
Mencari Tahu
Setelah memarkirkan mobil, Riski turun untuk melihat ke mana perginya Xaviera. Kali ini dia tidak mau kejadian kemarin terulang lagi. Dia menanyakan pada gadis muda yang duduk di resepsionis.
Gadis itu memberitahu Riski ke mana perginya Xaviera. Tidak susah mencari informasi soal Xaviera, karena gadis itu cukup terkenal di kalangan anak muda. Dia idola remaja walau sering terlibat keributan.
Lalu Riski naik ke lantai dua puluh empat dengan bantuan gadis resepsionis tadi yang tersipu malu saat Riski memuji dia. Riski yang tampan tentu tidak akan kesulitan mendapat informasi darinya.
Dari pintu lift Riski melihat Xaviera dan Tuan Alex sedang meninjau unit apartemen di sana. Setelah yakin tidak ada Farrel Amora ataupun Astra Demon atau lelaki lain yang mencurigakan, Riski turun ke lobi. Menunggu beberapa saat, lalu Riski pergi ke sebuah restoran di samping lobi dan duduk di sana.
Dia masih memikirkan bagaimana menjual emas-emas milik Granny, juga khawatir yang dikatakan Giryo, bila suatu hari ada yang datang dan menanyakan emas itu.
Akan tetapi, Riski kembali memutar balik kenangannya bersama Granny. Sebelum bertemu Giryo, dia dan Granny sudah berpindah daerah tiga kali, walau akhirnya mereka kembali lagi ke kota ini.
Riski sama sekali tidak mengerti dan juga tidak bertanya pada Granny alasan mereka pindah daerah dan rumah. Mungkin juga karena batas waktu sewa berakhir dan Granny mencari tempat yang lain.
Terakhir mereka di apartemen yang sekarang Riski dan Giryo tempati itu, Granny jatuh sakit karena usianya yang sudah tua. Hingga akhirnya Granny meninggal, Giryo dan Riski tidak ingin pindah lagi. Walau apartemen yang mereka tinggali terletak agak jauh dari pusat kota, tetapi mereka hidup tenang di sana, juga karena dekat dengan makam Granny.
Bunyi ponsel yang tiba-tiba mengejutkan lamunan indah Riski, apa lagi saat melihat nama yang muncul di layar ponsel, Nona Xaviera Ritter.
"Astaga!" desis Riski sambil bangkit dan segera berlari keluar meninggalkan makanan yang sisa satu suapan lagi.
Dia segera berlari ke mobil dan melajukan kendaraannya menuju lobi. Gadis itu sudah berdiri di lobi dengan wajah cemberut. Tidak dihiraukannya tatapan sekeliling yang terkejut mendengar suaranya membentak Riski tadi. Sudah biasa, Xaviera sudah sangat terbiasa melihat tatapan itu.
Begitu melihat mobil putih muncul di lobi, Xaviera langsung naik ke dalam mobil dengan angkuh dan tidak bersalah, meninggalkan tatapan-tatapan itu. Xaviera menyeringai angkuh.
"Ke mana, Nona Xaviera?" tanya Riski setelah beberapa menit berjalan, Xaviera belum mengatakan tujuannya.
__ADS_1
"Kantor agency," jawab Xaviera tak acuh sambil memperhatikan cat kuku di jari jemarinya. Sepertinya dia harus manicure pedicure lagi karena yang sekarang sudah mulai gompel.
Dalam hati Riski mengumpat, mengapa dia merasa lebih miripsopir daripada bodyguard? Harusnya Cashel Ritter.
memberinya seorang sopir agar dia lebih leluasa menjaga Nona Xaviera. Dia akan segera mengusulkannya pada Cashel Ritter.
Hem... tapi mungkin lebih baik dia mencari tahu dari Sinta dulu sebelum mengajukan usul pada Cashel Ritter. Kalau salah langkah bisa-bisa Riski malah akan dipecat oleh Cashel.
"EH! KAU MELEWATKAN KANTOR AGENCYKU, BODOH!" jerit Xaviera dengan suara lengkingan, membuat telinga Riski berdengung.
"Ma-maaf, Nona Xaviera." Sean langsung menghentikan laju kendaraan dan berjalan mundur beberapa meter, lalu berbelok memasuki deretan bangunan perkantoran yan bertuliskan Star Agency.
"Tunggu di sini saja! Dan jangan pergi kalau tidak kuperintahkan! Aku capek menunggumu setiap kali urusanku selesai!" gerutu Xaviera sebelum turun dari mobil.
"Baik, Nona Xaviera. Apa perlu kutemani masuk?" tanya Riski pelan.
"Haa! Mau apa kau ikut ke dalam? Kau ingin jadi fotomodel?" Xaviera tertawa mengejek, sedangkan Riski terdiam mendengar ejekan Xaviera.
Riski menggerutu dalam hati. Dia sudah bekerja satu bulan dengan nona besar itu, tapi sikapnya tidak pernah berubah sedikit pun. Riski meraih ponsel di atas dashboard
mobil.
[Sinta, kau sedang sibuk apa tidak?] Riski mengirimi pesan.
Pesan terkirim, tetapi belum dibaca oleh Sinta. Mungkin gadis itu sedang sibuk. Riski mulai mencari kabar di portal berita, mungkin saja ada berita tentang Xaviera dan Cashel yang dia tidak tahu.
Bunyi denting di ponsel membuat Riski langsung beralih pada pesan. [Ada apa? Aku sedang membuat kudapan untuk Tuan Cashel. Kau mau apa? Apa kau mau kudapan juga?]
[Kau bercanda?! Aku ingin menanyakan pengawal Nona Xaviera sebelum aku. Mengapa dia berhenti?]
[Masih perlu kau tanyakan? Kau sungguh tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?] Riski mengernyit. [Aku sungguh bertanya, Sinta!]
__ADS_1
Sinta membalas dengan stiker tertawa lebar, membuat Riski
semakin jengkel. [Ayolah, Sinta, aku serius] [Haha, maafkan aku]
[Jangan marah]
[Seperti kau lihat sendiri, perangai Nona Xaviera begitu buruk. Tidak ada pengawal yang betah dengannya. Terus menerus dibentak dan dimarahi olehnya, siapa yang tahan?]
[Sejauh ini hanya kau yang mampu bertahan satu bulan penuh] [Yang lain hanya dua minggu, bahkan ada yang hanya satu hari saja] [Sekarang kau puas, Tuan Bodyguardku?]
[Hanya karena tak tahan dengan sikap Nona Xaviera saja?] [Betul, hanya kau yang sanggup] Riski terkekeh membaca pesan Sinta.
[Baiklah. Terima kasih banyak, Sinta]
[Pulang tolong belikan aku es krim, oke?]
Sean kembali terkekeh. Baiklah, jadi selama ini tidak pengawal yang sanggup menghadapi Xaviera. Membayangkan ini membuat hati Riski sedikit terhibur. Setidaknya dia boleh berbangga hati karena mampu bertahan dari sikap angkuh Xaviera Ritter. Senyum lebar menghiasi wajah tampan itu.
Dua puluh menit menunggu, Xaviera muncul dan berdiri di pintu kaca. Mobil silver yang dikendarai Riski langsung menuju tempat Xaviera berdiri, dan gadis itu mendekat dan naik ke mobil.
"Best Jaya Mall. Aku mau berbelanja. Dan kau Temani aku!" perintah Xaviera. Riski hanya mengangguk. Mobil yang dikendarai Riski meluncur pelan dan tenang, kali ini Xaviera tidak lagi mengamuk karena mobil berjalan lambat.
Mobil sedan silver itu memasukki parkiran Best Jaya Mall dan Riski parkir tepat di samping pintu masuk Mall. Xaviera turun dan Xaviera mengikuti di belakangnya. Gadis itu berjalan menuju lantai lima yang menjual peralatan rumah tangga serta dekorasi. Riski segera mengerti untuk apa Xaviera ke mall ini.
Dia mengambil keranjang dorong dan mengikuti Xaviera. Gadis itu segera memilih dan melihat barang yang diinginkannya. Tak sampai setengah jam, keranjang sudah penuh berisi. Riski hanya menggeleng melihat hasrat belanja gadis manja itu. Dalam hati Riski bertanya-tanya, apa Tuan Cashel membiarkan gadis itu tinggal sendirian di apartemen?
Mereka terus berkeliling di lantai mall itu hingga Riski mengambil satu keranjang lagi. Mendekati kasir, Riski melihat ada seorang gadis cantik yang terus menatap penuh kebencian pada Xaviera. Dia mengernyit. Xaviera tidak menyadari, dia terus saja berbelanja karena hatinya sedang sangat senang sekali.
"XAVIERA RITTER!" seru gadis cantik berambut panjang dan ikal dengan mata biru yang cantik sekali.
"HEH! TUTUP MULUT BUSUKMU ITU, WENNY *****! KAU TIDAK PUNYA HAK MEMANGGIL NAMAKU!" sergah Xaviera dengan suara melengking begitu tahu siapa yang memanggil namanya, membuat seisi ruangan mall menoleh kepada dia dan gadis yang bernama Wenny itu. Riski berdiri mematung melihat keduanya.
__ADS_1
***