Sang Ajudan Tampan

Sang Ajudan Tampan
Bab 13


__ADS_3


Sweet Castle



"Riski, aku sudah menyiapkan makanan beku di dalam kulkas, makan malam tinggal kau panaskan saja, oke?" tukas Giryo di depan pintu kamar Riski.


"Aku pergi," pamit Giryo lagi. Dia harus bergegas ke halte supaya tidak ketinggalan bus pagi untuk pulang ke kedai yang terletak di pinggiran luar kota.


"Terima kasih, Giryo!" seru Riski dari dalam kamar.


"Kau sedang apa?" seru Giryo bertanya karena Sean belum juga muncul dari dalam kamar.


"Aku sedang bersiap - siap. Ada apa?" tanya Riski muncul didepan pintu.


"Aku mau pergi, tadi kukira kau belum bangun," jawab Giryo tertawa. "Tentu saja aku sudah bangun. Pagi ini aku tidak boleh terlambat, kau tahu itu? Tuan Cashel Ritter sudah


menegaskan itu kemarin," ucap Riskib dengan mata mendelik.


"Ohya? Ada apa pagi ini? Ingat Riski, kau harus berhati-hati setiap menjalankan tugas. Apalagi jika kau harus menghadapi mafia atau pun pengawal gadis lain. Ingat itu!" tegas Giryo.


"Baik, Giryo. Aku akan ingat, oke? Sekarang pergilah atau kau akan ketinggalan bus," seru Riski dengan mata tertuju pada jam dinding.


"Iya - iya, aku pergi!" seru Giryo terburu meninggalkan Riski yang terbahak melihatnya terburu-buru.


Dia juga harus segera pergi kalau tidak ingin terlambat sampai di kediaman rumah keluarga Ritter.


***


"Riski! Cepat! Kau sudah ditunggu Tuan Ritter!" seru Sinta begitu Riski memasukki pintu dapur.


Riski segera bergegas masuk ke dalam ruang keluarga. Tuan Cashel Ritter sudah duduk di sofa depan televisi dengan tubuh tegap.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan Cashel ," sapa Riski sambil menunduk hormat. "Kau sudah datang! Mulai hari ini kau tidak boleh melepaskan pengawasanmu dari Xaviera walau sedetik pun. Ikuti dia kemana pun dia pergi. Ke kamar mandi sekali pun, kau harus berjaga di depannya!" perintah Cashel yang langsung membuat Riski menaikkan alis, bingung.


"Apa terjadi sesuatu kemarin, Tuan?" tanya Riski. "Aku memerintahkanmu begitu, apa masih perlu alasan?!?" sergah Cashel dingin.


"Ah... eh, baiklah, Tuan!" jawab Riski salah tingkah. Dia menyesal bertanya seperti itu kepada Cashel.


Kali ini Nona Xaviera pasti akan semakin menyulitkannya. Riski yakin sekali akan hal itu. Riski mengangguk, lalu kembali ke dapur. Dia akan menanyakan pada Sinta, ada kejadian apa kemarin, karena dia merasa sangat aneh.


"Sinta, apa ada sesuatu yang terjadi antara Tuan Cashel dan Nona Xaviera selama aku tidak masuk tiga hari kemarin?" tanya Riski saat melihat Sinta sedang membersihkan lantai dapur.


"Minggir, Riski! Kau tidak lihat aku sedang mengepel lantai?!" gerutu Sinta.


"Maaf, eh kau tahu tidak?" Riski mengulang pertanyaannya. "Apa?"


"Duh, kau kenapa hari ini? Semalam bergadangkah? Lemot sekali kau hari ini, Sinta!" jawab Riski kesal.


Belum sempat dia mengulang pertanyaannya, suara jeritan Xaviera memanggil namanya terdengar jelas hingga ke dapur. Riski langsung berlari ke ruang keluarga.


Xaviera sudah berdiri dengan tangan di pinggang, pakaiannya kali ini sangat sangat sopan, tidak seperti biasanya seksi dan kurang bahan.


"Katakan padaku Riski, apa alasanmu menerima permintaan dari Papa untuk menjadi bodyguardku!" seru Xaviera bertanya dengan suara melengking.


"Karena uang! Aku butuh uang, Nona Xaviera" jawab Riski tegas. "Aku akan memberimu seluruh uangku! Segera berhenti jadi pengawalku!" "Tuan Cashel yang menggajiku,Nona Xaviera. Jadi yang bisa memberhentikan aku hanya Tuan Cashel Ritter. Maaf!" jawab Riski tegas.


Wajah cantik itu langsung seketika merengut kesal. DIa sama sekali tak menyangka kalau Riski malah beradu mulut dengannya. Rencana memberikan Riski sejumlah uang agar dia berhenti gagal sudah.


Xaviera naik ke kamarnya dengan gemuruh di dada, antara marah dan kesal. Rasa hati ingin mencekik Riski. Terutama karena dia menyeretnya kembali, walaupun sebenarnya Riski sudah menyelamatkan dia dari perbuatan tak senonoh Farrel dan Astra.


Gadis itu menggenggam kedua tangan menahan rasa kesal. Dan sekarang dia bagai tahanan di rumahnya sendiri. Semua gara-gara Riski!


Hari ini tidak ada jadwal pemotretan, hanya ada pertemuan dengan agency yang mengurus jadwal serta honor yang akan diterima Xaviera.


Tiba-tiba Xaviera teringat, hari ini dia harus ke apartemen Sweet Castle di Fourth Avenue, pusat kota. Bulan lalu tanpa sepengetahuan ayahnya, gadis itu membeli satu unit apartemen. Kemudian merenovasi apartemen sesuai keinginannya sendiri. Hari ini pihak pengembang akan menyerahkan kunci setelah menyelesaikan renovasi.

__ADS_1


"RISKI!!!" teriak Xaviera di gagang interkom yang terhubung ke dapur, "Tunggu di depan, SEKARANG!"


Riski yang sedang di garasi membersihkan mobil langsung tersentak saat Sinta memanggilnya dengan terburu-buru.


"Nona Xaviera menunggu di pintu depan, Riski!" seru Sinta di ujung pintu garasi.


Dengan cepat Riski membereskan peralatan yang digunakan tadi dan segera menyalakan mobil, siap untuk pergi. Sampai di pintu depan, Xaviera sudah berdiri di tengah pintu dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Ke Sweet Castle!" perintah Xaviera dengan angkuh, lalu berselancar di dunia maya tanpa memedulikan Riski.


Riski hanya menarik napas panjang, lalu melanjukan sedan putih itu menuju ke Fourth Avenue.


Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan antara keduanya. Hingga mobil tiba di apartemen Sweet Castle, Xaviera turun begitu saja meninggalkan Riski di mobil menunggunya.


"Nona Xaviera Ritter, selamat datang. Silahkan dilihat dulu unit apartemen ini. Apakah sudah sesuai dengan keinginanmu atau ada yang ingin anda ubah?" sapa Tuan Alex Mc. Rizwan, perwakilan pengembang.


Xaviera mengangguk dengan wajah berseri. Masuk ke dalam unit apartemen di lantai dua puluh empat sesuai dengan tanggal lahirnya, tower Dandelion.


Gadis itu tersenyum sumringah saat melihat ke dalam apartemen. Semua sesuai dengan keinginannya, bahkan kain tirai pun sesuai. Dia tersenyum puas. Akhirnya keinginannya untuk terbebas dari ayahnya.


"Silahkan ke kantor di samping loby, Nona Xaviera. Kita selesaikan semua di sana. Setelah itu, unit ini akan menjadi milik anda," ucap Tuan Alex senang melihat reaksi Xaviera.


Xaviera mengangguk senang. Dia berencana pergi berbelanja setelah serah terima selesai. Memikirkan hal ini membuat hatinya senang. Senyum sumringah tak lepas dari wajah jelitanya itu.


Setelah mengantongi surat-surat, Xaviera naik lagi ke lantai dua puluh empat, melihat dan mencatat barang-barang apa saja yang akan dibelinya nanti. Dia menjadi sangat bersemangat.


Setengah jam kemudian dia turun dan menuju ke mobil. Di mana Riski? Dia tidak menemui lelaki menyebalkan itu di sana.


Xaviera menunggu di lobi. Tidak biasanya dia begitu sabar menunggu. Detik demi detik berlalu, gadis itu menunggu hingga lima belas menit berlalu. Ini rekor terbaru!


Namun, hingga tujuh belas menit kemudian, kesabaran Xaviera mulai menipis. Emosi mulai menguasai gadis cantik itu. Meriah ponsel di dalam tas kecil yang selalu dibawanya, lalu menekan beberapa angka dan menunggu sebentar.


"RISKI BODOH! KAU ADA DI MANA !" jerit Xaviera dengan kesal, "CEPAT KEMBALI!"

__ADS_1


***


__ADS_2