Sang Ajudan Tampan

Sang Ajudan Tampan
Bab 15


__ADS_3


Wenny Taylor



Bulu kuduk Riski langsung dengan tato di lengan mereka bersedekap menatap Xaviera.


berdiri, apalagi melihat Wenny yang dikelilingi lelaki berbadan besar Riski langsung menarik Xaviera menjauh. Dia yakin akan segera terjadi perkelahian di sana. Xaviera menepis tangan Riski yang menariknya untuk menjauh. Dia malah mendekati Wenny Taylor, artis dan model terkenal. Satu agency dengan Xaviera Ritter. Dari sanalah perkelahian di mulai.


"YOU *****!" seru Wenny membalas, dia langsung menjambak rambut Xaviera yang terikat ke atas hingga ikatan rambutnya terlepas.


Bukan Xaviera Ritter kalau hanya diam saja. Xaviera yang mengenakan celana jeans ketat langsung melayangkan tendangan ke perut Wenny. Gadis itu terdorong hingga jatuh terduduk. Kelima lelaki berbadan besar yang diyakini Riski bodyguard Wenny segera maju dan mencekal pergelangan tangan Xaviera.


Riski langsung maju balas mencekal pergelangan tangan kedua lelaki berbadan besar yang memegang Xaviera. Walau tubuh Riski tidak sebesar mereka, tetapi kekuatan Riski juga tidak dapat meragukan lagi. Gadis manja itu terus menggeliat berusaha melepaskan tangannya.


"LEPASKAN!" seru Riski dengan suara baritonnya yang terdengar mantap tetapi cukup mengintimidasi.


Mata Riski bertatapan langsung dengan pengawal Wenny. Mata bertemu mata, keduanya mencoba saling mengintimidasi. Untuk sesaat Riski takut, dia hanya seorang diri, sedangkan mereka berlima. Akan tetapi, Riski ingat ajaran Kakek Qin untuk tidak takut menghadapi lawan walau hanya seorang diri.


Riski segera membuat kuda-kuda bersiap menghadapi serangan bodyguard Wenny. Gadis cantik itu sudah berdiri dan memegangi perutnya yang ditendang Xaviera.


Sementara Xaviera mulai bersiap menyerang Wenny setelah Riski berhasil membebaskan pergelangannya dari anak buah Wenny.


"KAU!" seru Wenny tidak terima perutnya ditendang Xaviera dan bersiap membalas Xaviera lagi. Xaviera tersenyum sinis melihat Wenny seperti kebakaran jenggot setelah menerima tendangannya.


"Itu balasan karena kau menarik rambut indahku, *****!" balas Xaviera sambil mengibaskan rambut panjang dan lurus yang berwarna pirang itu. Riski berdiri di depan gadis itu, mencoba menghalangi perseteruan ini.


"Minggirlah, Riski! Kau tidak ada sangkut pautnya dengan gadis bodoh ini!" bentak Xaviera memasang kuda-kuda. Sepertinya gadis manja ini pernah belajar ilmu bela diri bila melihat caranya berdiri. Sejenak Riski tersentak mendengar ucapan Xaviera yang terasa sangat aneh.


Baru kali ini gadis itu berkata lembut seperti ini pada Riski. Mungkin orang akan mengira Riski gila mengatakan kalau kata-kata Xaviera sangat lembut. Akan tetapi memang itulah yang dirasakan Riski saat mendengar Xaviera tidak membentaknya dengan suara lengkingan yang memekakan telinga.


"Aku akan melindungi anda, Nona Xaviera," ucap Riski dengan suara rendah.


Bodyguard Wenny tertawa sinis melihat Xaviera dan Riski yang berdiri dengan kuda-kuda mereka. Wenny tertawa dengan suara keras.

__ADS_1


"APA SI BODOH ITU KEKASIHMU, XAVIERA RITTER? Sepertinya kau begitu memperhatikannya," ucap Wenny


dengan suara yang lantang.


"DIAMLAH KAU, *****! JANGAN SEBUT NAMAKU DENGAN MULUT BUSUKMU ITU LAGI!" Wenny langsung mendekati Xaviera dan mendorong Riski menjauh, tetapi Riski dengan cepat menepis tangan Wenny dan mendorong gadis itu dengan sangat kuat hingga dia terjerembab. Dua orang bodyguard itu langsung menopang tubuh mungil Wenny agar tidak terjatuh lagi. Sementara ketiga bodyguardnya mulai menyerang Riski. Mereka langsung terlibat dalam saling pukul dan saling serang. Tiga melawant satu, pertikaian yang tidak seimbang.


Xaviera membantu Riski, memukuli salah satu bodyguard dan mencakar sekuat tenaga hingga kuku-kuku tajam Xaviera menancap di lengan bertato itu. Sementara Wenny tertawa melihat Riski mulai kewalahan menghadapi anak buahnya. Sekarang keempat anak buahnya menyerang Riski bersamaan. Sementara satu orang lagi menahan sakit akibat serangan kuku Xaviera yang tidak hanya dilengannya, bahkan sekarang mulai menyerang wajahnya hingga berdarah.


Petugas keamanan mall datang mencoba memisahkan mereka. Xaviera sudah kewalahan menghadapi tendangan dan pukulan di sekujur tubuhnya, tetapi dia juga melukai keempat bodyguard Wenny dengan pukulan mautnya.


Perkelahian mereka sudah menjadi tontonan pengunjung Mall, bahkan ada yang merekam mereka dan mengupload ke media sosial.


Mereka berdelapan digiring petugas keamanan mall ke kantor mereka di lantai basement mall. Di sana petugas keamanan Mall berusaha mendamaikan keduanya tanpa tahu permasalahan awal keduanya yang sudah berlangsung lebih dari setahun yang lalu.


Xaviera akhirnya memutuskan pulang begitu petugas mall berhasil mendamaikan dia dan Wenny. Sebenarnya bukan berhasil, mereka berdua hanya berpura-pura seperti biasa.


Riski mengemudikan kendaraan dengan lambat seperti biasanya di jalanan padat sore menjelang malam. Matahari sudah tenggelam dan lampu jalan mulai menyala.


"Kau tidak terluka 'kan?" ucap Xaviera Ritter tiba-tiba ketika kendaraan berhenti di lampu merah. Riski kembali tersentak dan langsung menggeleng dengan cepat.


"Aku di gaji Tuan Cashel Ritter untuk melindungi dan menjagamu Nona. Jadi tidak mungkin kalau aku hanya diam dan melihat saja, Nona Xaviera," jawab Riski datar. Xaviera mengembuskan napas


panjang. "Terserah kau saja!"


Hingga mobil sampai di rumah, tidak ada percakapan lagi antara Xaviera dan Riski. Riski sama sekali tidak berminat untuk memulai percakapan dengan gadis manja ini. Di benaknya sedang banyak pertanyaan yang berlarian. Dia mulai bertanya-tanya sebenarnya ada apa antara Xaviera Ritter dan Wenny Taylor? Bukankah keduanya sama-sama model terkenal. Apakah Xaviera cemburu karena Wenny juga terkenal sebagai aktris berbakat yang sedang naik daun saat ini. Film yang dibintanginya meledak di pasaran.


"Ingat, jangan pernah ceritakan semua hal yang terjadi hari ini. terutama tentang apartemen tadi pagi!" desis Xaviera sebelum turun dari mobil. Lagi-lagi Riski hanya menanggapi dengan anggukan.


"Hei Riski, kau mau makan?"


tanya Sinta begitu Riski muncul di pintu dapur setelah membersihkan mobil. "Iya, kalau boleh," jawab Riski


santai. Sinta tertawa.


"Tentu saja boleh," ucap Sinta," Ibuku akan mengambilkan untukmu, tungu sebentar." Riski mengangguk.

__ADS_1


"Bagaimana harimu?" tanya Sinta duduk di meja berhadapan dengan Riski yang meneguk minuman yang diambilnya dari lemari es.


"Kacau!" jawa Riski singkat.


"Kacau? Ada apa? Apa Nona Xaviera kembali berulah?" tanya Sinta penasaran. Riski hanya mengangguk dan meneguk kembali minumannya. Dia merasa sangat haus hari ini.


"Kali ini dia bertengkar dengan siapa?" tanya Sinta semakin penasaran.


"Wenny," jawab Riski pendek.


"HAAA!" seru Sinta terkejut, hampir membuat Riski tersedak.


"Ada apa? Apa kau tahu permasalahan mereka?" tanya Riski tertarik ingin tahu.


"Tentu saja! Ya ampun, Riski! Kau tidak terluka 'kan?" Sekarang Sinta bertanya dengan khawatir, membuat alis mata Riski terangkat sebelah.


"Tentu saja tidak. Paling hanya luka lebam seperti biasa," jawab Riski santai.


"Baguslah kalau begitu. Jadi kau sungguh tidak tahu permasalahan antara Nona Xaviera dengan Wenny Taylor? Eh katakan padaku, apa Wenny Taylor sangat cantik?" tanya Sinta dengan antusias.


"Cantik, tapi Nona Xaviera juga tidak kalah cantik," puji Riski.


"Ah... kau ternyata salah satu pengagum Nona Xaviera , ya," seru Sinta tertawa lebar. Tepat saat Nyonya Salsa masuk dari ruang tengah.


"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya senang sekali," tanya Nyonya Salsa, "Ohya, kau dipanggil Tuan Cashel, Riski."


Riski segera berdiri dan berjalan menuju ke ruang tengah.


"Selamat malam, Tuan Cashel Ritter," sapa Riski sopan.


"Duduklah, Riski," balas Cashel santai. Sean duduk di hadapan Cashel Ritter dengan hati bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan Cashel dengannya.


"Katakan padaku, apa saja yang terjadi hari ini?" tanya Cashel Ritter dengan santai dan tanpa tekanan. Akan tetapi mampu membuat jantung Riski berdetak lebih cepat.


***

__ADS_1


__ADS_2