
Kita Berteman Saja
"Maafkan saya, Nona Xaviera," seru Riski merasa bersalah karena melamun hingga tak mendengar panggilan Xaviera.
"Apa kau tuli, ya! Sudah kukatakan, tidak perlu memanggilku Nona, cukup Xaviera saja. Apalagi kurasa kita seumur. Berapa umurmu?" tanya Xaviera dengan senyuman bersahabat.
"Ah-eh, aku? Maaf, X-Xav-Xaviera ...aku tak bisa memanggil nama saja, Nona. Terkesan tidak sopan. Lagi pula semua di rumah memanggilmu dengan sebutan nona."jawab Riski pelan. Xaviera memutar bola matanya dengan kesal.
"Hanya saat kita sedang berdua seperti sekarang, di mobil, tanpa ada orang lain. Saat ada kehadiran orang lain tentu saja kau harus memanggilku dengan Nona, kau mengerti? Aku hanya ingin berteman denganmu, Riski."Xaviera menjelaskan panjang lebar. Riski terdiam. Ada debaran aneh di dadanya. Terasa sesuatu yang salah, tetapi juga Riski hanya bisa mengangguk lagi.
"Jadi berapa umurmu, Riski? Aku sudah tiga kali menanyakan hal yang sama padamu. Sekali lagi kau tak menjawab, aku akan memukulmu!" hardik Xaviera bercanda, lalu tertawa lepas membuat wajah cantiknya semakin cantik dan bersinar.
"Aku, tahun ini dua puluh dua tahun, Nona," jawab Riski, lalu tiba-tiba dia menutup mulut, "Opps ...aku sudah terbiasa menyebutmu dengan Nona, jadi tanpa kusadari terucap sendiri." Xaviera tertawa lagi.
"Sudahlah, tak apa-apa. Terserah kau saja mau memanggilku bagaimana," jawab Xaviera santai.
"Kalau kau dua puluh dua tahun, berarti kita seumur, Riski. Aku juga dua puluh dua tahun," jawab Xaviera
riang.
Ekspresi Xaviera yang seperti ini baru pertama kali dilihat Riski. Dia tertegun. Gadis itu seperti bidadari yang sedang turun bermain ke bumi,
"Kenapa? Ada apa di wajahku? Mengapa kau bengong melihatku?" tanya Xaviera bingung.
"Eh-ah, tidak apa-apa,” jawab Riski terbata, sesaat wajahnya memerah, malu ketahuan Xaviera kalau dia terpana melihat gadis itu.
"Yang mana lagi yang harus dipasang, Nona?" tanya Riski mencoba mencairkan suasana.
"Sudah, yang lain nanti aku bisa susun sendiri. Ayo kita makan dulu. Cucilah tangan dulu. Oh ya, sabun cuci tangan yang dibeli tadi, tolong. taruh di wastafel, Riski," pinta Xaviera lembut. Lagi-lagi Riski terpana mendengar dan melihat tingkah gadis itu hari ini. Seakan dua gadis
berbeda, membuat Riski semakin penasaran.
__ADS_1
Xaviera tertawa melihat Riski yang menatapnya tak berkedip. Harus diakuinya kalau penilaian Papa benar, wajah Riski tidak kalah dengan model yang bekerja sama
dengannya selama ini. Dia tampan dengan tubuh yang cukup tinggi, cocok sekali untuk menjadi model. "Apa kau punya kekasih, Riski?
Seperti apa gadis yang kausukai itu?" tanya Xaviera tiba-tiba.
Riski yang sedang mencuci tangan langsung menoleh pada Xaviera. Gadis itu sedang menyusun makanan yang dibeli tadi di atas meja makan yang baru dibersihkan. Semua serba baru dan bersih.
"Apa kau akan tinggal di sini, Nona Xaviera?" tanya Riski tanpa menjawab pertanyaan Xaviera. Dia menarik kursi
dan duduk berhadapan dengan Xaviera. "Tidak. Hanya di siang hari kalau aku malas pulang ke rumah.
Di sini lebih dekat ke studio foto," jawab Xaviera tanpa beban. "Mengapa kau rahasiakan dari Tuan Cashel?" tanya Riski lagi.
"Hem... sepertinya kau punya banyak pertanyaan untukku, Riski?" tanya Xaviera sambil mengunyah kentang goreng. Segaris senyum muncul di wajah tampan Riski yang selama ini selalu tampak tegang.
"Baiklah. Aku tidak mau Papa terus mencampuri urusanku. Aku hanya ingin mandiri dan mengendalikan semua sendiri. Usiaku sudah lebih dari dua puluh tahun. Sudah saatnya aku lepas dari campur tangan Papa," jawab Xaviera mantap.
Riski mengangguk-angguk seakan mengerti. Dia hanya tidak mengerti gadis manja ini, apa benar-benar bisa hidup tanpa bantuan orang lain? Bukankah selama ini Xaviera selalu dilayani di rumah. Sinta dan Nyonya Salsa selalu ada dan siap membantu gadis itu.
"Tolong kau habiskan, ya," ujar Xaviera kemudian.
Makanan masih banyak sekali di atas meja. Gadis itu hanya makan sedikit kentang goreng dan burger ayam ukuran kecil.
"Banyak sekali. Apa kau makan sedikit sekali, Nona Xaviera. Pantas kau begitu kurus," ucap Riski spontan.
"Aku ini seorang model, Riski! Memangnya kau pernah melihat model yang bertubuh tambun?" tanya Xaviera sewot. Riski tertawa kecil.
"Bukan seperti itu. Maksudku aktivitasmu begitu banyak, apa cukup makan sedikit itu?"
"Tentu saja. Aku sudah terbiasa. Keinginanku untuk menjadi model papan atas lebih besar dari keinginanku untuk makan," jawab Xaviera sambil tertawa. Riski ikut tertawa. Dia menjulurkan lidah pada Riski yang menertawakannya. "Aku ingin tidur siang dulu," ucap Xaviera seraya bangkit dari duduk sesaat kemudian.
"Kalau kau mau istirahat, pilih saja salah satu kamar yang ada. Hari ini kita bisa bersantai. Tidak ada jadwal pemotretan, oke?" seru Xaviera seraya merentangkan kedua tangan ke atas dan mencoba meregangkan tubuh yang terasa lelah setelah berbelanja dan menyusun sebagian barang yang baru dibelinya tadi. Dia masuk ke kamar utama dan menutup pintu.
Riski duduk di sofa baru yang empuk dengan aroma kulit yang masih sangat menyengat. Ah.... siapa yang akan menyangka kalau hari ini dia bisa bersantai setelah kemarin. terjadi perkelahian sengit. Riski merebahkan tubuh dan kepalanya ke sofa.
__ADS_1
Dia tidak mungkin berbaring di kamar seperti perintah Xaviera. Terlalu mewah baginya. Seperti ini sudah cukup. Riski menarik napas antara lega dan khawatir. Lega karena setidaknya Xaviera berubah lebih manusiawi, tetapi dia khawatir akan reaksi Cashel saat dia tahu masalah ini. Apa yang akan dilakukan Cashel padanya? Sudah pasti memecatnya! Duh... Riski menjadi serba salah. Bagaimana ini?!?
Sore menjelang saat Xaviera keluar dari dalam kamar. Riski
langsung duduk dari posisinya berbaring di sofa.
"Yuk kita pulang sekarang," perintahnya. Riski mengangguk.
"Riski, ingat, jangan pernah menceritakan soal apartemen ini pada Papa!" "Iya, Nona Xaviera," jawab Riski datar seperti biasa.
Mereka naik ke mobil dan Riski mulai melajukan kendaraan dengan tenang seperti biasa. Mobil berhenti di lampu merah. Sesaat Riski tidak menyadari ada mobil yang terus mengikuti mereka sejak pertama keluar dari apartemen.
Ketika lampu hijau dan Riski siap berjalan, dia baru menyadari bahwa mobil di depan dan samping
sengaja memperlambat jalan hingga mobil yang dikendarai Riski tidak bisa bergerak.
Riski terus menoleh melihat ke sekeliling dari kaca spion kaca tengah juga kiri dan kanan.
Tubuhnya menegang saat ada sepeda motor mendekat saat lampu kembali merah. Xaviera yang duduk santai di belakang mulai menyadari ketegangan Riski.
"Ada apa, Riski?"
"Pakai sabukmu, Nona Xaviera. Sepertinya ada yang mengikuti kita, tapi aku tak yakin. Jadi bersiap-siaplah!" "DAMN! Siapa lagi yang menganggu ketenangan hariku!
Heran, aku tidak menganggu, mengapa mereka mengangguku?"
"Aku belum yakin, Nona. Semoga hanya prasangkaku saja,"
desis Riski dengan mata menatap ke depan dengan tajam. Saat lampu hijau, Riski segera melajukan kendaraan dengan cepat. Dua motor di depan menghalang-halangi jalannya kendaraan, sementara dua mobil di samping kiri dan kanan
serta satu mobil di belakang!
"PEGANGAN YANG KUAT, NONA!"
*****
__ADS_1