
Shopping lagi
Keringat dingin mulai turun dari dahi Riski."Katakan padaku dengan jujur! Aku mau tahu kejadiannya seperti apa!" tegas Cashel dengan nada datar, tetapi terasa sangat mengintimidasi.
Ya Tuhan. Andai aku tahu akan diinterogasi, lebih baik tadi aku segera pulang saja setelah mengantar Nona Xaviera,' gerutu Riski dalam hati sambil berdoa dalam hati.
"Ta-di... tadi Nona Xaviera berkelahi de-dengan We-Wenny. Taylor di Best Jaya Mall, Tu-Tuan," jawab Riski tergagap.
Cashel diam mendengarkan dengan mata terpejam dan napas yang terdengar berat. Ini menakutkan bagi Riski. Dia sudah pernah melihat bagaimana Cashel melampiaskan kemarahan pada lelaki yang merampas barang miliknya malam itu. Dan dia tidak mau dijadikan samsak hidup Cashel ketika pria itu marah.
"Teruskan!" Riski terdiam sejenak.
"Nona Wenny memanggil Nona Xaviera, lalu mereka terlibat adu mulut, kemudian Nona Wenny menjambak rambut Nona Xaviera dan Nona Xaviera balas menendang Nona Wenny, Tuan. Kemudian... anak buah Nona Wenny mencengkram pergelangan tangan Nona Xaviera. Aku membalas cengkraman mereka. Entah bagaimana akhirnya kami semua berkelahi, Tuan. Maafkan saya, Tuan!" seru Riski menunduk meminta maaf. Cashel Ritter tidak bereaksi juga tidak berkata apa-apa. Riski semakin ketar ketir menghadapinya.
"Baiklah. Sekarang kau boleh pergi," ucap Cashel Ritter yang langsung membuat Cashel bernapas lega. Riski membungkuk hormat, lalu segera melangkah menuju ke dapur.
"Apa yang diinginkan Tuan Cashel? Apa dia memarahimu?" cecar Sinta ketika Riski muncul di dapur. "Duduk dan makanlah dulu, Riski," ucap Nyonya Salsa lembut.
"Terima kasih, Nyonya," jawab Riski patuh. Dia sudah sangat lapar karena melewatkan makan siang lagi. Apa boleh buat karena Xaviera tidak makan siang, Riski harus pandai mencari waktu untuk makan siang. Riski duduk di meja dan dengan cepat menghabiskan makanannya.
Dia harus segera pulang dan membalur luka pukul sebelum semua menjadi lebam. Untung Giryo sudah membawakan satu botol penuh arak rendaman daun obat hingga Riski tak cemas lagi.
Setelah makan, Riski pulang dengan bus terakhir ke apartemen seperti hari-hari kemarin. Duduk diam di dalam bus, Riski baru merasakan tubuhnya mulai terasa nyeri akibat pukulan para bodyguard tadi.
__ADS_1
Sampai di rumah, setelah membersihkan badan, Riski mulai membalurkan obat ke setiap luka lebam. Kali ini dia beruntung, empat orang melawannya sendiri. Haa! Bermimpi pun Riski tak yakin kalau dia bisa menang. Sungguh sangat beruntung!
Senyum senang menghiasi wajah tampannya, dan lagi-lagi dia beruntung pukulan tidak mengenai wajah. Saran Giryo cukup berguna saat ini. Dulu saat masih di sekolah, Riski sudah sering kali dipukuli sebelum dia mengenal Kakek Qin. Jadi kalau hanya luka lebam seperti ini, dia sudah terbiasa.
Sebelum tidur, Riski kembali melihat kaleng yang berisi emas peninggalan Granny. Menimbang kembali apakah akan menjualnya atau menyimpannya saja. Terus terang, Riski sendiri juga belum memerlukan kendaraan sendiri. Dia juga belum punya kekasih, rasa ragu kembali menyergap.
Kekasih! Satu kata ini membuat Riski tersenyum sendiri. Dia pernah menyukai seorang gadis saat duduk di sekolah. Namun, keadaan ekonomi Riski yang pas-pasan membuat dia tidak berani untuk menyatakan perasaannya pada gadis idola di sekolah waktu itu. Wajah tampan saja tidak cukup!
Riski menghela napas, lalu mencoba untuk tidur. Hari ini sudah terlalu banyak drama yang membuatnya lelah.
Keesokan pagi Riski bangun dengan badan terasa sakit di tubuh, tetapi dia tidak mengindahkannya. Lagipula saat menerima pekerjaan ini dia sudah mengerti resiko yang akan dihadapi. Bukankah semakin besar gaji, resiko dan tanggung jawab akan semakin besar?
"Riski, kau sudah sarapan?" sapa Sinta ketika Riski muncul di pintu dapur. "Sudah, terima kasih, Sinta," jawab Riski sopan.
"Kau mau sandwich untuk makan siang? Atau roti lapis?" tanya Sinta lagi.
"Hari ini kau akan ke mana?” tanya Sinta dengan rasa ingin tahu yang besar.
Sean mengedikkan bahu, "Nona Xaviera belum mengatakannya. Ada apa? Apa kau tahu sesuatu?"
"Sinta, jangan terlalu banyak turut campur dalam urusan Nona Muda,apa kau mengerti?" tegur Nyonya Salsa saat mendengar anaknya mencoba mencari informasi tentang Xaviera.
Riski menatap bingung pada Nyonya Salsa dan Sinta bergantian. Sementara Sinta hanya menggerutu tak jelas pada ibunya sambil membungkus roti lapis untuk ibunya.
"Jangan dengarkan Sinta, Riski. Dia terlalu ingin tahu urusan Nona Muda," ucap Nyonya Salsa lembut. Riski mengangguk.
Tak berapa lama suara Xaviera memanggil namanya terdengar. Kali ini suaranya terdengar lebih lembut, tidak melengking seperti biasa.
__ADS_1
"Ayo pergi," tukas Xaviera dari lantai dua. Riski mengangguk lalu segera pergi ke dapur.
"Kau mau ke mana lagi?" tanya Sinta cepat sambil memberikan bungkusan sandwich pada Sean.
"Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya mengajak aku pergi," jawab Riski sambil berlalu, "Terima kasih, ya."
Riski segera membawa sedan putih itu ke halaman depan dan berhenti di pintu masuk. Xaviera keluar begitu melihat mobilnya datang, lalu segera naik ke mobil.
"Ke City Super Jaya Mall. Kemarin rencanaku dikacau gara-gara Wenny. Awas saja kalau hari ini bertemu lagi dengannya," ucap Xaviera seraya menggerutu kesal.
Riski hanya mengangguk dan melajukan kendaraan seperti biasa pelan dan tenang. Bukankah mereka tidak sedang terburu waktu. Beda dengan saat dia sedang memburu Xaviera dan Farrel, mengejar waktu.
Memikirkan Xaviera dan Farrel, tiba-tiba Riski baru ingat, kenapa Nona Muda-nya ini tidak pernah menyebut ataupun mencuri bertemu dengan Farrel Amora lagi? Ah... sudahlah, bukan urusannya.
Sampai di City Super Jaya Mall, Riski memarkirkan mobil di gedung parkir yang langsung terhubung dengan mall yang menjual peralatan perlengkapan rumah tangga di lantai tiga.
"Ikut denganku, Riski," ucap Xaviera datar. Riski mengangguk lagi. Hari ini terasa lebih baik, terutama karena gadis itu tidak lagi berteriak dengan suara melengking yang memekakkan telinga.
Sepanjang pagi menjelang siang, Riski menemani gadis manja yang angkuh itu berbelanja hingga tiga keranjang penuh, lebih banyak dari kemarin.
"Ayo kita makan siang, Riski," ajak Xaviera senang. Senyum sumringah terlukis di wajah cantik itu. Riski tertegun. Mimpi apa dia semalam? Ataukah dia berada di alam mimpi? "Saya taruh belanjaan di mobil dulu, Nona," ucap Riski sopan.
"Tidak usah, kita makan di luar mall saja. Di sini terlalu ramai, aku tidak mau bertemu dengan musuh-musuhku lagi. Ayo jalan," ajak Xaviera mengambil satu kantong belanjaan yang paling ringan dan berjalan di depan Riski yang membawa lebih dari lima kantong belanjaan. Senyum itu masih tetap terlukis indah di wajah cantik Xaviera, membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona.
Setelah memasukkan semua belanjaan ke dalam mobil, lalu Riski mulai melajukan kendaraan dengan Xaviera duduk di depan, di sampingnya. Tiba-tiba mobil putih itu berhenti mendadak karena mobil Lamborghini kuning cerah menghadang jalannya mobil.
"Tabrak saja mobil itu, Riski!" seru Xaviera cepat. Riski tersentak.
__ADS_1
***