
Riski Sakit
"Kau dari mana saja?" tanya Cashel Ritter mengulang pertanyaannya. Xaviera berpikir cepat untuk mencari alasan.
"Aku... tadi aku dari apartemen temanku di Sweet Castle, Pap," jawab Xaviera berbohong.
Cashel mengangguk-angguk. "Ya sudah, kamu istirahatlah. Besok pagi Papa akan mencari informasi, atau mungkin menambah penjaga lagi untukmu," ucap Cashel sambil terus berpikir. Xaviera sangat terkejut.
"Eh... aku rasa tidak perlu menambah penjaga. Cukup Riski saja sudah cukup," jawab Xaviera menatap Cashel dalam seakan meminta persetujuan.
"Hem... bukankah katamu dulu Riski sangat lamban sehingga kau mau agar dia diganti? Apa sekarang penilaianmu terhadap Riski sudah berubah ?"
"Iya, Pap. Dia hebat sekali tadi. Caranya mengemudikan mobil juga sangat mantap. Beda sekali dengan beberapa sopir yang pernah mengantarku," puji Xaviera sambil tersenyum malu. Cashel memperhatikan reaksi Xaviera.
"Apa kau menyukainya?" tanya Cashel to the point. Xaviera sangat terkejut.
"Ti-tidak, Pap! Bagaimana mungkin aku menyukainya? Walau aku akui dia cukup tampan seperti yang pernah Papa katakan padaku, tapi aku belum segila itu, sampai jatuh cinta pada bodyguard-ku sendiri!" tegas Xaviera dengan wajah merengut kesal karena Cashel terus mengoloknya. Walau dalam hati dia membenarkan ucapan Cashel, dia mulai menyukai Riski. Namun apakah itu namanya cinta? Nampaknya Xaviera memerlukan waktu lebih lama untuk mengenal Riski lebih jauh lagi.
Cashel tersenyum. "Baiklah, Papa yakin pada penilaianmu."
Cashel Ritter keluar dari kamar Xaviera, ketika ponsel Xaviera berbunyi. Gadis itu melihat nama yang muncul dilayar.
"Sialan!" umpat Xaviera kesal.
"Mau apa lagi?" tanya Xaviera begitu mengangkat ponsel tanpa basa basi.
"Bodyguard-mu yang bodoh itu menabrak Lamborghini-ku. Suruh dia untuk membayar uang perbaikannya!" ucap Farrel dengan sinis.
"Itu salahmu sendiri! Siapa suruh kau menghalangi jalanku?” balas Xaviera dengan sebal.
"Aku ingin bertemu denganmu. Karena urusan kita hari itu belum selesai, Sayang! Aku sangat merindukanmu," jawab Farrel mengalihkan pembicaraan dan tanpa tahu malu diakhiri dengan suara kecupan.
__ADS_1
"Kau membuatku mual, Farrel! Urusan kita sudah selesai ketika aku pergi saat malam itu. Begitu juga dengan hubungan kita.
SELESAI THE END-OKE?" seru Xaviera tegas.
Farrel tertawa kecil. "Tidak semudah itu Xaviera Ritter! Saat kau menerima cintaku, saat itu juga kau sudah terikat cinta padaku. Tidak bisa begitu saja kau memutuskan ikatan cinta kita. Aku tidak terima alasan itu!" seru Farrel tidak mau kalah gertak dari Xaviera.
Xaviera diam tak menjawab lagi, sementara Farrel yakin gadis itu masih sangat mencintainya. Mungkin caranya salah yang kemarin itu. Mengajak Xaviera tidur dalam keadaan mabuk sepertinya harus dicoret dari list Farrel.
"Maafkan aku, Sayang. Kau tidak suka kita tidur bersama dalam keadaan mabuk? Oke, aku terima.. Bagaimana kalau kita ke The Dynasty Hotel menyewa honeymoon room untuk seminggu. Apa kau mau?" rayu Farrel lagi.
Xaviera tetap diam tidak menjawab sepatah kata pun. Dia malas meladeni Farrel, lagi pula dia sangat mengantuk setelah kejadian menegangkan hari ini. Sungguh sangat membuatnya lelah.
"Xaviera... Xaviera Sayang?" panggil Farrel di seberang ponsel sana. Sementara gadis itu sudah jatuh tertidur dengan lelap meninggalkan Farrel berteriak memanggil namanya.
"**** you, Xaviera!" umpat Farrel kesal, setelah yakin mendengar suara dengkuran halus gadis itu.
***
Malam hari Riski bermimpi buruk. Dia dikejar-kejar seseorang yang mengenakan topeng dengan pistol di tangan terus menembak dirinya. Sebutir peluru bersarang di dada Riski membuat dia ambruk seketika dan bangun dengan napas terengah-engah. Ini buruk sekali.
Dengan tubuhnya sangat tidak nyaman dan rasa sakit mendera mulai dari kepala hingga ujung kaki. Semua terasa sakit. Kacau sekali.
Pagi-pagi sekali Riski terbangun karena sakit di kepala dan telinga juga lebam di hampir sekujur tubuh. Untung Giryo ada di rumah. Dia memberikan ramuan obat pada Riski dan membuatkan bubur untuk sarapan.
Giryo mengambil cuti satu minggu khusus untuk mengurus Riski. Dia tidak tenang bila Riski belum sembuh. Apalagi dia sangat mengkhawatirkan luka di telinga Riski.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit siang ini," ajak Giryo melihat Riski masih saja bergelung selimut saat
matahari mulai naik.
Riski hanya diam tak menjawab. Keadaannya sungguh buruk sekali. Semua terasa serba salah. Berbaring ke kiri salah ke kanan juga salah. Menyebalkan. Belum pernah Riski merasa seperti ini.
Dering ponsel terus menganggu Riski sejak tadi. Dia tahu pasti itu dari Cashel Ritter. Pasti menanyakan keadaannya yang belum juga tiba padahal hari sudah siang. Riski tidak sanggup hanya untuk mengangkat ponsel saja. Kepalanya terasa berat dan telinganya terus menerus berdenging dan nyeri sekali.
Giryo masuk untuk memeriksa keadaan Riski. Dia memegang dahi Riski yang berbaring diam sejak terakhir ditinggalkannya di kamar.
__ADS_1
"Apa kau demam, Riski! Kurasa luka di telingamu yang menyebabkan kau demam. Kita ke rumah sakit sekarang," putus Giryo tanpa menunggu persetujuan Riski lagi.
Giryo memakaikan jaket pada Riski sebelum memapahnya keluar dan turun ke lobi. Taksi sudah menunggu di sana, langsung menuju rumah sakit setelah keduanya masuk ke dalam taksi.
Mereka kembali saat matahari bergerak turun. Musim panas sudah berganti menjadi musim gugur. Daun-daun mulai berubah warna. Giryo membawa Riski pulang dari rumah sakit setelah infus habis dan Riski sudah tidak demam lagi, tetapi dia terus menerus mengantuk.
"Ayo, Riski, kita pulang," ajak Giryo membantu Riski bangun dari brankar di ruang gawat darurat dan memakaikan Jaket, lalu memapahnya menuju taksi yang akan membawa mereka pulang ke apartemennya.
"Giryo, terima kasih," ucap Riski lirih hampir seperti berbisik ke telinga Giryo saat di dalam taksi.
"Sudah, tidak apa-apa. Yang penting kau harus segera sembuh dan pulih seperti semula, ok?" balas Giryo menenangkan pikiran Riski. Lelaki muda itu bersandar di bahu Giryo dan kembali tertidur hingga taksi tiba di apartemen.
Giryo memapahnya naik dan membaringkan Riski di kamar. Riski sama sekali tidak terbangun. Obat yang diberikan dokter membuatnya tidur hingga besok pagi.
***
"Apa Riski sudah datang?" tanya Xaviera di interkom yang terhubung ke dapur.
"Belum Nona," jawab Sinta heran, tidak biasanya Xaviera bangun di saat matahari baru naik.
"Apa Nona butuh sesuatu," tanya Sinta lagi.
"Tidak. Kabari aku begitu Riski datang. Aku membutuhkan dia, segera!" perintah Xaviera seperti biasa.
Sinta mengiyakan perintah Nona Besar-nya itu. Tingkah Xaviera sudah kembali seperti semula, tidak ada yang aneh. Sinta melanjutkan pekerjaannya mulai membereskan peralatan dapur yang dipakai semalam.
Sementara Riski baru saja menggeliat di kasur, pagi ini tubuhnya sudah terasa segar dan rasa sakit di telinga sudah jauh berkurang. Dia bangun, membuka pintu kaca ke beranda dan angin musim gugur berembus perlahan membawa hawa dingin yang menyejukkan.
"Selamat pagi," gumam Riski senang menatap langit biru yang cerah. Setelah melewati satu hari yang buruk, Riski sudah siap untuk kembali bekerja. Apalagi mengingat banyak hal yang harus dilakukannya.
"Selamat pagi, Giryo. Terima kasih kemarin," ucap Riski, begitu melihat Giryo sudah berada di dapur membuat sesuatu. Giryo menoleh padanya.
"Pagi, bagaimana kondisimu? Apa sudah lebih baik? Apa kau lapar? Kemarin kau hampir tidak menyentuh makanan sedikit pun," ujar Giryo.
"Kau buat apa? Pancake? Harum sekali. Aku sangat lapar," jawab Riski sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Aku akan pergi bekerja hari ini
***