Sang Ajudan Tampan

Sang Ajudan Tampan
Bab 11


__ADS_3


Akhirnya!



Riski melanjutkan membongkar salah satu dari tiga guci keramik yang berbeda. Dia berhasil membuka penutup karet yang melekat erat di lubang keramik yang ada di genggamannya.


"Tinngg.... tinnnggg"


Ada bunyi berdenting dari dalam lubang kecil itu. Berarti ada sesuatu di dalamnya. Riski semakin bersemangat. Dia mengguncang perlahan guci keramik itu mencoba mengeluarkan benda yang berdenting. Bunyi dentingan semakin besar dan tidak hanya satu.


Rasa antusias semakin membuncah di dada Riski. Ini pasti sesuatu yang bagus. Memikirkan hal ini dia semakin merasa senang.


'Klenting!!!'


Sesuatu yang berkilau keluar dari lubang guci dan langsung menggelinding ke bawah meja, lalu terus menggelinding entah kemana. Riski terkejut hingga guci keramik hampir terlepas dari tangannya.


"Apa itu?" seru Riski dengan kening berkerut. Dia kembali mengguncangkan keramik karena dentingan dari dalam guci masih berbunyi. Berarti masih ada banyak di dalam keramik.


'Semoga bukan batu! Tapi tadi benda itu berkilau,' pikir Riski dalam hati sambil terus mengguncang guci. Semakin besar bunyi dentingan, semakin besar rasa penasaran Riski.


Dengan semangat yang menggebu-gebu terus menggoyangkan guci keramik. Lalu, tiba-tiba sesuatu


menggelinding keluar dalam jumlah lumayan banyak. Menggelinding ke sembarang arah, Riski hanya sempat mengambil satu. Dia terpana melihat benda berkilau yang ada di telapak tangannya.


BERLIAN!


Walau berlian itu kecil, tapi sinar yang dipancarkannya sungguh luar biasa. Binar mata Riski langsung mewakili semangatnya.


*********


Riski duduk di beranda depan menimang-nimang puluhan berlian yang ditemukannya tadi malam dari ketiga guci keramik. Dilihat dari sisi manapun, berlian-berlian itu bersinar indah.


"Pasti harga berlian-berlian ini sangatlah mahal," gumam Riski sambil terus mengamati berlian yang ada di tempatkannya di kaleng tipis yang ditemukannya dari kamar Granny.

__ADS_1


Riski tersenyum senang. Sore ini Giryo akan pulang dan menginap hingga Minggu malam. Dia harus segera membersihan kamar Granny karena malam ini dia akan tidur di sana.


Dengan semangat Riski mulai membersihkan kamar, lalu memindahkan baju dan barang barang miiknya yang tidak banyak ke kamar baru. Dia dan Giryo akan tidur di kamar yang berbeda untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu beberapa tahun silam.


Menjelang siang, Riski sudah selesai memindahkan barang dan sedikit memberi hiasan pada kamar barunya. Juga dia sangat antusias tentang berlian-berlian itu. Setelah makan siang, dia mulai mencari informasi dari dunia maya.


Ada banyak jenis berlian dan Riski tidak tahu jenis yang mana berlian yang didapatkannya. Fiuhh... ternyata cukup rumit juga, sudah hampir dua jam dia di depan ponsel, tetapi jenis berlian masih juga tidak ditemukannya.


Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Riski, bagaimana kalau ternyata berlian itu adalah hasil curian? Ya, mungin bukan Granny yang mencurinya, tetapi dia hanya menyimpannya saja. Terus seandainya Riski membawanya ke toko emas atau perhiasaan, lalu ternyata berlian-berlian itu memang curian dia pasti akan langsung - dibawa ke kantor polisi. Riski bergidik saat pikiran itu muncul.


"Sudahlah, sebaiknya kusimpan lagi saja berlian-berlian itu," gumam Riski kecut.


Bunyi pesan masuk di ponsel Riski mengejutkan dia dari segala pikiran buruknya. Riski bergegas menraih ponsel dari atas meja kamarnya dan melihat siapa yang mengirimkannya pesan.


[Nasibmu sungguh beruntung, Riski. Jarang-jarang sekali Tuan Cashel memberikan libur.]


Senyum mengembang di wajah Riski setelah membaca pesan dari Sinta.


[Memangnya kau tidak pernah libur ?] balas Riski cepat.


[Iya tentu saja. Untuk apa aku membohongimu?]


Riski tertawa lebar. Sedetik kemudian dia ingat telepon dari Cashel tapi pagi.


[Tuan Cashel memintaku menghadapnya di hari Senin besok. Ada apa, Sinta?]


[Aku tidak tahu. Tidak ada kejadian apa-apa sejak kau pulang dua hari yang lalu.]


[Ohya? Baguslah aku sudah sangat khawatir Tuan Cashel akan memecatku karena lalai pada Nona Xaviera]


[Nona Xaviera? Ah... Nona manja satu itu memang biang kerok, selalu membuat masalah, Riski]


[Ceritakan padaku, Sinta, apa yang terjadi dengan bodyguard sebelum aku?] Riski mencoba mengorek keterangan pada gadis itu. Sudah sebulan Riski bekerja di sana, tetapi tidak ada yang pernah mengungkit tentang pengawal Nona Xaviera sebelum dirinya. Riski ingin tahu!


[Pengawal Nona Xaviera sebelum dirimu? Hem... kenapa kau ingin tahu?]

__ADS_1


[Ayolah Sinta. Jangan main teka teki denganku. Katakan saja. Atau kau ingin aku memberimu sesuatu?] Riski mencoba membujuk Sinta yang saat ini sedang menertawakan keingintahuan Riski terhadap kediaman keluarga Ritter.


Lama Riski menunggu balasan dari Sinta, tapi gadis itu sepertinya sedang sibuk karena tidak ada pesan balasan darinya.


Riski merengut kesal. Dia berbaring di atas kasur yang baru saja berganti seprai. Harum dan licin.


[Sinta, ayolah!] Hanya beberapa detik pesan terkirim, balasan dari Sinta datang. Gadis itu mengirimkan pesan wajah tertawa lebar. Riski semakin penasaran.


[Apa kau tidak pernah melihat surat kabar? Atau social media Nona Xaviera? Tapi seandainya kau memang tidak tahu dan ingin tahu, kusarankan baca saja berita Nona di sana. Hanya satu kupesan, jangan terlalu percaya berita-berita itu. Tidak semua yang ditulis berita online itu benar, Riski]


Riski mengerutkan dahi heran. Kalau berita-berita itu tidak dapat dipercaya, lalu mengapa Sinta menyuruhnya untuk membaca berita-berita itu?


Sinta sungguh membuat Riski penasaran! Dilemparnya benda pipih itu. sampai ke ujung ranjang. Riski. berbaring sambil memandang langit-langit kamar. Mencoba memikirkan rahasia apa sebenarnya yang disimpan oleh Granny selama ini?


Riski bangkit dan meraih kotak perhiasan yang diambilnya dari kamar Granny sebelumnya. Dia belum melihat semua perhiasan itu.


Mata Sean terpesona saat melihat deretan perhiasan yang di susun berdasarkan jenisnya. Kalung, gelang, cincin, anting, semua terbuat dari emas dua puluh empat karat. Dia mencoba mengira-ngira berapa banyak yang akan didapatnya dari emas-emas itu? Sepertinya akan cukup untuk membiayai hidupnya beberapa tahun mendatang. Akan tetapi tidak akan cukup untuk membiayai seumur hidupnya.


Bunyi pintu dibuka membuat Riski langsung bangkit dari pembaringan dan berlari keluar kamar. Giryo pulang dengan membawa sekantung makanan.


"Kau belum makan malam 'kan ?" sapa Giryo saat melihat Riski keluar dari dalam kamar. Riski mengangguk.


"Sudah kuduga. Ini aku bawakan makanan dari kedai," ujar Giryo tersenyum. Dia menganggap Riski sebagai adik yang tidak dipunyainya. Dia bahkan lebih menyedihkan dari Riski yang hidup terlunta-lunta tanpa tahu siapa orang tuanya.


"Giryo, aku sudah membenahi kamarmu. Malam ini kau bisa tidur nyenyak di sana," ucap Riski dengan senang. Giryo tertawa.


"Semoga malam ini kita bermimpi indah, Riski," tukas Giryo senang.


Riski menuju lemari es mengambil dua kaleng bir, lalu melemparkan sekaleng bir pada Giryo, "Ayo kita rayakan malam ini.”


Keduanya duduk di balkon yang ada di kamar Granny, melihat ke arah jalan yang mulai remang dan lampu kota yang mulai hidup satu per satu.


"Masa depan kita di mulai dari sekarang, tosss ....” Riski megangkat kaleng bir ke atas dan disambut oleh Giryo yang menyatukan kedua kaleng hingga berdenting, lalu keduanya tertawa senang.


***

__ADS_1


__ADS_2