Sang Ajudan Tampan

Sang Ajudan Tampan
Bab 6


__ADS_3


Awal Pertemuan Cashel dan Riski



Suasana remang di sudut kota, Cashel Ritter berjalan sendiri sambil melihat keadaan di sekitarnya. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, sesekali menoleh ke belakang.


Dia berdiri di samping tiang lampu yang lampunya sudah rusak hingga sinarnya berkedip seperti lampu pohon natal. Cashel melihat jam di pergelangan tangan. Sudah pukul delapan malam. Kemana rio? Bukankah mereka berjanji untuk bertemu di sini? Tangannya bersedekap dengan sebuah bungkusan di dekapannya.


Cashel mulai gelisah saat waktu sudah lewat dari setengah jam waktu pertemuan yang ditentukan. Dia semakin gelisah saat waktu sudah semakin larut dan menjauh dari waktu pertemuan.


Tiba-tiba seorang lelaki setengah baya merebut bungkusan dalam dekapan Cashel dan berlari menjauh sekencang mungkin.


Cashel berteriak dan langsung mengejar lelaki itu. Tetapi lelaki itu sudah semakin jauh, walau Cashel berlari sekuat tenaga.


Dari ujung jalan yang sepi seorang pemuda menjegal lelaki itu hingga dia terpelanting, lalu mereka terlibat pergumulan hingga Cashel berhasil mencapai lelaki setengah baya itu. Anak muda itu memiting lengan lelaki setengah baya itu dan menendang lututnya hingga dia berlutut.


"Kau! Siapa yang menyuruhmu untuk merampas barangku!" seru Cashel dengan suara terengah.


Lelaki setengah baya itu tidak


menjawab. Cashel mencengkram dan menarik kerah baju lelaki itu. Lelaki itu malah meludah ke wajah Cashel.


"Matilah kau, Cashel Ritter!" desis lelaki itu, ada kemarahan yang besar di wajahnya walau terlihat samar.


Cashel Ritter menendang lelaki itu sekuat tenaga, marah.


"Kau yang mati! Sialan!" teriak Cashel sambil mengeluarkan sepucuk pistol dari balik long coat.


Lelaki itu diam tak berkutik saat merasakan todongan pistol di kepalanya.


"Lepaskan dia!" perintah Cashel pada lelaki muda itu. Lalu Cashel mulai menendang dan memukuli lelaki setengah baya hingga tak bisa bergerak.


"Kau salah memilih musuh!" desis Cashel sambil meludah pada lelaki yang sudah terkapar itu.

__ADS_1


Riski, lelaki muda itu terpana melihat Cashel yang memukuli lawannya dengan brutal. Siapa dia?


"Siapa namamu, Anak Muda?" tanya Cashel beralih pada Riski yang berdiri terpaku.


"Riski," jawab Riski tegas. Dia tidak tahu siapa Cashel. Dia hanya membantu karena melihat Cashel terengah-engah mengejar lelaki yang merampas kantong dari dekapan Cashel. Riski muak dengan tindakan kekerasan yang akhir-akhir ini sering terjadi di wilayah tempat tinggalnya. Memang daerah itu bukanlah wilayah yang elite, tetapi juga bukan wilayah kumuh.


"Apa pekerjaanmu, Nak?" tanya Cashel lagi, dia ingin tahu.


"Pengangguran, Tuan. Baru beberapa hari yang lalu, bosku menutup usahanya karena krisis keuangan yang terjadi belakangan ini. Usahanya tidak menghasilkan, jadi dia memilih menutup usahanya saja," jawab Riski dengan suara kecil, dia malu.


"Oh begitu. Jadi apa kau ingin. pekerjaan, Nak? Sebagai bodyguard putriku. Kalau kau tertarik, datanglah ke kantorku. Aku tunggu Senin besok," ucap Cashel sambil menyodorkan kartu namanya.


Riski manatap kartu nama itu tak berkedip. Apakah malam ini adalah malam kebetuntungannya? Sudah beberapa bulan dia mencari pekerjaan lain untuk menutupi biaya sewa apartemen dan makan, pekerjaanya sebagai montir di bengkel mobil tidak terlalu menghasilkan.


"Baiklah, Tuan... Cashel Ritter. Aku akan datang hari Senin besok. Terima kasih banyak, Tuan," jawab Riski seraya membungkuk pada Cashel. Cashel Ritter tersenyum, lalu berbalik pergi meninggalkan Riski yang masih terus membungkuk padanya.


Setelah melihat Cashel Ritter menjauh dan hilang di keremangan malam, Riski berbalik dan pulang ke apartemennya dengan semangat.


"Giryo!" teriak Riski ketika masuk


"Ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu? Apa terjadi sesuatu? Apa kau terluka?" seru Giryo saat melihat memar di wajah Riski.


"Aku tidak apa-apa, Giryo. Ada kabar gembira, aku sudah dapat pekerjaan!" balas Riski dengan girang.


"Sungguhkah? Kau sungguh dapat pekerjaan baru? Di mana? Siapa yang mengenalkanmu? Apa aku kenal?" cecar Giryo turut merasa antusias.


Riski tertawa lebar.


"Tadi aku menolong seseorang saat dalam perjalanan pulang. Dia terkesan dan ingin aku bekerja padanya," cerita Riski sambil terus mengoyang tangannya yang memegang kartu nama Cashel Ritter.


Giryo melongo melihat Riski, sepertinya tidak mungkin hanya karena itu Riski mendapat pekerjaan. Dia merampas kartu nama yang dipegang Riski lalu membaca tulisan yang ada di kartu itu.


"Cashel Ritter? Sepertinya aku tahu dia," ucap Giryo bersedekap. Bau gosong tiba-tiba merebak dari dapur.


"Giryo! Masakanmu!!!" teriak

__ADS_1


Riski, membuat Giryo langsung melemparkan kartu nama itu padal Riski dan berlari ke dapur dengan


cepat.


Mobil sedan putih yang dikendarai Riski menepi ke sebuah kedai pinggir jalan di luar kota. Riski turun dan masuk ke dalam kedai mencari Giryo.


Lelaki paruh baya itu bekerja di kedai ini. Seminggu sekali dia akan pulang ke kota dan tinggal di apartemen bersama Riski.


Sejak Granny meninggal, hanya Giryo satu-satunya teman yang dimiliki Riski. Giryo juga seorang yatim piatu. Granny kerap memanggilnya untuk makan bersama ketika Riski masih berumur belasan dan Giryo dipertengahan tiga puluh.


"Masuklah ke dalam kamar, aku akan menyiapkan obat kompres untuk memarmu," tukas Giryo begitu melihat Riski masuk ke dalam kedai.


Ketika Kakek Qin masih ada, Giryo selalu membantunya merebus dan merendam obat. Sedikit banyak dia mengerti pengobatan dari ajaran Kakek Qin, sementara Riski lebih memilih ilmu bela diri.


"Tidak terlalu parah, Giryo. Hanya memar sedikit, saja" ucap Riski ketika Giryo masuk membawa guci keramik berisi rendaman obat dengan bau arak yang khas untuk menyembuhkan memar.


"Aku tahu. Ayo buka pakaianmu, Riski," perintah Giryo. Riski menurut dan membuka pakaiannya. Giryo segera membalurkan obat ke tubuh Riski yang memar, menggunakan kapas di beberapa bagian yang tampak biru keunguan.


Namun dengan usil, Giryo menekan ringan memar itu. Riski berteriak kesakitan dan Giryo tertawa terbahak.


Hahahahahaha..


"Sakit tahu!" gerutu Riski memukul kepala Giryo, tetapi Giryo berhasil mengelak hingga pukulan Riski meleset.


"Makanya menghindar kalau ada yang memukul. Kau terlalu lugu, Riski. Entah bagaimana kau bisa menjadi bodyguard kalau seperti ini?" ejek Giryo di sela tawa yang masih tersisa.


"Sudah selesai. Pakai pakaianmu, Riski. Besok hari minggu aku akan pulang membawa sebagian arak untukmu," ucap Giryo.


"Baiklah. Terima kasih, Giryo!" balas Riski yang langsung melompat keluar setelah mengenakan pakaiannya. Dia harus segera kembali ke rumah Cashel Ritter dan melaporkan kejadian barusan.


Lebih baik menghadapi kemarahan Xaviera daripada kemarahan Cashel Ritter.


Mobil putih itu melaju kencang, satu jam kemudian Riski sampai di kediaman Cashel Ritter dan melihat mobil hitam milik Cashel sudah berada di depan pintu yang berarti Cashel sudah ada di rumah yang mewah ini.


Dia bergegas masuk setelah memasukkan mobil ke garasi.

__ADS_1


"Riski!" seru Cashel Ritter saat Riski muncul di pintu dapur. Jantung Riski seakan melompat keluar.


__ADS_2