
Kelas Win sedang menjalankan pelajaran olahraga. Cowok itu begitu gesit men-dribble bola basket di tengah lapangan dengan tangannya yang besar dan berotot. Kekalahannya kemarin oleh Gerald di Mall membuat ia lebih semangat untuk meningkatkan kemampuan melempar bola ke ringnya.
Win memakai kaos training oblong khusus untuk permainan bola basket, sehingga lengannya yang berisi terlihat jelas dari telapak tangan hingga pundak dan sedikit bulu ketiak yang menjuntai.
Fina diam-diam melihati dari tempat duduk di tepi koridor yang mengarah langsung ke lapangan. Win terlihat sangat sexy. Tubuhnya terbalut peluk. Cowok itu berlari mendekati ring dan melompat melemparkan bola basket yang mendarat dengan mulus di ring.
Win tersenyum lebar. Sesuai namanya, ia adalah seorang pemenang. Team musuh berhasil di kalahkan. Win menjabat tangan Hersa yang satu kelas dengannya, juga satu team dengannya di permainan itu.
Semesta sepertinya selalu punya mentakdirkan mereka untuk selalu bertemu. Tak sengaja, pandangan Win mendapati Fina yang memperhatikannya. Fina langsung buang muka, malu. Win menyengir. Ia meminta izin kepada Hersa untuk menghampiri Fina sejenak.
Win duduk di samping Fina dengan tubuh yang berkeringat.
“Udah berapa persen naksirnya?” goda Win dengan napas memburu, kecapekan.
“Hah?” Fina tak mudeng. Ia benar-benar hilang fokus duduk berdampingan dengan Win yang sedang mode sexy seperti ini. Kulit mereka bahkan saling bersentuhan.
“Kenapa sih kok kaku gitu?” Win menyengir melihat pergerakan tubuh Fina yang seperti robot.
“E-e-enggak.” Fina semakin terlihat salah tingkat. Ia gagal fokus dengan lengan Win yang besar.
Tiba-tiba Win melingkarkan tangannya di tubuh Fina seerat mungkin, membuat Fina hampir kesusahan bernapas.
“Biar relaks,”kata Win.
Sialnya, pelukannya itu justru membuat Fina semakin kikuk, seperti lupa cara bergerak.
“Ih, jorok.” Fina berkata datar tanpa nada. Membuat Win tertawa mendengar kekakuan itu.
“Sekali lagi, ya?” Win merentangkan tubuhnya iseng.
“GAK!” Fina menolak mentah-mentah. Bukan karena ia takut akan keringat Win, tapi karena ia takut tubuhnya semakin menyerupai robot.
Win mendekatkan tubuhnya ke Fina. Kontan Fina menghindar. Ia angkat kaki dari tempat duduknya dan Win mengejarnya. Mereka seperti bermain kucing dan anjing. Hersa yang melihat moment itu seketika jadi kangen Letta. Hersa melempar bola di tangannya sembarangan, lantas berbalik arah, berjalan menunduk.
...***...
Fina dan Win di atas motor berdua, menyusuri jalanan di sore hari yang mendung. Tanda-tanda turun hujan terlihat kentara, seolah dapat diprediksi sebentar lagi hujan akan segera membasuh bumi.
Menit-menit berlalu. Prediksi yang tepat. Hujan tiba-tiba datang secara rombongan dalam sekejap. Tanpa ada gerimis. Air air berjatuhan, mengguyur jalanan.
Win menepikan motornya saat hujan besar datang dengan dadakan. Mereka memilih meneduh di sebuah ruko kosong.Win melepas jaket yang dipakainya kemudian menggantungkannya di bahu Fina agar cewek itu tidak kedinginan. Tetapi, cewek yang dibalut jaket menolak mentah-mentah.
“Kamu aja pakai. Kamu pasti kedinginan juga.” Fina justru mengkhawatirkan Win.
“Enggak, kamu aja pakai. Nanti sakit.”
“Enggak enggak. Kamu aja yang pakai.” Mereka saling mengoper jaket itu.
“Yaudah berdua.” Win mendapatkan solusi. Ia mendekatkan tubuhnya lebih lekat dengan Fina, kemudian direntangkan jaket itu, menyelimuti tubuh keduanya.
“Hujan itu ibarat air mata ya, Win.” Fina menjulurkan tangannya, membiarkan tetesan hujan menyentuh jari-jemarinya. “Sederas apapun dia, tetap ada berhentinya.”
Win manggut-manggut. “Gak pa-pa kalau sesekali menangis. Bahkan semesta juga bisa nangis.”
Fina setuju dengan perkataan Win. Entah mengapa suasana di sini membuat mereka berbicara serius..
“Fin... “ panggil Win.
“Hmm?”
“Jangan tinggalin aku, ya? Aku sayang banget sama kamu.” Win tiba-tiba rasanya ingin mengatakan itu tanpa alasan yang pasti.
__ADS_1
Fina tersenyum. “Bahkan aku pun ragu bisa tinggalin kamu atau enggak.”
Tiba-tiba satu kecupan mendarat di pipi Fina. Fina spontan menoleh ke orang yang memberikan itu padanya. Ia sedikit terkejut dengan kejadian barusan yang secept kilat.
Win tersenyum tipis. Dia mengacak-acak pangkal rambut Fina lalu menyandarkan kepala cewek itu di bahunya. Jantung Fina berdebar. Pikirannya masih menyangkut di kecupan itu.
“Aku punya pertanyaan,” kata Win.
“Apa?”
“Pilih aku atau si Dokter.” Pertanyaan cemburu dari Win.
“Hm...” Fina tampak berpikir.
“Kok mikir, sih? Ah, males ah. Pasti kamu pilih si Dokter itu.” Win cemberut ngambek.
“Kok tahu?” Fina iseng menjahili Win.
“Tuhkan! Udah, ah, beneran males.” Kali ini Win benar-benar ngambek. Ia menyingkirkan wajah Fina dari bahunya.
“Finaku tersayang... Kamu bohong, kan? Jawab yang benar dong.” Win sedikit menunduk. Menatap mata gadis itu sambil mengcengkram wajah Fina dengan kedua tangannya. Ada sensasi gejolak yang tak nyamn di dalam hati Win.
“Iya deh, iya. Kamu. Lagian kamu nanyanya aneh-aneh aja. Dokter udah berusia 23 tahun, aku masih 18 tahun.”
“Kan bisa aja. Namanya cinta gak pandang usia.” Win mengelak.
“Tuhkan salah lagi. Jadi aku harus pilih siapa?” tanya Fina.
“Pilih aku. Titik,” tekan Win.
“Wani piro?”
“Otodidak, sih.” Fina menyunggingkan senyumnya.
“Oh otodidak... Rajin, ya, cewek aku.” Win melingkarkan tangannya di bahu Fina, mendekap. Sedangkan satu tangannya lagi memegang ujung jaket yang mensegel keduanya.
“Memangnya kita udah pacaran?” tanya Fina.
Win terdiam. “Oke aku tembak sekarang. Dear Fina.. Kamu harus mau jadi pacar aku. Mulai sekarang kita pacaran. Sah, Pak?” tanya Win tiba-tiba pada bapak-bapak ojek online yang juga sedang menunggu hujan reda
“Apanya?” pria berusia sekitar 30 tahun itu nampak kebinguan. Win memberi kode bapak tersebut untuk mengatakan sah.
“Sah...” Bapak itu menurut saja perintah Win.
“Tuhkan. Sah katanya.” Win melapor pada Fina.
“Mana ada kayak gitu? Kan aku belum bilang iya.” Fina mengelak.
“Yaudah sekarang cepetan bilang iya.”
“Jangan sekarang... Gak seru. Nanti kamu gak akan penasaran. Nanti aku kasih jawabannya setelah di rumah.” Fina menggantungkan Win.
Win berdecak kecewa. “Males ah kamu, mah. Mainnya gantung-gantungan. Untung sayang.” Win kembali mendekap Fina.
Fina sebenarnya tidak berniat untuk menggantungkan jawaban untuk Win. Tak ada yang tak mau menjadi pacar Win. Dia pun amat mendambakan posisi itu. Cewek itu hanya sedikit iseng. Ia ingin membuat Win sejenak dihantui rasa penasaran.
...***...
Fina sedang makan malam bersama Bapak di ruang makan. Seperti ada energi ceria yang menyuntiknya. Fina menghabiskan makannya sangat cepat dan lahap. Bapak sampai kebingungan melihat gellagat anak tersayangnya itu.
“Lapar, Fin?” tanya Bapak.
__ADS_1
Fina hanya menyengir, lantas terangguk.
Fina meneguk segelas air di mejanya hingga air itu kosong melompong. Ponsel di sisi kanannya mengeluarkan pemberitahuan chat masuk. Dari Win. Fina sudah berjanji untuk memberinya jawaban atas penawarannya di rumah.
“Aku ke kamar dulu, ya, Pak,” izin Fina dengan senyum menghiasi wajahnya.
Bapak hanya bisa mengiyakan.
Fina bergegas ke kamar dengan hati bak taman bunga. Ia duduk di kasurnya dan mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Fina: Iya, aku mau...
Fina mengernyitkan keningnya membaca ketikannya. Merasa ada yang aneh. Sepertinya terlalu to the point. Ia menghapus kalimat itu dan menggantinya dengan yang lain.
Fina: Win... Soal tawaran tadi... aku...
Belum sempat Fina menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponselnya. Nomornya tidak Fina kenal. Karena penasaran siapa yang menelponnya malam-malam begini, Fina menyambungkan teleponnya dengan nomor itu.
“Halo... Ini siapa?” Fina meletakkan poselnya di telinga.
“Dengan Fina?” suara seorang wanita yang tak pernah Fina dengar sebelumnya keluar dari ponselmya.
“Iya, saya Fina. Dengan siapa, ya?” tanya Fina tak mengenali.
“Saya Mamanya Win.”
Sontak Fina terperangah mengetahui dengan siapa dia berbicara. Ada maksud apa Mama Win meneleponnya malam-malam seperti ini?
“Oh, Tante, maaf. Ada apa, ya?”
“Begini Fina. Kamu tahu sendiri, kan, Win anaknya seperti apa. Dia tuh baik sekali. Terlalu baik sampai terkadang tidak menyadari kalau lingkungannya tidak baik untuknya.”
“Maksudnya apa, ya?” Fina tak mengerti arah pembicaraan Mama Win.
“Maksud saya begini, Fina. Win masih muda. Dia punya masa depan. Dia harus menghindari hal-hal yang dapat mengakibatkan masalah.”
“Singkatnya, Tante mau kamu jauhin Win. Kamu banyak masalah, Fina. Tante khawatir itu akan berdampak pada Win,” jelas Mama Win to the point.
Satu tetes air mata jatuh tanpa Fina sadari. Apakah dia seburuk itu untuk Win? Mendengar perkataan Mama Win, rasanya seperti ada hantaman tombak menancap di dadanya.
“Kamu mengerti, Fina?” suara dari seberang sana terdengar lagi.
“Iya, Tante. Saya akan menjauhi anak Tante.” Fina mematikan teleponnya.
Tubuh Fina melemas. Tetesan-tetesan berikutnya tiba di pipinya, membentuk sebuah garis. Fina menghapus kalimat yang baru saja hendak ia kirim kepada Win. Ia merasa tak perlu memberi jawaban apapun ke Win.
Kamu banyak masalah, Fina. Tante khawatir itu akan berdampak pada Win.
Fina berbaring menyamping di atas kasur. Ucapan Mama Win bagian itu terus menggentayanginya. Itu adalah kalimat paling menohok yang pernah Fina dapat dari seseorang. Rasa sakitnya tak tertandingi. Dia sangat merasa buruk. Merasa tak layak berada di sisi Win.
Tangis Fina semakin deras. Sebuah castle yang ia bangun bersama Win, tiba-tiba di-bom begitu saja. Kenangan yang telah ia cetak bersama Win, tiba-tiba dibakar begitu saja. Chemistry yang telah ia buat bersama Win, tiba-tiba dikubur begitu aja.
Win mengirimkan Fina chat Whats-App.
Win: Gimana nih jawabannya? Udah nungguin loh dari tadi sampe mau mandi tertahan.
Fina membaca chat itu tapi tak membalasnya. Ia memindahkan nomor Win ke archive Whats-app, kemudian mematikan ponselnya.
...***
...
__ADS_1