
BukitĀ Cinta
"Aku akan pergi bekerja lagi hari ini, Giryo" ucap Riski sambil menikmati pancake. Giryo yang sedang menuangkan susu ke gelas Sean langsung berhenti dan menatap tajam pada lelaki muda itu.
"Apa kau yakin, Riski ?" tanya Giryo. Riski mengangguk.
"Bagaimana kalau besok saja. Hari ini istirahat satu hari lagi, Riski. Biar tubuhmu benar-benar pulih," saran Giryo.
"Pekerjaanku menunggu. Karena nona Xaviera hari ini ada pemotretan. Tidak mungkin dia membatalkan
pemotretan hanya karena aku tidak
masuk, Giryo. Aku saat ini benar-benar sudah sehat," jawab Riski sambil tersenyum mencoba meyakinan Giryo.
Giryo membuang napas kasar. "Baiklah. Aku ada di rumah. Kalau kau merasa tidak sehat, segera pulang, Riski."
Riski mengangguk senang. Setelah sarapan selesai, Riski bersiap pergi ke kediaman keluarga Ritter.
"RISKI! Apa kau sudah sehat? Kau tidak apa-apa 'kan?" seru Sinta begitu melihat Riski muncul di pintu dapur.
Riski tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Kemarin istirahat sehari sudah cukup. Apakah ada kejadian kemarin saat aku tak ada?"
Sinta menggeleng. "Nona Xaviera tadi berpesan agar kau segera mencarinya begitu kau datang."
Riski mengangguk. "Apa kau sudah sarapan, Riski?" tanya Sinta.
"Sudah makan. Tadi kakakku sedang ada dirumah, dia cuti sampai minggu depan," jawab Riski senang.
"Apa kau punya kakak?" tanya Sinta heran, "Kau tidak pernah menceritakannya padaku, Riski!"
Riski tertawa kecil.
__ADS_1
"Itu bukan hal besar, Sinta. Aku ke depan dulu, ya." Riski menunjuk ke ruang tengah. Sinta mengangguk.
Xaviera berdiri di pagar pembatas lantai dua, dia terus keluar masuk dari kamarnya ke pagar pembatas melihat apakah Riski sudah datang atau belum.
Ayahnya sudah mengijinkan dia pergi selama bersama Riski dan Xaviera menyetujuinya. Dia punya rahasia yang hanya Riski yang tahu, tentu saja dia setuju dengan usulan Cashel.
"Riski! Apa kau sudah sehat? Ayo kita pergi sekarang!" ajak Xaviera bersemangat, setelah kemarin dia seharian di rumah karena Cashel sama sekali tak mengijinkan dia keluar sendirian tanpa pengawal.
Riski mengangguk."Hari ini kita menggunakan mobil Hammer hitam punya Papa. Tadi dia sudah mengatakan agar kita menggunakan mobil itu selama mobilku masuk bengkel." Ucap Xaviera
"Baik, aku akan menyiapkan mobil dulu, Nona Xaviera," ucap Riski mengangguk hormat, lalu segera berbalik menuju dapur. Mobil Hammer ada di garasi halaman belakang rumah mewah ini.
Setelah memanaskan mesin mobil, Riski melajukan mobil menuju ke pintu depan dan berhenti sambil menunggu Xaviera.
Lima menit kemudian gadis itu keluar mengenakan kaos tanpa lengan dan celana kain panjang serta long coat senada berwarna cokelat. Nampak modis. Riski langsung berpikir mereka akan ke studio foto.
"Ke Studio, Nona Xaviera?" tanya Riski ketika Xaviera naik ke kursi belakang.
"Tidak, jadwal pemotretan sudah ku undur minggu depan. Kita hari ini keliling saja. Aku sudah lama tidak berkeliling. Ada satu tempat agak di luar kota. Aku ingin ke sana."
"Baiklah, di mana itu, Nona Xaviera?"
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Xaviera sibuk melihat pemandangan begitu kendaraan melewati batas kota.
Sementara Riski berkonsentrasi penuh pada jalanan rata. Mobil meluncur mulus. Satu jam setengah kemudian, bukit cinta sudah mulai terlihat dikejauhan.
Bukit cinta adalah sebuah taman yang ditanami beraneka bunga, terutama bunga mawar.
Bukit cinta tidak terlalu ramai hari ini, mungkin karena bukan di akhir minggu. Xaviera turun setelah Riski memarkirkan kendaraan dilokasi parkir yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk.
Riski turun kemudian memakai kacamata hitam, tampak sepadan dengan jaket kulit hitam yang dikenakannya.
"Kau kelihatan sangat tampan, Riski. Lihat gadis-gadis di sebelah sana menoleh dan tidak berkedip melihatmu," goda Xaviera terkikik.
Riski langsung salah tingkah digoda seperti itu. Wajahnya bersemu merah, membuat Xaviera semakin tertarik menggodanya.
__ADS_1
Xaviera menggandeng tangan Riski yang langsung membuat lelakiitu berhenti melangkah dan diam.
"Kenapa? Apa kau tidak suka aku menggandeng tanganmu?" tanya Xaviera dengan wajah sedikit cemberut.
"A-aku... aku tidak terbiasa, Nona Xaviera," jawab Riski pelan. Dia semakin bingung dengan perubahan Xaviera.
"Kalau begitu kau harus mulai membiasakan diri dari sekarang, Riski," bisik Xaviera yang membuat Riski semakin salah tingkah. Apalagi serombongan gadis-gadis yang ditunjuk Xaviera tadi mulai berbisik-bisik dengan tatapan tak beralih dari mereka.
"Bagaimana kalau ada yang mencuri fotomu dan membuat postingan jelek tentangmu, Nona Xaviera," ucap Riski lirih seperti berbisik. Terus terang saja dia tidak ingin ada gosip baru tentang dia dan Xaviera.
"Tenang saja, kau mengenakan kaca mata hitam begitu siapa yang bisa mengenalimu sebagai pengawalku, Riski! Biarkan saja mereka berspekulasi tentangku. Aku tak peduli," jawab Xaviera acuh. Dia berjalan sambil terus mengeratkan gandengan di lengan Riski.
"Santai saja, Riski! Tubuhmu begitu kaku, aku jadi seperti menggandeng tangan robot, apa kau tahu?!" bisik Xaviera terkikik. Dia senang sekali menggoda Riski karena tahu Riski tidak akan marah padanya.
Ada getaran halus di hati Riski saat Xaviera menggandeng lengannya begitu dekat dan erat. Rasa yang belum pernah dia rasakan seumur hidup. Riski terus memikirkannya, rasa apa itu? Apa mungkin Xaviera menyukainya? Tidak mungkin! Apa Riski menyukai Xaviera? Tidak mungkin!
Riski mungkin menyukai perubahan gadis angkuh dan manja itu menjadi seperti sekarang. Dia mulai bersikap baik dan yeah... Riski menyukai itu. Akan tetapi untuk jatuh cinta? Riski belum gila. Dia hanya bodyguard, pengawal yang harus menjaga majikannya dari segala sesuatu yang buruk. Jadi sangat tidak mungkin Riski jatuh cinta padanya.
Lelaki muda itu menepis jauh-jauh pikiran yang mengacak kacau isi kepalanya.
"Riski, ambilkan fotoku di tengah bunga tulip itu," titah Xaviera saat melihat deretan bunga tulip dengan aneka warna sedang mekar.
Sepertinya ini bongkol bunga terakhir yang mekar sebelum musim dingin tiba. Riski mengangguk dan mengambil ponsel yang disodorkan Xaviera.
"Ambil dua atau tiga lembar, nanti aku akan memilih yang terbaik, Riski," seru Xaviera senang sambil berlari menuju ke arah taman bunga tulip.
Riski mulai mengarahkan kamera ponsel ke arah Xaviera dan gadis itu mulai bergaya sekehendak hatinya. Beberapa kali Riski menekan tombol tuts pada ponsel Xaviera.
Hati Riski kembali bergetar aneh saat melihat Xaviera yang nampak bersinar di tengah bunga yang bermekaran. Dia menepuk pipinya sendiri, 'Sadar Riski, dia terlalu tinggi dan jauh untuk kau raih.'
Menjelang sore hujan turun, Xaviera segera berlari ke pondok yang ada di sana untuk berteduh. Riski berjalan santai mengiringi gadis itu.
Sepasang mata biru yang indah menatap Riski dari jauh di salah satu pondok yang ada di dekat sana. Mata biru itu menatap penuh rasa ingin tahu. Dia melihat Xaviera lama lalu beralih pada ponsel yang ada di tangannya.
Nama Xaviera Ritter muncul di layar akun sosial media gadis bermata biru itu. Tiba-tiba dia sangat bersemangat.
__ADS_1
"I got you!" desisnya sangat senang.
***