Sang Ajudan Tampan

Sang Ajudan Tampan
Bab 7


__ADS_3


Pergi ke Bukit Denali



Riski menundukkan kepala dengan jemari yang saling bertaut. "Katakan padaku, kemana Xaviera?" tanya Cashel Ritter dengan suara menggelegar. Riski bergidik. Ada kemarahan yang besar di suara Cashel yang berarti dia tahu kemana putrinya pergi saat ini.


"N-Nona Xav-Xaviera pergi ber-bersama Far-Farrel Amora, Tu-Tuan," jawab Riski tersendat. Dia tidak berani mengangkat mukanya untuk melihat wajah Cashel. Sesaat hening, Cashel tidak bersuara.


"Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ceritakan padaku," titah Cashel masih dengan suara menggelegar.


Riski menceritakan kejadian tadi dengan gugup. Dia tahu bahwa dia salah, tak seharusnya dia membiarkan Xaviera pergi bersama Farrel. Namun, dia hanyalah seorang bodyguard, tidak bisa membantah keinginan Xaviera.


"Kau tahu tugasmu, bukan?" ucap Cashel Ritter dengan suara datar tetapi terasa dingin menusuk.


"Ya, Tuan. Saya tahu bahwa saya bersalah membiarkan Nona Xaviera pergi bersama Farrel," desis Riski pelan. Dia yakin kali ini Cashel akan menendangnya kembali ke jalanan. Gadis manja itu benar-benar mengacaukan hidup Riski yang sudah mulai membaik.


"Kau seharusnya tidak menuruti kemauan Xaviera, Riski! Aku membayarmu untuk menjaga Xaviera. Dia tidak boleh pergi dengan lelaki mana pun! Kau tahu!" seru Cashel kesal. Kali ini Riski terperangah


mendengar kata-kata Cashel. Kenapa Xaviera tidak boleh pergi dengan lelaki mana pun? Bukankah dia seorang foto model terkenal. Tentu saja Xaviera akan selalu dikelilingi lelaki tampan dan kaya. Xaviera bebas memilih. Akan tetapi, Riski hanya menunduk.


"Sekarang cari mereka sampai ketemu dan bawa Xaviera kembali segera! Jangan pulang kalau kau belum menemukan mereka!" perintah Cashel dengan wajah memerah.


Riski langsung menunduk memberi hormat pada Cashel, lalu dengan cepat berlari ke garasi menyalakan mobil dan keluar. Tiba-tiba dia terdiam, harus kemana mencari Xaviera. Dia tidak kenal Farrel ataupun dimana lelaki itu tinggal.


Sinta! Tiba-tiba gadis itu lewat di pikiran Riski. Gadis itu pasti tahu banyak tentang Farrel dan Xaviera. Riski langsung menelepon Sinta.


"Sinta, kau tahu di mana biasanya Nona Xaviera dan Farrel pergi?" tanya Riski to the point. "Ada apa memangnya kau mencari mereka?" tanya Sinta bingung.

__ADS_1


"Tuan Cashel meminta aku mencari mereka. Aku tidak tahu harus kemana mencari mereka. Tadi aku kehilangan jejak," jawab Riski jujur.


"Oh, tunggu sebentar. Aku akan melihat akun sosial media mereka. Biasanya Nona Xaviera selalu update dimana saja dia berada. Nanti aku lihat dulu, Riski."


"Terima kasih, Sinta. Hidupku bergantung padamu," jawab Riski yang langsung dijawab dengan tawa


lebar Sinta. Tak sampai lima menit, pesan dari Sinta masuk ke ponsel Riski.


[Mereka di bukit Denali, Riski. Nona Xaviera baru saja mengunggah foto di akun miliknya. Coba kau cari di sana saja Riski]


Riski langsung mengarahkan mobil ke arah bukit Denali di arah utara kota. Jalan menuju ke sana cukup ramai sore itu. Mendekati bukit, Riski melihat mobil sport kuning terang. Riski memarkirkan kendaraannya tepat di sebelah mobil sport itu, lalu masuk ke kafe satu-satunya yang ada di sana.


Dari kejauhan matanya menangkap sosok Xaviera yang sedang berada dalam pelukan Farrel. Begitu hangat dan mesra. Dia jadi bertanya-tanya apa yang menyebabkan keduanya tidak direstui oleh Cashel Ritter? Bukankah kekayaan keuarga Amora sebanding dengan kekayaan Cashel?


Riski keluar setelah melihat bahwa Xaviera ada di sana. Dia naik ke dalam mobil menunggu Xaviera keluar bersama Riski.


Hingga menjelang malam, Xaviera dan Farrel belum juga keluar dari kafe itu. Riski keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam kafe. Meja di ujung kafe tempat Xaviera dan Farrel sudah kosong. Kemana mereka?


Dia bertanya pada seorang pelayan kafe. Gadis itu menunjuk ke arah belakang kafe. Ternyata ada pondok-pondok tertutup di belakang kafe.


Riski langsung berlari menuju ke sana. Ada enam buah pondok tertutup yang letaknya berjauhan di belakang bangunan kafe.


Riski langsung melihat ke pondok


pertama, ada sepasang sepatu di bawah pintu. Itu bukan sepatu Xaviera. Riski mengenali sepatu yang dikenakan nona manja itu.


Melanjutkan pencariannya ke pondok kedua, suara-suara aneh terdengar dari dalam pondok. Suara lenguhan dan ******* seorang wanita membuat jantung Riski berdetak lebih kencang.


Matanya beralih ke bawah pintu, dua pasang sepatu. Riski melepaskan napas lega, bukan milik Xaviera.

__ADS_1


Lalu melanjutkan lagi ke pondok ketiga. Tenang, tak ada suara-suara aneh dari dalam pondok, juga tak ada sepatu. Dengan cepat Riski melangkah menuju pondok keempat.


Matanya langsung menangkap sepasang sepatu sepatu boot berwarna merah hari milik Xaviera. Juga dua pasang sepatu lelaki. Sejenak Riski terdiam. Mengapa ada dua pasang sepatu lelaki? Ada siapa yang bersama Xaviera dan Farrel?


Riski menarik napas panjang. Ada suara percakapan dari dalam pondok. Dia mendekati dinding pondok yang terbuat dari susunan kayu, hingga suara dari dalam masih bisa terdengar hingga keluar.


Sementara di dalam pondok," Jadi apa maumu, Xaviera?" Suara Farrel terdengar sangat kesal. Suara isakan tangis Xaviera terdengar lirih. Gadis itu menutupi mulutnya dengan tangan.


"Antarkan aku pulang, Farrel!" seru Xaviera dengan suara tertahan.


"Haa! Jangan harap setelah kita berhasil keluar bersama, kau mau pulang?" ucap Farrel sambil menyeringai.


"Gadis ini seperti gadis pingitan, Farrel! Di mana kau menemukan dia?" Suara seorang lelaki lain yang menertawakan Farrel. Bau rokok putih keluar dari celah-celah dinding yang tak rapat.


"Ayolah, Xaviera. Bukankah kita sudah sepakat untuk berpesta malam ini, Baby." Farrel mulai mencoba merayu Xaviera, lengannya melingkar di tubuh Xaviera. Xaviera tidak bergeming.


"Cobalah seteguk saja, kau pasti akan menyukainya baby. Bahkan kau akan memohon padaku untuk memberimu lagi dan lagi, Xaviera Ritter. Aku yakin kau pasti suka baby!" seru Farrel bersemangat.


"Sudahlah, rel! Kau paksa saja dia


menegaknya. Dia terlalu keras kepala." Lelaki itu adalah Astra Demon, teman baik Farrel yang tertawa lebar melihat adegan di depan matanya saat Farrel berusaha mencekoki Xaviera dengan minuman beralkoho yang sudah dicampur dengan obat perangsang. Riski berusaha mengintip dari susunan kayu yang tidak terlalu rapat.


"Aku akan berteriak, Farrel! Jangan kau paksa aku!" seru Xaviera disela tangisannya. Sekarang air matanya mengalir sendiri walau sudah berusaha ditahannya.


Astra Demon kembali terbahak mendengar ucapan Xaviera.


"Tidak akan ada yang datang menolongmu baby, Nona Ritter yang terhormat!" gelak lelaki teman Farrel itu.


"Astra Demon! Diamlah! Kau hanya memperburuk keadaan kalau terus tertawa dan mengoceh tak karuan!" sergah Farrel Amora kesal.

__ADS_1


Astra Demon semakin terbahak, dia menuangkan gin ke dalam gelas dan meminumnya, Riski terus mendengar dari luar. Bimbang apakah harus masuk atau menguping lebih banyak lagi.


__ADS_2