
Nona Xaviera Ritter
"BERHENTI!" teriak Xaviera sekuat tenaga, membuat Riski menghentikan kejarannya pada seorang lelaki hidung belang yang berusaha memeluk Xaviera dari belakang.
"Kenapa kau menghentikanku? Aku di sini untuk melindungimu, Nona Xaviera, dan lelaki tadi sudah menganggumu," tanya Riski bingung.
Hari ini hari pertama dia bekerja sebagai bodyguard nona Xaviera Ritter, model cantik tetapi angkuhnya minta ampun.
"Sudah lupakan saja. Tak perlu mengejarnya karena aku sudah mengenal dia. Dia salah satu teman sekolahku. Sepertinya dia sudah lama suka dan terobsesi padaku,” jawab Xaviera sambil mengibaskan rambut cokelat keemasan yang indah.
"Baiklah," jawab Riski singkat. Dia menuruti semua keinginan Xaviera, seperti yang dikehendaki oleh Tuan Cashel Ritter. Riski berdiri tak jauh dari kursi Xaviera yang terletak di bawah pohon rindang di pinggir jalan. Pemotretan hari ini belum juga dimulai, padahal sinar matahari mulai terik.
"Ambilkan payung! Sinar matahari terlalu terik," perintah Xaviera tanpa menoleh pada Riski. Lelaki muda itu menurut, mengambil payung di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Riski berdiri di belakang gadis itu sambil memegang payung besar untuk melindungi dia dari sengatan sinar matahari musim panas.
Koreografer datang dan mulai mengatur pengambilan gambar yang akan dilakukan hari ini.
"Hei, Xaviera. Cantik sekali kau hari ini," sapa sang koreografer sambil mengecup pipi Xaviera.
"Tentu saja. Bukankah aku selalu cantik?" jawabnya dengan gaya angkuh yang sengaja dibuat-buat. Koreografer itu tertawa. Xaviera melengos sesaat ketika melihat fotografer tiba di lokasi pemotretan.
Riski berdiri tegak memegang payung dengan mata yang tidak berhenti bergerak. Mengamati sekeliling dan melihat kemungkinan bahaya yang akan menganggu jalannya pemotretan juga pada Xaviera. Siapa yang tidak mengenal Xaviera Ritter, model cantik yang sedang naik daun. Honornya sekali foto sama dengan uang makan Riski selama sebulan penuh. Riski menghela napas.
Andai ada pekerjaan lain, dia tentu tak akan memilih menjadi bodyguard. Namun nasib belum berpihak padanya. Dia harus menerima pekerjaan yang ditawarkan Tuan Cashel Ritter padanya atau dia akan tidur di jalan karena uang sewa apartemen murahnya sudah jatuh tempo.
Gaji yang ditawarkan Cashel padanya cukup besar, mampu untuk membayar sewa apartemen selama satu tahun. Lagipula pekerjaannya juga tidak terlalu berat, menjaga Xaviera Ritter dari tangan-tangan jahil.
__ADS_1
Sayangnya, Riski tidak mengenal Xaviera Ritter, gadis cantik yang sombong dan angkuh, selalu mencari perkara dengan model yang lain.
"Pulang!" seru Xaviera dua jam kemudian, lalu melenggang ke mobil meninggalkan Riski yang kelabakan membawa payung dan kursi lipat berlari ke arah mobil.
Setelah semua barang masuk ke dalam bagasi, Riski melajukan kendaraan perlahan meninggalkan area pemotretan yang belum selesai.
Dia ingin bertanya pada Xaviera, tetapi melihat wajah cantik itu bersungut, diurungkan niatnya untuk bertanya.
"Langsung pulang, Nona Xaviera?” tanya Riski pelan sambil menatap Xaviera lewat kaca spion depan. Xaviera mengangguk malas.
"Bisa tidak kalau kau menyetir lebih cepat dari ini. Aku seperti naik gerobak sampah!" tandas Xaviera kesal melihat Riski mengemudikan mobil dengan perlahan.
Hari ini hari pertama Riski mengemudikan mobil mewah, dia tidak ingin terjadi kesalahan apapun yang akan membuatnya didepak oleh Cashel Ritter.
Riski diam, tetapi tidak juga melajukan kendaraan lebih cepat seperti yang diinginkan Xaviera.
Gadis itu mengembuskan napas kasar karena kesal melihat Riski tidak menanggapi keinginannya.
Riski diam mendengar umpatan nona Xaviera. Namun dalam hati dia berdoa jangan sampai Cashel Ritter memecatnya di hari pertama. Ini bukan rencananya. Dia harus mendapatkan uang untuk membayar uang sewa apartemen.
Memasuki rumah dengan halaman seluas lapangan sepak bola, Xaviera langsung turun begitu Riski menghentikan mobil tepat di depan pintu utama.
Gadis itu menghentakkan kaki kesal dan masuk ke dalam rumah.
"PAPA!!!" teriak Xaviera tak sabar begitu kakinya menginjak lantai marmer yang halus.
"Tuan sedang keluar, Nona Xaviera" ujar seorang pelayan yang datang tergopoh-gopoh menghampiri Xaviera yang berteriak sekuat tenaga.
Pelayan di rumah ini tentu sudah sangat mengenal sifat nona muda yang angkuh itu.
Xaviera melengos, lalu naik ke lantai dua menuju kamarnya. Suara bantingan pintu menyusul kemudian. Pelayan itu hanya bisa mengurut dada melihat kelakukan nona muda keluarga itu. Bukan hal baru.
__ADS_1
Sementara Riski masih di garasi menurunkan barang bawaan Xaviera, dari tas make up, kursi lipat, juga sejumlah pakaian untuk foto yang dibiarkan berserakan di bagasi mobil. Dengan sabar, Riski melipat satu persatu baju itu dan memasukkannya ke dalam koper kecil.
Setelah selesai, dia ke dapur untuk minum segelas air dingin. Cuaca yang panas membuatnya haus.
"Bagaimana hari pertamamu dengan Nona Xaviera? Apa dia menyulitkanmu?" tanya Sinta, gadis pelayan yang tadi menjawab pertanyaan Xaviera.
Riski hanya tertawa kecil. Tidak ada yang perlu diceritakan, bukankah mereka sudah mengetahui sifat nona muda mereka lebih dari Riski.
"Ayo ceritakan, Riski. Aku ingin tahu," desak Sinta mengambil kursi dan duduk di hadapan Riski.
"Apa yang harus aku ceritakan? Kalian lebih tahu sifat Nona Xaviera daripada aku. Aku baru mengenalnya beberapa jam saja," jawab Riski jujur.
Dia bukan orang yang suka bergosip terutama dengan sesama rekan kerja, apalagi yang mereka gosipkan itu adalah atasan mereka.
Walau ini pertama kalinya dia menjadi bodyguard, tetapi baginya semua pekerjaan sama saja jika berhubungan dengan nona muda. Dia harus lebih bersabar dan menahan diri. Itu saja yang harus dilakukannya.
"Ceritakan, apakah Nona Xaviera disukai di pemotretan? Apakah penggemarnya banyak hingga Tuan Cashel Ritter menjadikanmu sebagai bodyguard untuk Nona Xaviera?" cecar Sinta penuh rasa ingin tahu.
"Tentu saja. Tentu saja Nona Xaviera disukai dan punya banyak penggemar yang menganguminya, kalau tidak mana mungkin Tuan Ritter menghamburkan banyak uang untuk menggajiku, Sinta," jawab Riski lugas.
"Apa kau punya sesuatu yang bisa aku makan? Perutku lapar," ucap Riski lagi, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Sinta mengangguk, "Kau mau sandwich?"
"Boleh. Apa saja asal bisa mengenyangkan perutku, aku mau," jawab Xaviera sarkistik. Sinta tertawa dan mulai mengeluarkan roti tawar dari dalam kulkas.
"Nona Xaviera begitu cantik, Riski. Apa kau tidak tertarik padanya?" tanya Sinta disela membuat sandwich. Riski tertawa.
"Kau gila, Sinta. Pikiranmu terlalu jauh. Memangnya aku siapa sampai jatuh hati pada Nona Xaviera? Aku sadar siapa aku, Sinta. Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi," jawab Riski tersenyuman miris. Dia tahu bahwa dia tidak pantas untuk bersanding dengan Nona Xaviera, walau dia menginginkannya.
Sungguhkah?
__ADS_1
"Riski!" Suara teriakan Xaviera dari lantai dua membuat Riski langsung berlari keluar dari dapur untuk melihat apa yang diinginkan Xaviera.