Sang Ajudan Tampan

Sang Ajudan Tampan
Bab 19


__ADS_3


Serangan Tak Dikenal



Mobil mulai melesat ke kanan dan kiri, berusaha melepaskan diri dari kepungan orang yang Riski dan Xaviera tidak tahu siapa mereka.


"PEGANGAN YANG KUAT, NONA," seru Riski tertahan. Dia berusaha untuk tidak membuat Xaviera panik, tetapi gadis itu sudah panik duluan. Berpegangan erat pada sabuk pengaman juga handle grip di pintu. Mobil terus bermanuver dan zig zag di jalan yang padat sore itu. Sekarang jam pulang kantor, jalan raya ramai dan padat. Riski terus berusaha mencari celah untuk kabur dari kepungan, tetapi dua pengemudi motor terus menghalang-halangi Riski. Beberapa kali Porsche putih itu bersenggolan dan menyerempet mobil yang mengapit begitu dekat, memaksa Riski untuk berhenti.


Riski tegang, Xaviera lebih tegang lagi. Dia mencoba meraih ponsel di dalam tas kecil yang diselempangkan di tubuhnya, mencoba menghubungi ayahnya untuk meminta bantuan.


"Xaviera, MENUNDUK!" teriak Riski tiba-tiba, mengejutkan gadis itu dan membuat ponsel di tangannya tergelincir jatuh ke lantai mobil.


"A-apa yang terjadi, Ri-Riski?" Baru saja Xaviera menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba bunyi letusan memekakan telinga dan pecahan kaca terdengar. Teriakan Xaviera semakin membuat Riski semakin tegang.


"Menunduk, Xaviera! Jangan bangun sebelum kusuruh!" perintah Riski. Bunyi tembakan senjata kembali terdengar memekakan telinga. Kaca mobil segera berhamburan membuat kepanikan.


Ternyata dua pengendara motor itu membawa pistol dan mengarahkan tembakan pada kaca mobil hingga pecah. Untung Riski melihat mereka saat mengarahkan pistol ke mobil.


Riski terus mengemudikan mobil dengan lincah. Dia terus menekan pedal gas hingga habis. Tiga mobil yang mengepung di lampu merah sudah tertinggal jauh.


Satu motor berhasil dijatuhkan Riski. Dia menyeruduk motor itu hingga terpental jauh. Riski sudah tak peduli berapa harga yang akan dikeluarkannya untuk mengganti mobil yang rusak karena masalah ini.


Tinggal satu motor lagi yang masih terus berusaha menembak Riski. Tiba-tiba dua mobil yang mengepung tadi muncul di belakang. Hati Riski kembali kebat-kebit. Untung Porsche ini selalu dibersihkan Riski dengan baik sehingga tidak masalah dibawa kebut-kebutan seperti ini.


Sebuah peluru menembus kaca depan yang pecah, menancap di kursi pengemudi, melukai telinga Riski. Andai sedikit saja Riski bergerak, peluru itu akan bersarang di kepala bodyguard itu. Untuk sekejap Riski kehilangan kendali.


"RISKI!" Teriakan Xaviera mengembalikan kesadarannya. Dia mencengkram setir dengan kuat dan kembali menginjak pedal gas sampai habis. Menuju kediaman keluarga Ritter hanya sekitar lima ratus meter lagi.


Dia menyeka telinga yang mengeluarkan darah, luka itu mulai terasa nyeri bahkan membuat telinga Riski berdengung tajam.

__ADS_1


"RISKI! KAU TAK APA-APA?" seru Xaviera saat mengangkat kepala dan melihat darah mengalir di telinga Riski.


"Tidak. Tidak apa-apa, hanya... shhtt...." Riski mengerang saat telinganya terasa nyeri dan kembali berdengung.


"Aku akan telepon penjaga pagar agar segera membuka pagar, kalau pagar belum terbuka, kau tabrak saja! Tahu tidak!" seru Xaviera dengan cepat.


Meraih ponsel di dekat kaki, Xaviera langsung menekan sejumlah nomor yang sudah dihapal di luar kepala. Suaranya terdengar panik menyuruh penjaga membuka pagar rumah.


Tentu saja mereka langsung membuka pintu lebar-lebar apalagi Porsche putih itu sudah terlihat di ujung jalan. Hanya saja mereka tak menyangka Posche putih itu sudah hampir kehilangan bentuknya yang indah.. Mobil berhenti di depan pintu rumah. Penjaga segera menutup kembali pintu pagar. Motor dan mobil hitam itu berhenti sebentar lalu pergi begitu saja.


Xaviera segera sadar saat mendengar suara Sinta yang berteriak kaget melihat mobil yang hancur kalau mereka sudah masuk ke dalam rumah dengan selamat. Riski sendiri masih duduk di kursi pengemudi, mengatur napasnya terasa sesak. Kali ini dia beruntung tiba di rumah dengan selamat, walau keadaan mobil sudah berantakan.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi, Nona Xaviera? Riski?" seru Sinta membuka pintu belakang dan membantu Xaviera keluar dari mobil.


"Aku tidak apa-apa," jawab Xaviera pelan. Jelas dia masih sangat panik dengan kejadian ini.


"Papa sudah pulang belum?" tanya Xaviera pada Sinta. Gadis itu menggeleng cepat. Tuan Cashel Ritter memang belum pulang.


Entah apa yang akan dilakukannya saat tahu ada yang menyerang putri kesayangannya.


"Tidak apa-apa, hanya terluka sedikit!" seru Riski menutupi


telinganya dengan tangan.


Xaviera langsung berbalik begitu mendengar Sinta berteriak. Dia menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah dan kembali ke mobil. Dia membuka pintu mobil untuk melihat kondisi Riski.


"Aku tidak apa-apa, Nona Xaviera


"jawab Riski sambil berusaha keluar dari mobil. Dia bersandar pada pintu mobil, lalu perlahan berjalan masuk ke dalam rumah, walau dia berjalan sedikit oleng. Sinta dan Xaviera memapahya hingga ke dapur.


"Ada apa denganmu, Riski!" seru Nyonya Salsa kaget. Darah

__ADS_1


membasahi baju lelaki muda itu. Riski duduk di kursi dan memejamkan matanya sesaat. Telinganya kembali berdegung kencang hingga membuat kepalanya terasa sakit.


"Kami tadi dikejar penjahat, Nyonya Salsa. Riski di hebat sekali, berhasil membawaku kabur dan pulang ke rumah ini dengan selamat," cerita Xaviera dengan nada bangga dan senang.


Tingkahnya membuat Nyonya Salsa dan Sinta menatapnya dengan bingung. Lalu nyonya Gemma mengambil kotak peralatan P3K yang ada di dapur.


Dia juga membawa handuk kecil dan air hangat untuk membersihkan luka di telinga Sean. Lelaki muda itu duduk


bersandar pada kursi sambil memejamkan matanya.


"Riski, kau harus ke rumah sakit. Lukamu itu terlihat parah! Darahnya sedari tadi tidak berhenti mengalir," ucap Nyonya Salsa dengan cemas. Riski membuka mata, lalu memegang luka di telinga.


"Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja. Tempelkan saja plester pada lukanya, aku punya obat di rumah," jawab Riski dengan tenang. Dengung di telinga


sudah jauh berkurang.


"Apa kau mau pulang?" tanya Xaviera khawatir. Riski menganggukkan kepala. "Jangan pulang kau tidur saja di sini. Ada kamar kosong dibelakang. Nyonya Salsa akan menyiapkan kamar untukmu. Kalau nanti malam kau kenapa-kenapa bagaimana? Siapa yang akan mengurusmu?" cetus Xaviera tiba-tiba. Membuat kedua pengurus rumah semakin bingung dengan perubahan sikap gadis manja itu.


"Aku tidak apa-apa, Nona Xaviera. Ini sudah resiko dari pekerjaanku," jawab Riski dengan tegas. Dia sangat tidak suka dikasihani seperti ini. Perhatian Xaviera yang tiba-tiba membuatnya gerah.


"Apa sudah selesai, Nyonya Salsa?" tanya Riski setelah melihat Nyonya Salsa menuju wastafel dan mencuci tangan setelah membalut lukanya.


"Sudah. Semoga darahnya berhenti, Riski," jawab Nyonya Salsa dengan nada khawatir.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi pulang," pamit Riski sambil bangkit dari kursi. Dia mengenakan jaket untuk menutupi noda darah di baju.


"Riski, kau yakin tidak mau bermalam di sini dulu?" tanya Sinta juga dengan pandangan khawatir.


"Tidak, terima kasih," jawab Riski sambil tersenyum agar semua yang menatapnya tidak mengkhawatirkan dia.


Baru saja Riski akan melangkah menuju pintu dapur, pintu dari ruang keluarga terbuka, Cashel Ritter muncul dengan wajah geram.

__ADS_1


"Apa yang terjadi!" seru Cashel Ritter dengan suara bass yang sangat mengintimidasi semua orang terdiam saat melihat kemunculannya.


***


__ADS_2