
Terjadi Keributan di Tempat Fotografer
Wenny tertawa mengejek.
"Kenapa? Apa kau takut?" tanya Wenny menantang. Gejolak amarah Xaviera semakin membara, tanpa banyak kata dia menghampiri Wenny dengan cepat dan menghantam gadis itu dengan sikunya. Wenny balas dengan cakaran di wajah Xaviera yang cantik.
Teriakan fotografer dan beberapa lelaki di studio itu tidak mampu menghentikan amukan amarah dari keduanya.
Xaviera menjambak rambut Wenny yang tertata rapi, Wenny balas menarik baju yang dikenakan Wenny hingga robek. Keduanya saling memaki dengan segala isi kebun binatang. Bergelut di lantai studio, saling menarik, menendang dan menggigit.
Suara keributan itu terdengar jelas hingga ke lantai bawah. Riski yang baru saja masuk sangat terkejut mendengar suara teriakan Xaviera, dengan langkah lebar dan cepat dia berlari menaiki tangga.
Namun matanya terbelalak saat melihat Xaviera bergelut di lantai dengan seorang gadis berwajah Asia Timur. Dia segera menarik Xaviera dan melepaskan tarikan Wenny dari rambut Xaviera. Ia berusaha melepaskan tarikan Xaviera dari baju yang dikenakan Wenny.
"HENTIKAN PERTENGKARAN KALIAN!" Suara bariton Riski yang besar dan berat mengejutkan keduanya. Seketika membuat keduanya melepaskan tarikan di tubuh lawan.
Wajah Xaviera memerah penuh dengan cakaran Wenny, begitu juga wajah Wenny. Baju Xaviera yang tipis dan ketat sudah robek di sana sini. Riski melepaskan jaket yang dikenakannya dan memakainya pada Xaviera karena pakaian gadis itu sudah compang camping dan pakaian dalamnya terlihat dengan jelas. Keadaan Wenny pun tak kalah kacau, hanya saja tubuh gadis itu masih tertutup sempurna walau pakaiannya robek.
Xaviera yang masih tidak senang kembali menyerang Wenny saat Riski selesai menutupi tubuhnya dengan jaket.
"Xaviera!" teriak Riski cepat sambil menangkap tangan gadis itu dengan kuat dan menahannya.
"KAU! Berani sekali menyebut namaku!" teriak Xaviera nyaring melengking dan penuh marah. Kemarahannya bahkan lebih besar dari sebelumnya. Sekarang, dia bahkan mencoba menyerang Riski.
__ADS_1
Tak ada cara lain, Riski langsung memiting lengan gadis itu ke belakang karena Freya mencoba memukul dan menggigit tangan Riski yang memiting erat tangannya.
"Mohon kendalikan dirimu, Nona Xaviera!"seru Riski lagi dengan suara bariton yang berat dan lumbut, dengan tetap memegang tangan Xaviera.
Xaviera tak punya pilihan selain diam dengan dada naik turun dan napas yang memburu. Dia belum puas sebelum melampiaskan kemarahannya.
"Bagus, patuh seperti itu. Aku akan melepaskan tanganmu, nona" bisik Riski di dekat telinga Xaviera.
Perlahan Riski melepaskan tangan Xaviera yang dipegangnya. Xaviera yang sudah merasa bebas dengan cepat mencakar wajah Riski. Riski mengelak hingga cakaran Xaviera hanya mengenai sedikit pipi dan bahunya.
"Dasar kau gila!" desis Wenny yang sudah selesai membenahi pakaiannya dan masuk ke ruang ganti dengan tertatih - tatih.
"APA KAU BILANG! ULANGI LAGI KATA-KATAMU, Wenny!" teriak Xaviera yang langsung menyerang Wenny secara membabi buta. Kali ini dia tidak berhenti sebelum kemarahannya terlampiaskan.
Wenny menjerit ketika Xaviera menendang bokongnya hingga gadis itu terjerembabat dan Xaviera langsung menduduki tubuh Wenny lalu memukuli dan menjambak rambut Wenny yang panjang dan indah. Wenny terus menjerit. Suasana kembali menjadi kacau setelah tadi tenang sesaat.
Riski tak punya pilihan lain, dia menarik tubuh Xaviera saat gadis itu hendak menduduki tubuh Wenny, Lalu memanggulnya di bahu seperti karung beras dan turun meninggalkan ruang studio yang berantakan karena pergulatan itu.
Dengan cepat Riski turun ke bawah dan membopong Xaviera yang terus berontak memukuli pundak dan punggungnya serta kaki yang terus menendang perut Riski. Riski mengabaikan rasa nyeri di pundak karena Xaviera menghujam punggungnya dengan kuku yang tajam. Dia segera menyalakan mobil dan melarikan kendaraannya secepat kilat.
Tak ada yang menyangka pemotretan pagi itu menjadi serangan yang brutal dari seorang gadis secantik Xaviera.
"KURANG AJAR SEKALI KAU! KAU DIBAYAR UNTUK MELINDUNGIKU, BODOH!" maki Xaviera dengan suara melengking dan tajam.
"Kendalikan dirimu, Nona Xaviera! Kau tidak mau besok semua berita online dan cetak menampilkan wajahmu yang kacau dan sama sekali tidak cantik seperti biasanya," sindir Riski tajam dengan tatapan datar lurus ke depan.
Riski berusaha untuk tidak terpancing emosi karena Xaviera terus mengumpat dan memaki dia dengan segala isi kebun binatang. Dia tidak masalah dengan emosi Xaviera selagi gadis itu tidak menyinggung harga dirinya.
__ADS_1
Xaviera yang masih diliputi emosi terus memaki Riski hingga mobil tiba berhenti di depan pintu rumah besar itu. Gadis itu turun dengan wajah memerah akibat cakaran dan juga marah.
Pintu depan ditendang begitu saja oleh Xaviera untuk melampiaskan kemarahannya. Suara pintu kamar dibanting juga barang-barang pecah dari lantai dua rumah mewah itu membuat seisi penghuni menjadi tegang.
"Ada apa dengan Nona Xaviera?" tanya Sinta ketika Riski masuk dari pintu dapur.
"Dia bertengkar dengan model lain. Aku tidak tahu permasalahannya karena saat aku masuk ke studio, mereka sudah bergelut," tukas Riski pelan. Dia menuju lemari es dan mengambil sebotol air minum dingin dan meminumnya hingga tandas.
Riski berusaha meredakan emosi dengan air dingin karena ucapan Xaviera sungguh menyinggung harga dirinya. Perkelahian dan hinaan sering kerap kali dilontarkan dari orang-orang yang tidak menyukainya. Bahkan ada yang sengaja berbuat seperti itu, seakan menghina Riski adalah tindakan yang menyenangkan.
Granny sering mengingatkan bahwa ilmu bela diri yang didapat dari Kakek Qin hanya untuk membela diri bukan untuk dipamerkan, juga bukan untuk membalas orang-orang yang menghinanya.
Riski selalu ingat pesan Granny dan juga petuah Kakek Qin. Dia bukanlah siapa-siapa. Jadi biarkan orang menghina atau mengejek bahkan merendahkan. Itu tidak akan membuat dirinya menjadi rendah dan hina, tetapi tindakan dan perilakulah yang membuat orang menjadi rendah dan hina.
"Itu sudah biasa, Riski. Lama-lama kau akan terbiasa menghadapi Nona Xaviera. Dia terlalu dimanja oleh Tuan Cashel," jelas Sinta sambil tertawa.
"Kau lapar? Sudah sarapan?" tanya Sinta lagi.
"Sudah, terima kasih," jawab Riski pelan.
"Ya sudah. Kalau kau lapar katakan saja padaku. Kurasa kau bisa beristirahat di kamar belakang. Hari ini sudah pasti Nona Xaviera tidak akan pergi ke mana-mana," ucap Sinta lagi. Dia akan naik ke kamar Xaviera untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh gadis manja itu.
Riski mengangguk dan melangkah keluar dari dapur menuju rumah kecil di sudut halaman belakang yang luas.
Dia membuka kaos yang kenakannya dan melihat luka di punggung yang mengeluarkan sedikit darah yang menempel di kaos dan juga lebam di perut datarnya akibat tendangan kaki Xaviera. Lelaki muda itu menghela napas. Memikirkan bagaimana gadis cantik itu bisa begitu liar saat marah.
Setelah melihat tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Riski berbaring di kasur tanpa alas yang ada di ruangan kecil itu.
__ADS_1
Baru saja akan memejamkan mata, suara teriakan Sinta membuatnya bangun secepat kilat.