Sang Ajudan Tampan

Sang Ajudan Tampan
Bab 17


__ADS_3


Putusnya hubungan Farrel dan Xaviera



"TABRAK Riski!" teriak Xaviera dengan suara melengking tajam. Suara itu seakan mengembalikan kesadaran Riski bahwa dia tidak sedang bermimpi.


Riski tidak mungkin menabrak Lamboghini kuning terang itu. Mobil itu sangat mahal, bagaimana bila Farrel Amora minta ganti rugi? Dia harus mengganti dua mobil sekaligus! Dia belum segila itu!


Farrel Amora turun dari mobil kuning terang itu dengan tiga orang bertato dan berotot yang langsung mengepung Porsche itu, berusaha membuka pintu mobil.


XAVIERA! AYO TURUN SAYANG, URUSAN KITA BELUM SELESAI," teriak Farrel dihiasi seringai jahat di wajah tampan itu.


"RISKI, TABRAK ATAU KITA MATI!"seru Xaviera dengan panik. Dia tahu apa yang diinginkan Farrel. Dia harus segera pergi dari sini.


Xaviera mencengkram baju Riski erat, menyuruhnya untuk segera melajukan kendaraan mereka. Hati kecil Riski masih ragu antara menuruti Xaviera atau berkelahi dengan Farrel dan anak buahnya. Dua-duanya pilihan yang sulit bagi Riski.


"JALAN, RISKI!" teriakan Xaviera tepat di telinga Riski mampu membuat Riski sadar akan situasi di sekeliling mereka dan pilihan yang harus dipilihnya.


Anak buah Farrel terus menggoyangkan mobil sedan kecil


itu. Kalau Riski tidak segera menjalankan mobilnya, mobil itu pasti akan terbalik, karena tenaga ketiga anak buah Farrel begitubesar.


Riski menginjak pedal gas sedalam-dalamnya hingga suara


yang ditimbulkan knalpot memekakkan telinga. Anak buah


asap dari knalpot. Kesempatan ini langsung digunakan Riski untuk dengan erat.


Farrel melepaskan pegangan dan bergerak menjauh karena suara dan kabur. Dia menabrak ujung bemper mobil kuning terang itu hingga bergeser menjauh, lalu melajukan mobil sedan itu secepat kilat hingga Xaviera hampir terpental. Gadis itu segera memegang handle grip

__ADS_1


Porsche putih itu bergerak dengan lincah meninggalkan City Super Jaya Mall dengan cepat. Baru kali ini Freya melihat bagaimana Riski membawa mobil dengan sangat


cepat, tetapi cukup mantap. Untuk pertama kalinya Xaviera memandang kagum pada Riski, terutama saat Riski berhasil membawa mereka pergi dari cengkraman Farrel. Ketika mobil sudah jauh dari City Super Jaya Mall, Riski mulai melambatkan kendaraan lagi.


"Sekarang ke mana, Nona Xaviera ?" tanya Riski datar. Matanya terus melirik lincah melihat keadaan sekeliling. Dia hanya takut tiba-tiba Farrel dan anak buahnya muncul dan melaporkan dia telah merusak mobil mewah lelaki muda itu.


"Jangan khawatir, kalau Farrel minta ganti rugi, aku yang akan membayarnya," tukas Xaviera santai.


Riski melirik ke samping, melihat wajah cantik itu tersenyum senang penuh kemenangan. "Satu lagi, jangan panggil aku Nona Xaviera. Panggil saja Xaviera.


Begitu lebih baik," ucap Xaviera tiba-tiba membuat Riski terkejut dan hampir tersedak.


Bagaimana mungkin Nona Besar yang angkuh dan manja itu meminta dia untuk memanggil Sungguh luar binasa! Riski bukan bangga, tetapi malah takut. Takut sesuatu yang buruk di luar perkiraannya terjadi. namanya tanpa embel-embel.


"Akan ke mana sekarang, Nona Xaviera?" Riski mengulang pertanyaannya. Xaviera mendelik saat mendengar Riski masih memanggilnya dengan sebutan Nona Xaviera.


"Apartemen."


Sean menggeleng. "Tuan tidak menanyakan ke mana saja kemarin. Dia hanya menanyakan kejadian di Best Jaya Mall, Nona," jawab Riski dengan pandangan lurus ke depan, memperhatikan jalanan siang itu yang tidak terlalu ramai.


"Bagus, kalau begitu. Ingat, Riski, jangan pernah menceritakan apa-apa soal apartemen ini pada ayahku. Apa kau mengerti?" pinta Xaviera.


Riski mengangguk. Sekaranggadis di sebelahnya ini lebih manusiawi memperlakukannya. Biasanya selalu memerintah, sekarang bisa meminta - dengan sopan.


Haa... dia pasti sedang bermimpi. Ini semua tidak nyata, Riski menggeleng kepala tak percaya.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau menggeleng sendiri?" tanya Xaviera tak acuh. Riski melirik gadis itu sekilas, tidak menjawab, hanya menggeleng lagi.


...****************...


"Masuk ke sana!" Tiba-tiba Xaviera menunjuk drive thru subwaydi kanan jalan.

__ADS_1


"Fast food?" gumam Riski.


"Iya, kenapa? Kau tidak mau?" tanya Xaviera santai.


Riski kembali menggeleng. Dia hanya bingung melihat perubahan Xaviera yang tiba-tiba, terasa aneh. Mobil masuk ke drive thru dan Xaviera langsung membuka jendela memesan beberapa burger, salad dan kentang goreng. Setelah membayar, mereka menunggu sebentar dan pesanan siap diambil.


Riski kembali melajukan kendaraan keluar dari drive thru menuju fourth avenue. Apartemen Sweet Castle terlihat menjulang dengan lima tower berbentuk segi enam, sangat mudah dikenali.


"Ayo kita turun," ajak Xaviera ketika mobil berhenti di gedung parkir lantai enam, dari sini mereka tinggal naik lift langsung ke lantai dua puluh empat. Riski kembali mengangguk. "Kau ini sepertinya sangat diam sekali. Kenapa? Aku lihat kau cukup akrab dengan Sinta kalau di dapur," ucap Xaviera ketika mereka berada dalam lift yang penuh dengan belanjaan nona besar itu, sementara Xaviera membawa makanan yang dibeli di Subway. Riski hanya mengangguk sekilas, tidak tahu harus menjawab apa pada Xaviera.


"Heii! Aku bertanya padamu! Apa kau bisu?" bentak Xaviera kesal. Dia serasa berbicara pada patung yang hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Menyebalkan!


"Ma-maaf, Nona Xaviera. A-aku tidak tahu harus berkata apa," jawab Riski lirih dengan kepala menunduk menatapi lantai lift yang bersih dan mengilap. Xaviera menghela napas kesal.


"Aku tidak bertanya yang aneh dan susah untuk kau jawab, Riski! Hanya pertanyaan biasa saja. Kenapa kau membuatnya menjadi susah untuk dijawab? Kau ini membingungkan!" ucap Xaviera kesal. Riski diam, lebih baik diam saja.


Hingga lift berhenti di lantai dua puluh empat, Riski dan Xaviera tidak terlibat dalam percakapan lagi. Riski membawa seluruh belanjaan Xaviera ke dalam unit apartemen yang sekarang sudah resmi menjadi milik gadis cantik itu.


"Berapa umurmu, Riski?" tanya Xaviera tiba-tiba. Dia melihat Riski sedang memasang tirai dengan mainan gantung di kamar yang dipilih Xaviera menjadi kamarnya.


Apartemen itu lumayan besar dan luas. Tiap lantai hanya ada empat unit saja. Satu apartemen ada tiga kamar tidur yang cukup luas. Dengan kamar mandi di dalam. Lantai apartemen di lapisi dengan parket laminasi kayu terbaik hingga membuat kesan alami. Sofa 2-seater dan 3-seater yang di susun membentuk siku membelakangi dinding kaca hingga memberikan kesan terang dan cerah walau di musim dingin. Riski benar-benar kagum melihat kemewahan apartemen ini.


Berbanding terbalikdengan apartemen yang dihuninya sekarang. Angannya kembali melayang dan berandai-andai betapa bahagianya dia bila bisa memiliki apartemen seperti ini.


"Riski!" seru Xaviera, tetapi lelaki muda itu sedang dalam mengkhayal jauh tidak mendengar seruan Xaviera.


"RISKI!" jerit Xaviera kesal. Padahal dia berdiri tidak jauh dari Riski, masakan lelaki itu tidak mendengar panggilannya. Riski tersentak kaget.


"Y-ya ... ada perlu apa, Nona Xaviera?"


"Kau tuli, ya! Sudah kukatakan, jangan panggil aku seperti itu lagi!" bentak Xaviera kesal.

__ADS_1


***


__ADS_2