakang sejenak, melihat pusara ibunya sebelum benar-benar meninggalkan pemakaman. Bibirnya melengkungkan senyum ketegaran. Ibunya pasti bangga dengan perjuangannya untuk tetap bertahan hidup selama ini.


...***


...

__ADS_1


__ADS_2