Sang Ajudan Tampan

Sang Ajudan Tampan
Bab 20


__ADS_3


Di mana Sean Saat ini?



"PAPA!" seru Xaviera terkejut saat melihat kemunculan Cashel Ritter di depan pintu dapur.


"Xaviera! Kau tidak terluka, kan Sayang? Apa yang terjadi?" tanya Cashel dengan tatapan khawatir pada gadis manja itu.


"Tidak. Aku tidak terluka sama sekali," jawab Xaviera datar


mematahkan kekhawatirkan ayahnya.


"Riski? Bagaimana keadaanmu?" tanya Cashel beralih pada Riski yang sudah bersiap untuk pulang ke apartemennya.


"Aku sudah tidak apa-apa. Hanya terluka sedikit saja," jawab Riski pelan tetapi sangat tegas.


"Siapa yang melakukan ini pada kalian?" tanya Cashel lagi.


"Aku tidak tahu, Tuan. Yang pasti mereka menggunakan senjata untuk menghentikan kami tadi. Tapi mereka langsung pergi ketika mobil sudah sampai di rumah."


"Apa kau mengenali mobil mereka?"


"Tidak, Tuan. Mobil yang mereka pakai hanya mobil biasa karena tidak dapat menandingi kecepatan Porsche. Motor juga bukan jenis motor trail. Tapi penembak, kurasa cukup profesional.


Tujuan mereka hanya menghancurkan kaca mobil dan


membuat kami berhenti," jelas Riski, Cashel mengangguk-angguk dengan jari telunjuknya di dagu.


"Aku akan meminta anak buahku untuk mencari informasi tentang siapa yang usil padaku. Kau sudah boleh pulang," ucap Cashel tegas. Riski mengangguk, lalu menunduk hormat.


***


Di sebuah ruangan tertutup siang tadi, beberapa lelaki setengah baya berkumpul mengelilingi meja persegi panjang. Cashel Ritter duduk di salah satu kursi berputar. Dia terus mengetuk meja dengan ujung tutup pena parker di genggamannya.

__ADS_1


"Cashel! Hentikan! Kau sang bising sekali!" hardik Raihan Amora kesal setiap kali mendengar suara ketukan Cashel Ritter.


Cashel Ritter menatap tajam pada Raihan Amora seakan menantangnya dan sama sekali tak merasa bersalah.


"Sudah, hentikan! Kita berkumpul di sini bukan untuk beradu mulut ataupun kekuatan!" seru Daniel Padini,ujar sang pengacara.


Lelaki berusia enam puluhan itu sebagian rambutnya sudah memutih, tetapi gurat-gurat ketampanannya masih nampak jelas di wajahnya.


"Bukan aku yang memulai pertengkaran ini," jawab Cashel Ritter dengan sangat santai, masih dengan rasa tak bersalah. Matanya menatap tajam pada Raihan Amora yang duduk di hadapannya.


"Jadi katakan, apa dana dari warisan yang ditinggalkan Brian Smith bisa ditarik? Bukankah anaknya tidak diketahui rimbanya selama ini.


Apalagi kematian Brian sudah hampir dua puluh tahun berselang. Haruskah kita ita menunggu lebih lama lagi?" tanya Richard Humbert, yang duduk di samping Raihan Amora sambil bersedekap.


"Belum waktunya, Richard. Ada masa tunggu yang diatur dalam undang-undang. Sudahlah, jangan lagi memikirkan warisan Brian.


Bukankah perusahaannya sudah kalian ambil alih? Kalian masih belum puas? Uang itu diwariskan Brian untuk Sean Smith, anaknya. Aku yakin suatu hari Sean pasti muncul entah dari mana," tukas Daniel dengan pandangan mata melayang jauh. Dia teringat melihat Sean terakhir kali sebelum kecelakaan maut yang merenggut nyawa Brian dan istrinya.


Jauh hari sebelum kecelakaan itu terjadi, Brian menghubungi Daniel untuk membuat wasiatnya. Daniel sempat meragukan keinginan Brian, karena Sean masih sangat kecil saat itu.


Siapa yang bisa menyangka kalau Brian benar-benar akan pergi di usia yang masih sangat muda. Saat mereka masih sangat bersemangat bekerja memajukan perusahaan yang dibentuk bersama.


Tidak ada yang tahu kalau Brian diam-diam sudah membuat wasiat untuk Sean. Hingga lima tahun


kepergian Brian, perusahaan mengalami krisis dan mereka berempat mencoba mengambil uang simpanan Brian. Barulah Daniel keluar dengan selembar wasiat ditangannya.


Daniel Padini menghela napas. 'Dimana kau bersembunyi Sean?' gumam Daniel di dalam hatinya.


Lelaki itu risau memikirkan wasiat itu. Jumlah uang dan emas yang ditinggalkan Brian untuk Sean sangat besar, karena itu mereka ingin menguasai uang dan emas itu.


***


Riski tertidur begitu sampai di apartemen, sampai tidak menyadari kepulangan Giryo yang bukan di hari Sabtu. Giryo mengetuk pintu kamar Riski berkali-kali. Dia bingung tak biasanya Riski tidur sebelum pukul sebelas malam. Kalau pun tidur berarti lelaki muda itu sedang sakit atau tidak enak badan.


Mencurigakan! "Riski! Kau sudah tidur?" ketuk Giryo ke sekian kalinya di pintu kamar Riski. Riski terbangun ketika Giryo hampir mendobrak pintu kamar karena dia tak kunjung bangun atau setidaknya menjawab.

__ADS_1


"Ada apa, Giryo? Hari apa ini, kenapa kau pulang?" tanya Riski muncul dari balik pintu kamar. Dia tidak menyadari luka akibat terserempet peluru pada daun telinganya kembali berdarah hingga membuat perbannya basah karena darah.


"K-kau! Apa yang terjadi padamu, Riski! Kenapa telingamu berdarah!" seru Giryo dengan mata membesar kaget.


Sejenak Riski lupa kalau telinganya luka, dia menyentuh perban yang basah dan terkejut saat melihat darah melekat di tangannya.


"Ah, iya. Aku lupa tadi telingaku terserempet peluru saat kami dikejar ... entah dikejar siapa," jawab Riski ambigu. Dia masuk ke kamar mandi, mencoba membersihkan luka.


Giryo mengejar dan menarik Riski keluar dari kamar mandi serta mendudukannya di atas ranjang.


"Duduklah, aku akan membalut lukamu," tukas Giryo dengan wajah yang tak bisa dijelaskan, antara marah, kesal dan menyesal. Riski menurut dan duduk diam di sana, membiarkan Giryo membersihkan dan membalut luka di telinga.


"Kita harus ke rumah sakit, Riski. Luka ini perlu dijahit," ucap Giryo pelan.


"Hem... kurasa tidak perlu. Sudah tidak terasa sakit," jawab Riski tak acuh. Luka itu tidak terasa sakit lagi. Giryo menarik napas panjang. Riski tidak menyadari luka itu membuatnya mati rasa.


"Apa yang terjadi kali ini, Riski?" Giryo mengulang pertanyaannya.


***


Sementara itu di kediaman Keluarga Ritter, Cashel masuk ke kamar Xaviera.


"Siapa yang mengejar kalian? Darimana kalian? Apa kau membuat model lain sakit hati lagi, Xaviera?" cecar Cashel duduk di atas ranjang gadis manja itu. Xaviera mengalihkan pandangannya dari televisi dan langsung menatap Cashel.


"Aku tidak tahu, Pap. Akhir-akhir ini aku tidak sedang bertikai dengan siapapun. Terakhir kali Wenny Taylor. Tapi aku yakin dia tidak akan berani berbuat seperti tadi. Dia tak punya cukup uang untuk menyewa penembak, Pap. Aku yakin itu," jawab Xaviera tak acuh.


"Jadi siapa menurut perkiraanmu?"


"Aku tidak tahu, Papa. Lagipula sepanjang perjalanan tadi aku terus. menunduk. Tapi tadi siang Farrel Amora menghadang mobilku di City Super Jaya Mall. Aku memerintahkan Sean untuk menabrak mobil Lamborghini kebangaan Farrel," cerita Xaviera.


"Apa mungkin itu orang suruhan Farrel?" tukas Xaviera sambil menerawang jauh. Semakin memikirkan Farrel, semakin kesal dia mengenal lelaki itu.


"Kau tidak meihat dia di sana?" tanya Cashel lagi. Xaviera mengedikkan bahu.


"Kan sudah kukatakan aku menunduk sepanjang perjalanan pulang," jawab Xaviera dengan nada kesal.

__ADS_1


"Kau dari mana ketika kejadian itu terjadi?" Xaviera lalu terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan Alex.


***


__ADS_2