
Harta Karun di dalam Kamar Granny?
"Ada apa dengan Granny?" tanya Giryo masih tak acuh..
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya bertanya, apa kau tahu rahasia tentang Granny yang aku tidak tahu," tanya ulang Riski.
"Tidak ada. Kau 'kan tahu, aku dan Granny tidak terlalu dekat. Hanya saja dia sering menolongku, memberiku makanan, juga mengajakku tinggal bersamanya. Jadi aku membalasnya dengan memasak. Karena hanya itu kepandaian yang aku punya. Memangnya kau menemukan apa di dalam kamar Granny?" tanya Giryo duduk di hadapan Riski setelah selesai mencuci piring.
"Ya... aku tahu cerita awal mula kau bertemu Granny. Apa kau yakin Granny tidak pernah bercerita sesuatu padamu, Kakak?" Riski mencoba mengorek keterangan pada Giryo.
"Ya sudah kalau kau tahu. Aku tidak tahu ada rahasia apa yang disimpan Granny, Riski. Memangnya ada apa? Kau tidak menjawab pertanyaanku. Sebenarnya ada apa dengan Granny? Mengapa kau begitu ingin tahu? Bukankah kau sedang membersihkan kamar Granny?"
"Justru karena itu aku ingin tahu, Giryo. Aku belum memeriksa semua barang-barang peninggalan Granny. Kau mau menemaniku?"
"Tidak, tidak. Aku harus kembali ke kedai. Hari Minggu aku akan kembali dan bermalam di sini. Ini baru hari Jumat." Giryo beralasan.
Riski mengangguk. Giryo menuju lemari es dan mengambil sebotol air mineral, "Aku pergi."
"Eh, tunggu, Giryo. Kau mau kamar yang mana? Kamar yang sekarang atau kamar Granny?" seru Riski sewaktu Giryo akan melangkah pergi.
__ADS_1
"Terserah kau saja. Tak masalah bagiku mau tidur di mana," jawab Giryo santai dengan senyuman menghias wajah tampan yang mulai berkerut di makan usia. "Baiklah, aku akan tidur di kamar Granny dan kamar kita akan menjadi kamarmu. Bagaimana? Apa kau setuju?"ucap Riski lagi.
Giryo mengangguk, lalu mengangkat tangannya dan menutup pintu. Riski tersenyum pada Giryo. Dia tahu apapun yang diputuskannya, Giryo pasti akan setuju. Lelaki itu bukan seorang pemilih, apalagi hanya soal kamar tidur. Bukan masalah besar.
Setelah merasa perutnya sudah tidak terlalu kenyang lagi, Riski mulai membuka kotak peti bergembok. Dia mengambil peralatan obeng datar dan mulai mencoba membuka gembok yang sudah berkarat. Walau ada kunci sekalipun, pasti akan kesulitan untuk membukanya.
Setelah beberapa saat akhirnya Riski berhasil membuka gembok itu. Dia bersorak sendirian untuk keberhasilannya. Dia segera membuka peti itu dan terkejut. Isinya hanya setumpuk buku-buku tua. Riski berdecak kesal, pekerjaannya bertambah lagi yaitu memeriksa buku-buku itu.
Tadi sebelum makan siang, dia sudah membuka semua kardus kertas yang semua isinya adalah buku. Sekarang, peti bergembok juga buku! Dia tidak mengerti kalau hanya buku-buku bekas dan tidak penting mengapa Granny menyimpannya seumur hidup.
Riski menutup kembali kotak itu lalu mencoba membuka peti bergembok yang kedua. Dia agak ragu untuk membuka peti bergembok itu, karena yakin isinya pasti tidak akan jauh berbeda dengan yang pertama.
Akhirnya Riski mengambil obeng datar tadi dan mulai mencongkel gembok itu. Kondisi gembok pun hampir sama seperti yang pertama. Berkarat dan susah untuk dibuka, tetapi gembok ini sedikit berbeda dengan yang pertama. Yang kedua ini lebih mudah dibuka dan tidak memerlukan usaha. Sepertinya peti kedua ini lebih sering dibuka waktu dulu.
Hanya tersisa satu koper lagi yang belum dibongkar. Harapan Riski untuk menemukan harta karun lagi semakin tipis. Dia menyeka keringat yang meluncur dari dahinya yang mulus. Udara siang itu semakin panas dan kering.
Setelah menghabiskan satu botol air mineral dingin dari lemari es, Riski menarik koper tua yang berat itu dan mulai mengotak atik gembok dengan obeng datar. Tidak sia-sia dia bekerja di bengkel hampir tiga tahun. Kali ini tidak perlu waktu lama, lima menit saja koper sudah terbuka.
Lagi-lagi Riski terperangah melihat isi koper itu. Belasan guci keramik dengan ornamen dan lukisan yang antik tersusun rapi di dalam koper terbungkus plastik bubble untuk menghindari guci saling beradu, juga kedap suara.
"Ya Tuhan, Granny! Untuk apa semua ini?" seru Riski antara terperangah dan kecewa. Andai saja isi di dalam koper adalah uang, bukankah dia bisa segera berhenti menjadi bodyguard dan mencari pekerjaan baru tanpa khawatir dengan uang sewa apartemen. Namun, kembali Riski menyadari bahwa dia seharusnya bersyukur bahwa dia menjadi bodyguard dengan bayaran yang lumayan tinggi.
Riski menghela napas, lalu mulai membuka plastik bubble pembungkus keramin-keramik itu. Mungkin pasar loak mau membelinya, pikir Riski sambil terus bekerja. Masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, buku-buku itu masih menanti untuk diperiksa kegunaannya. Fiuhh....
__ADS_1
Ada dua puluh dua keramik. berbentuk guci, Riski menjejerkan semuanya di atas meja. Ada yang aneh. Riski terus berpikir, apa yang berbeda diantara dua puluh dua keramik yang berbaris itu?
Dia terus memperhatikan satu persatu keramik itu. Kemudian tangannya mulai mengangkat satu persatu dan melihat ke bawah keramik. Riski mulai menyadari ada tiga keramik berbeda dari yang lain.
Bukan soal bentuk, warna dan gambar, karena semua keramik itu bentuk, warna dan mempunyai gambar yang sama. Akan tetapi ketiga keramik yang dipisahkan oleh Riski mempunyai berat yang berbeda. Ada lubang kecil dibawah guci dan juga penutup dari karet. Persis seperti celengan keramik.
Ada sesuatu yang berbunyi di dalamnya saat Riski menguncang keramik itu. Dia mulai berharap menemukan sesuatu yang berharga di sana.
'Oh Granny, kuharap ini sesuatu yang bisa membuat hidupku lebih nyaman,' doa Riski dalam hati,
Bunyi ponsel dari dalam kamar memecah konsentrasi Riski saat akan mencoba membuka penutup karet salah satu keramik itu.
"****! Siapa yang meneleponku malam-malam begini!" umpat Riski sambil berjalan menuju kamar. ' Cashel Ritter'! Nama itu membuat jantung Riski berdetak lebih cepat.
Dengan cepat Riski menekan tombol hijau, dan suara Cashel Ritter segera terdengar dari speaker ponsel.
"Ya, Tuan?" sapa Riski dengan suara sedikit bergetar,
"Riski, saat kau datang Senin pagi, segera temui aku!" perintah Cashel Ritter dengan suara bass yang berat
dan tegas.
"Baik, Tuan Cashel," jawab Riski setengah lega. Dia belum lega sepenuhnya karena tidak tahu apa yang Cashel butuhkan Senin pagi besok.
__ADS_1
Entah apakah dia akan diberhentikan ataukah ada tugas baru selain menjaga Nona Xaviera. Riski segera meletakkan ponsel keatas meja kamar setelah telepon terputus. Baru akan melangkah keluar kamar tiba-tiba Riski berbalik lagi pada ponselnya, kemudian menekan tombo off, dan keluar kamar. Dia sekarang sedang sangat antusias terhadap guci keramik di atas meja dan tak ingin diganggu.