
Mengikuti dan Menjaganya dari Jarak Yang Jauh
"Kamu ada apa, Sinta?" tanya Riski yang berlari secepat mungkin ke dapur. "Nona Xaviera barusan memanggilmu, Riski,"
jawab Sinta kesal dengan mulut yang dimonyongan. "Lalu kenapa kau seperti itu?" tanya Riski bingung. Tingkah laku orang-orang di rumah ini membuatnya bingung.
"Tidak apa-apa. Pergilah dengan cepat, nanti kau diamuk Nona Xaviera lagi," tukas Sinta mengingatkan Riski.
Riski mengangguk, lalu beranjak menuju ruang tengah. Xaviera sudah menunggu di depan tangga lantai dua.
"Tolong antar aku ke Kafe Aurora, di Best Jaya Mall," perintah Xaviera tanpa ada rasa bersalah sekali pun. Wajahnya yang tergores kuku Wenny ditutupinya dengan make up hingga wajahnya tampak cantik seperti biasa. Riski terpesona.
"Kenapa? Ada apa dengan wajahku?" tanya Xaviera sambil memegangi wajahnya. Riski tersadar, lalu mengangguk.
"Kau terpesona melihat wajahku yang mulus setelah perkelahianku dengan Wenny?" tanya Xaviera lagi sambil tertawa.
"Itu belum seberapa, bodyguardku yang sedikit tolol! Nanti kau akan lihat yang lebih seru lagi!" seru Xaviera senang.
Riski hanya diam dan berlalu dari hadapan Xaviera. Dalam hati dia bertanya-tanya, apakah akan ada pertengkaran lagi di Aurora nanti? Sepertinya dia harus bersiap - siap!
Mobil sedan putih itu berhenti di depan pintu dan Xaviera langsung naik dan duduk di kursi belakang seperti biasa. Riski melajukan kendaraan dengan pelan.
"Kau ini sungguh tidak berubah sedikit pun. Tidak bisakah kau mengemudi sedikit lebih cepat? Aku akan terlambat kalau kau mengemudi seperti siput, Riski!" gerutu Xaviera.
Sean tersentak. Selama hampir sepuluh hari dia bekerja, baru kali ini Xaviera menyebut namanya dengan santai.
__ADS_1
Satu jam kemudian mobil memasuki halaman Best Jaya Mall dan Xaviera langsung turun ketika Riski berhenti di pintu masuk Mall mewah itu.
"Tunggu aku di sini," perintah Xaviera.
"Aku akan menunggu Nona di Aurora Kafe. Karena perintah Tuan Cashel jelas, melindungi dan menjaga Nona di mana saja," balas Riski dengan tenang. Xaviera mendesah. "Terserah kau saja, jangan ganggu aku!" Riski mengangguk samar, lalu dengan cepat menuju gedung parkir.
Dengan cepat Riski turun dan masuk ke dalam Best Jaya Mall. Deretan butik bermerk segera memanjakan mata. Riski menghindari mall ini karena dia tahu keuangannya tidak akan mampu membeli satu barang yang paling murah sekali pun.
Kaki Riski yang panjang langsung melangkah menuju elevator, naik ke lantai tiga di mana ada banyak kafe di sana. Mata elangnya langsung menangkap tulisan Aurora Kafe. Dia masuk dan duduk di salah satu meja kosong di sudut ruangan.
Dia melihat Xaviera di salah satu meja bersama seorang lelaki muda yang tampan. Mereka tampak begitu mesra dan tak memedulikan sekitar.
Seorang pelayan datang menawarkan menu pada Riski. Bingung harus memesan apa, karena harga yang tertera di buku menu sangat mahal. Walau Riski sudah mendapat gaji mingguannya, tetapi dia terlalu sayang untuk menghabiskan uang di kafe ini.
Akhirnya Riski hanya memesan segelas teh leci. Pelayan kafe mengernyit, lalu meninggalkan Riski begitu saja. Riski sudah terbiasa dengan tatapan meremehkan dari orang-orang, dia tak terlalu memedulikan. Semua itu sama sekali tidak penting.
Mata hitam kelam Riski menangkap gerakan Xaviera dan lelaki yang bersamanya bangkit dari kursi dan hendak keluar dari kafe. Riski meletakkan selembar uang yang cukup untuk membayar pesanannya, lalu mengikuti Xaviera yang sudah jauh dari kafe.
Menit berlalu dan Riski masih berdiri di dekat pintu masuk KTV, ragu antara masuk atau tidak. Ternyata nasib baik masih berpihak padanya. Tak lama kemudian Xaviera keluar sendirian tanpa ditemani lelaki tadi.
Wajah gadis itu tampak ditekuk dan merah. Kelihatan sekali dia kesal. Dengan cepat Riski mengikuti Xaviera. Gadis itu turun ke lantai satu. Saat kaki Riski menginjak elevator yang akan membawanya turun ke lantai satu, tiba-tiba dia mendengar teriakan Xaviera. Dia langsung berlari menuruni tangga elevator yang bergerak lambat.
Seorang laki-laki mengenakan topi dan jaket menarik tangan Xaviera dan menyeretnya menjauhi pintu mall. Riski berlari lebih cepat lagi.
Dia langsung menendang lelaki bertopi yang menarik tangan Xaviera ketika kakinya mendarat di lantai satu. Lelaki misterius itu jatuh terjerembab ketika tendangan Riski mendarat di punggungnya. Riski langsung menarik. tangan Xaviera menjauh dari lelaki itu.
"APA YANG KAU LAKUKAN!" seru Xaviera menatap tajam pada Riski. Riski. terperanjat.
"Dia... dia menarik tanganmu, Nona Xaviera!" jawab Riski tegas, tetapi juga terkejut melihat reaksi Xaviera. Bukankah tugasnya melindungi dan menjaga Xaviera dari orang-orang yang berniat jahat.
__ADS_1
Xaviera melengos dan menghempaskan pegangan Riski pada lengannya. Lelaki yang ditendang Xaviera bangkit, wajahnya terlihat marah. Itu lelaki yang sama yang ada di kafe.
Dia mulai memasang kuda-kuda untuk membalas tendangan Riski. Satu tendangan dari kaki kiri lelaki itu membuat Riski tersungkur.
"Sekali lagi kau berani meyentuhku. Bersiaplah kehilangan nyawamu!" desis lelaki itu sadis. Riski meringis memegangi perutnya yang terkena tendangan lelaki itu. Ada darah yang mengalir dari sudut bibir Riski. Dia hendak membalas lelaki itu tiba-tiba Xaviera berdiri di hadapannya.
"Kau pulang saja. Aku mau pergi dengan Farrel. Dia kekasihku! Ingat, jangan sampai berita ini sampai di telinga Papa, kau mengerti!" bisik Xaviera pelan.
Gadis itu berbalik dan memeluk lengan Farrel mesra. Lelaki itu pemilik KTV yang tadi Xaviera masuki. Mereka sengaja berpisah di sana dan bertemu di lantai satu agar tak ada yang curiga. Farrel Amora adalah anak dari rekan usaha Cashel Ritter, Raihan Amora. Dan kedua ayah mereka tidak pernah menyetujui hubungan Xaviera dan Farrel.
Mereka meninggalkan Riski yang masih terdiam di sana. Pengunjung Mall mulai mengerumuni Riski. Perlahan Riski bangkit dan mengejar Xaviera. Dia masih sempat melihat Xaviera menaiki mobil sport kuning terang yang melaju kencang meninggalkan area Best Jaya Mall.
Dia berlari menuju parkiran mobil dan segera melajukan kendaraannya. Kali ini Riski mengemudikan kendaraan dengan kencang. Dia tidak ingin kehilangan jejak Xaviera atau Cashel Ritter tak akan segan melemparkannya kembali ke jalanan.
"Sial!" umpat Riski dalam ketika lampu merah menyala membuat dia kehilangan jejak mobil Lamborghini Aventador itu.
...****************...
Sembari menunggu lampu hijau, Riski membersihkan bekas darah dari sudut bibir. Kali ini dia mengalah pada Farrel, tetapi tidak lain kali.
Diraihnya ponsel yang ada di dashboard dan menekan dua belas angka, kemudian menunggu hingga tersambung.
"Ada apa, Riski?" Suara dari seberang ponsel bertepatan dengan lampu hijau menyala.
Riski segera menceritakan kejadian barusan. Lelaki di seberang ponsel mengembuskan napasnya dengan kasar.
"apa kau terluka?" tanya lelaki itu dengan nada khawatir.
" Aku sedikit terluka."
__ADS_1
"Di mana kau sekarang? Kemarilah segera," perintah lelaki itu pelan tetapi dengan nada bicara yang tegas.
Riski mengangguk dan mengarahkan kendaraannya menuju lintasan luar kota.