
Nona Kaya Yang Super Sombong
Aroma sandwich ayam buatan Sinta langsung terhirup begitu dia meletakkan piring di hadapan Riski.
"Hmm... aromanya sangat enak sekali, Sinta. Terima kasih," ucap Riski sambil mengambil sandwich dengan tangan dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sinta tertawa.
"Makanlah dengan cepat sebelum Nona Xaviera Ritter memanggilmu," jawab Sinta dengan senyuman hangat.
"Memangnya kenapa dia memanggilku lagi? Bukankah dia baru saja tiba ke rumah ini?" tanya Riski mengernyitkan alis dengan heran.
Namun baru saja dia menyelesaikan ucapannya, suara teriakan Xaviera terdengar dari interkom yang ada di dinding dapur. Riski langsung berlari terbirit tanpa sempat menggigit sandwich untuk kedua kalinya.
Sinta tertawa tipis melihat Riski lari terbirit². 'Kau belum tahu kebiasaan Nona Xaviera Ritter, Riski' gumam Sinta dalam hati, lalu mulai membersihkan dapur dari remahan sandwich. Hari sudah mulai sore, sebentar lagi ibunya akan datang untuk memasak makan malam keluarga Ritter.
"Ada apa, Nona Xaviera? Apa kau membutuhkanku lagi?" tanya Riski pelan.
"Aku memanggilmu tentu saja karena aku membutuhkanmu, Bodoh!" jawab Xaviera dengan ketus dan kasar. Riski hanya menundukan kepalanya.
"Antar aku ke kantor Papa, sekarang juga!" bentak Xaviera dengan angkuh. Gadis itu menuruni tangga dan berdiri tegak di depan Riski.
"Apa lagi yang kau tunggu? Ayo cepat bawa mobil ke depan!" perintah Xaviera. Riski langsung beringsut menuju garasi dari pintu dapur dan tak lama kemudian dia sudah menunggu di pintu depan. Xaviera naik begitu saja saat mobil yang di kendari oleh Riski berhenti
"Ayo jalan! Kau ini sungguh lamban! Aku mau minta Papa menggantimu hari ini juga. Bisa mati muda aku kalau terus bersamamu," gerutu Xaviera dengan kesal.
Riski diam dan menurut seperti kerbau dicocok hidung, disuruh jalan dia jalan, disuruh diam dia diam. Tidak tahu harus berkata apa. Nona muda itu sepertinya sangat kesal padanya. Padahal dia hanya menjalankan perintah dari Tuan Cashel Ritter yang ingin agar Riski menjaga keselamatan dan keamanan putri tercintanya.
__ADS_1
Tiba di perkantoran-gedung tinggi berlantai tiga puluh itu, Riski menghentikan kendaraannya di depan pintu lobi. Xaviera langsung turun dan masuk ke dalam. Sementara Riski memarkirkan sedan putih itu tepat di samping sedan hitam milik Cashel Ritter.
Perutnya terasa lapar, dia melewatkan makan siang sewaktu menemani Xaviera melakukan pemotretan. Sedangkan tadi dia baru menikmati satu gigitan sandwich ayam. Riski menyesal, harusnya dia bawa saja sandwich di meja dapur tadi.
Dia keluar dari mobil dan melihat ada kafetaria di samping gedung kantor itu. Dengan langkah gontai menuju ke sana. Hari sudah mulai sore, malang nasib Riski, penjual di kafetaria itu sudah membereskan daganganannya bersiap pulang. Tidak ada makanan lagi untuk dijual.
Sementara itu di dalam kantor Cashel Ritter, Xaviera siap mengadukan kelakukan Riski pada Cashel.
"Ada apa kau kemari, Sayang?" tanya Cashel dari balik meja kerja sambil memberi tatapan sayang pada sang gadis manja itu.
"Papa, aku tidak mau punya bodyguard seperti Riski. Dia lamban dan juga tidak cukup pandai. Aku tidak mau melihat dia besok pagi ada di rumah kita lagi!" ucap Xaviera dengan kejam dan to the point pada ayahnya.
Cashel tertawa, "Memangnya apa yang diperbuat Riski? Sampai kau begitu marah padanya Xaviera?"
Gadis itu cemberut dengan wajah ditekuk dengan mata tajam menusuk mulai mengadukan kelakuan Riski yang membuat dia kesal.
"Dia pandai dan memang begitu yang Papa perintahkan padanya. Dia pandai, Xaviera. Juga baik. Dua hari yang lalu dia menyelamatkan uang perusahaan yang hampir dirampas penjahat. Riski sangatlah cocok untuk menjadi bodyguardmu, Sayang," ucap Cashel sambil terus tertawa.
"Dia menjengkelkan!" balas Xaviera, "dia sangat kaku seperti patung."
Cashel kembali tertawa mendengar kata-kata Xaviera.
"Apa kau menyukainya? Kau ingin dia merayumu?" tanya Cashel to the point.
"Papa! Aku tidak mengenalnya sama sekali. Tidak mungkin aku menyukainya, apalagi tampangnya juga tidak bagus-bagus amat!" jawab Xaviera dengan ketus. Tawa Cashel semakin lebar.
"Ajari dia, karena dia belum pernah bekerja sebagai bodyguard. Lagipula dia cukup tampan. Atau kau cemburu karena banyak mata yang meliriknya di area pemotretan tadi?" olok Cashel.
Dia yakin Riski sama sekali tidak jelek. Lelaki muda itu tampan. Andai dia bekerja sebagai fotomodel, pasti banyak gadis yang akan memperebutkan Riski.
__ADS_1
Xaviera mendelik, hingga manik hitam pekat itu hampir melompat keluar. Tawa Cashel Ritter semakin membahana ke seluruh penjuru ruang kantor yang luas.
"Sudahlah, aku mau pulang saja. Pokoknya Papa harus memberhentikan dia sebagai bodyguard-ku, Papa," seru Xaviera kesal dan menghentakkan kaki sambil melangkah keluar dari kantor Cashel Ritter. Sementara suara tawa Cashel masih terus terdengar saat gadis itu berjalan menuju lift yang akan langsung membawanya ke lantai satu gedung itu.
"Selamat sore, Nona Xaviera. Anda mau pulang?" sapa Salsa, sang resepsionis begitu Xaviera melangkah keluar dari pintu lift. Gadis itu mengangguk sedikit dengan kepala dan pandangan yang lurus ke depan.
"Akan saya panggilkan sopir anda
," ucap Salsa pelan dengan tubuh membungkuk hormat. Di perusahaan Ritter ini hanya ada dua orang yang harus dihormati, Tuan Cashel Ritter dan sang putrinya, Xaviera Ritter yang cantik jelita, tetapi super angkuh.
Xaviera berdiri di depan lobi menunggu mobil yang dikemudikan Riski datang. Namun sudah dua menit dia berdiri di sana, mobil sedan putih itu tidak juga kelihatan bentuknya.
Gadis itu mulai merasa kesal. Hingga lima menit kemudian, Riski masih juga belum muncul. Dia marah. Emosinya naik hingga ke ubun-ubun.
Diraihnya ponsel yang ada di dalam tas, lalu menekan nomor ponsel Riski. Menunggu hingga suara Riski terdengar di seberang ponsel.
"BODOH! Kemana saja kau! Cepat aku mau pulang!" pekik Xaviera meluapkan kemarahan yang sudah berkumpul di atas kepala. Dia tak peduli walau orang-orang melirik heran padanya.
"Maaf, aku sedang makan siang, Nona Xaviera. Aku akan segera ke lobi," jawab Riski berbisik pelan. Dia menjauhkan ponsel dari telinganya. Pekikan Xaviera tadi begitu besar hingga beberapa orang yang sedang duduk di meja makan dekat Xaviera menoleh kearahnya.
Restoran burger itu tampak ramai sekali sore ini, dan Riski mengantri cukup lama untuk mendapatkan sebuah double cheese burger dengan daging ham yang dipanggang mengkilap. Riski baru makan setengah potong dari burger itu ketika Xaviera sudah meneleponnya. Dan sekarang dia meninggalkan piring burger begitu saja karena kemarahan Nona Xaviera lebih menakutkan daripada kehilangan beberapa dollar untuk cheese burger pesanannya.
Tak sampai lima menit, mobil sedan putih itu sudah tiba di depan lobi. Xaviera langsung naik ke dalam mobil tanpa sepatah kata pun. Masih tampak kemarahan di wajah pualam yang memerah itu.
Setengah jam kemudian, mobil sedan putih itu sudah berhenti di depan pintu rumah besar dan mewah. Gadis itu turun begitu saja dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah mewah itu.
Tak lama kemudian mobil sedan hitam tiba dan berhenti tepat di samping Riski yang masih berdiri di sana.
"Bagaimana harimu? Kuharap kau betah. Xaviera mungkin terlalu manja, tapi dia gadis yang baik. Karena itulah aku perlu kau untuk menjaganya, Riski." Cashel Ritter menepuk bahu Riski pelan.
__ADS_1