
Fina tiba di sekolah. Ia melihat orang-orang berkerumun di depan mading sekolah sambil sesekali terdengar membahas tentang perpisahan. Fina ikut penasaran. Ia melihat apa yang tertera di mading tersebut. Ternyata sebuah kertas pengumuman untuk acara perpisahan angkatan mereka nanti.
Acara perpisahan akan bertajuk “Dari kita untuk kita”. Para siswa atau siswi diperkenankan untuk menampilkan sebuah pertujukan jika mau. Pertunjukkan itu bisa berupa apa saja. Membaca puisi, bernyanyi, bermolog, apapun itu.
Fina tak tertarik sama sekali. Ia tak memiliki bakat untuk dipertontonkan. Yang ia tahu ia hanya bisa membuat nasi goreng nanas.
Fina menuju ke kelasnya. Suasana sekolah tampak berbeda tanpa Win di dekatnya. Fina benar-benar merasakan apa itu kesepian.
Fina membuka ompreng bekalnya saat istirahat. Ia memutuskan untuk tak pergi ke kantin. Fina tak sengaja menjatuhkan sendoknya. Fina berbungkuk, mengambil benda itu di kolong mejanya. Ia termenung sebentar. Ia melihat bayang-bayang Win di sana. Kenangan itu... masih melekat di otak Fina. Saat dimana Win dan Fina menghabiskan bekal di kolong meja. Fina tersenyum, seolah telah berdamai dengan semuanya. Ia lanjut menghabiskan bekalnya sendirian.
Setiap sudut di sekolah ini, sepertinya terselip kenangan bersama Win. Fina pergi ke rofftop. Sendirian. Rooftop ini kosong melompong. Hening. Hanya terdengar suara angin sesekali berseliuran. Fina melihat coretan Win di dinding pembatas. Tulisan itu sudah mulai pudar. Persis seperti hubungan keduanya.
Fina beranjak pulang. Seseorang telah menunggunya di parkiran. Seseorang dengan mobil silver. Gerald. Fina berjalan menghampiri Gerald dan Gerald dengan hati baiknya membukakan pintu mobil untuk Fina.
“Makasih.” Fina tersenyum dan meringkuk masuk ke mobil. Ia merasa diperlakukan spesial oleh Gerald.
Gerald hanya tersenyum manis lantas berjalan menyeberangi mobilnya, ke tempat duduk pengemudi.
Mobil silver itu keluar dari parkiran sekolah, kemudian menghilang.
Diam-diam seorang cowok melihat pemandangan itu. Win. Dari kejauhan ia mengamati mereka berdua yang masuk ke mobil. Hati Win rasanya robek. Mulai sekarang jok belakang motornya kosong dan helmnya menyisa satu. Mulai sekarang Win harus bersikap dewasa. Tak bisa terus-menerus mengikuti egonya.
...***...
Fina sedari tadi bulak-balik mengecek whats-appnya , melihat adakah chat masuk dari Win. Barangkali Win ingin mengatakan sesuatu. Tetapi ternyata tidak ada. Harus Fina akui ia masih berharap pada Win. Ia masih berharap bisa bersama lagi dengan Win, apapun caranya. Sulit untuk menghapus semua perasaannya atas apa yang telah mereka jalani berdua.
Win... apakah kita sudah berakhir? Fina bergumam sendiri dalam hati.
Mungkin Win lelah terus-menerus mengejarku, namun yang dikejar tak pernah memberikan timbal-balik yang lebih. Sekarang Fina baru sadar kalau selama ini dia termasuk orang yang acuh terhadap Win. Selalu Win yang mendatanginya. Fina hanya terus-menerus menunggu.
Fina hendak mengucapkan sesuatu pada Win. Ibu jarinya bergerak mengetik keyboard.
Win... I’m so sorry for everything..
Tetapi niatnya ia urungkan seletah otaknya memutar ulang perkataan Mama Win. Dia hanya jadi masalah untuk Win.
Fina mengalihkan laman chat di whats-appnya ke nomor Lindy. Mungkin dia perlu keluar sejenak untuk menyegarkan pikirannya.
Fina: Mau ke gerai es-krim, Kalin? Free, gak?
Kalin: Boleh... Aku jemput kamu sekarang.
Fina bersiap-siap, mengganti pakaian. Selang beberapa menit, Lindy tiba-tiba. Mereka langsung menuju gerai es-krim terdekat.
__ADS_1
Mereka berdua menikmati es-krim stroberi dengan pemandangan lampu-lampu gedung dari balkon lantai dua.
“Kalau ngajak makan es-krim biasanya ada yang mau diceritain. Ada apa?’ Lindy
menebak.
“I dont know exactly.. Aku cuma ngerasa kayak sedih, patah hati, dan bingung.”
“Bingungnya?”
“Di satu sisi aku ingin tetap bersama dia, tapi di sisi lain aku merasa gak bisa bersama dia.”
“Kamu hanya perlu mengikuti alurnya, Fina. Serahkan saja pada takdir akan membawamu kepada siapa dan kearah mana.”
Fina manggut-manggut. “Tapi rasanya susah sekali untuk move-on.”
“Move on itu hanya soal waktu. Memang rasanya sulit di awal. Tapi seiring berjalannya waktu kamu akan beradaptasi dan melewatinya. Orang-orang baru akan bermunculan, menggantikan yang telah lalu.”
Fina menelan es-krimnya. Ucapan Lindy selalu bisa memberikan jalan keluar atas setiap permasalahannya, persis seperti Dokter Gerald.
“Kalau kakak gimana hubungannya sama Dokter Gerald?” tanya Fina dengan polos.
Sontak pertanyaan itu membuat Lindy tersedak. Dan kemudian tertawa.
“Kamu tuh nanya apa sih? Kalin sama Gerald tuh cuma temenan.” Lindy membantah.
“Justru, ya... Kamu mau tahu satu rahasia, gak?” tawar Lindy.
“Apa?” Fina mengerutkan keningnya.
Lindy mendekatkan wajahnya ke arah Fina. Ia menutup sebelah mulutnya dengan tangan, berbisik.
“Gerald tuh kayaknya sayang banget sama salah satu pasiennya, yaitu kamu. Dia tahu banget soal kamu. Dia yang kasih tahu aku kalau kamu suka es-krim stroberi, bahkan sebeul kamu memberi tahunya. Dan dia juga minta aku buat jaga kamu.”
Di kepala Fina muncul tanda tanya besar. Gerald tahu Fina suka es-krim stroberi? Dari mana?
“Dokter tahu aku suka es krim stroberi dari mana?” tanya Fina pada Lindy. Ini terdengar misterius.
Lindy mengedikkan bahu. “Dia memang kelihatannya penuh wibawa, tapi kadang bisa aneh juga.”
Fina terdiam sejenak, mencoba memutar otaknya. Seperti ada teka-teki diantara dia dan Dokter Gerald. Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?
Sesampai di rumah, Fina mencoba memecahkan teka-teki itu. Ia menyuruh otaknya untuk mengingat kembali kejadian-kejadian di masa lalu. Apakah benar ini bukan kali pertama mereka bertemu?
__ADS_1
5 menit, mengingat dengan keras. Yang keluar dari benak Fina adalah anak itu. Anak kecil bernama Andro yang ditemuinya beberapa tahun silam saat usianya masih berumur 7 tahun. Dan anak itu berusia 5 tahun lebih tua dari Fina, persis seperti dirinya dan Dokter Gerald saat ini.
-Flashback-
11 tahun lalu, Fina bertemu dengan seorang anak laki-laki bernama Andro. Mereka senang menghabiskan es-krim sroberi berdua, di sebuah lapangan luas dekat bandara penerbangan, yang ketika pesawat lepas landas dapat terlihat dari tempat mereka duduk.
“Nanti aku akan pesawat itu,” ungkap anak laki-laki bernama Andro itu seraya menunjuk pesawat yang lepas landas.
“Mau ngapain? Nanti kalau kamu pergi siapa yang beliin es-krim stroberi?” tanya Fina kecil dengan cara yang menggemaskan.
“Aku bakal jadi Dokter yang menenangkan. Jadi aku harus pergi.”
“Dokter yang menenangkan? Dokter yang memberi es-krim stroberi ke orang-orang?” tanya Fina dengan polosnya.
Andro menggeleng. “Bukan. Tapi dokter yang menghapus air mata pasiennya.”
Fina cemberut. Ia tak ingin Andro pergi. Dia tak mau makan es-krim stroberi sendirian.
“Kalau aku menangis sekarang, apa kamu akan tetap disini dan menghapus air mataku?” Lantas Fina kecil menangis saat itu juga dengan keras, membuat Andro kewalahan meredamkannya.
“Shtt.. Jangan nangis aku kan belum jadi dokter.”
Fina tak menggubris ucapan Andro. Ia tetap menangis dengan dengan kencang, sampai orang-orang di sekitarnya memalingkan pandangan ke arahnya. Andro merasa malu dan takut disalahkan oleh orang lain.
“Sht.. Cep.. Cep... Udah jangan nangis. Nanti aku janji, kalau aku udah jadi dokter, aku bakal kasih kamu es-krim stroberi yang banyak...” Sontak mulut Fina langsung menutup rapat mendengar kata es-krim stroberi. Air matanya berhenti mengucur.
“Janji?” Fina mengacungkan jari kelingkingnya.
Andro mengangguk, membalas jari tersebut. “Janji.”
Andro menyeka sisa air mata di pipi Fina. Fina kecil tersenyum.
Fina tersadar dari lamunannya. Ia segera mengambil ponselnya dan menelepon Lindy untuk menanyakan satu hal.
“Halo, Kalin, lagi dimana?” Fina meletakkan ponselnya di telinga, berucap dengan terburu-buru.
“Lagi di mobil, kenapa Fin?” Lindy memutar-mutar stir mobilnya dengan satu tangan.
“Kalin, tahu gak nama panjang Dokter Gerald?”
“Hm... Kalo gak salah, sih. Gerald Andro Fernando.”
Fina memantapkan hatinya. Anak kecil yang ditemuinya 11 tahun lalu adalah Dokter Gerald yang mengobatinya di usia 18 tahun ini. Ini terasa mustahil. Apakah ini yang disebut kekuatan takdir?
__ADS_1
Fina memutuskan sambungan teleponnya dengan Lindy. Besok dia harus menemui Gerald. Bukan untuk konsultasi, tapi untuk reuni karena akhirnya mereka bertemu lagi.
...***...