
9.Merapihkan dan Membersihkan Apartemen yang ia sewa
Riski tiba di apartemen ketika waktu hampir tengah malam. Tubuh yang lelah dan perut yang sudah kenyang membuat dia langsung berbaring dan tidur setelah membersihkan diri.
Hingga keesokan pagi, Riski bangun dengan tubuh yang sakit. Belum pernah dia merasa begitu lelah, bekerja di bengkel dari pagi hingga malam pun tidak selelah ini.
Hari ini Riski tidak perlu datang ke kediaman keluarga Ritter, jadi dia akan membenahi dan merapikan apartemen. Sejak kepergian Granny dua puluh bulan yang lalu. Riski belum sempat membongkar barang-barang peninggalan Granny.
Setelah membuat sandwich seadanya dari sisa makanan yang ada di lemari es, Riski mulai membongkar kamar Granny yang tidak pernah dibuka sejak Granny meninggal.
Apartemen Riski terletak di sudut kota yang agak terpencil, karena itu nilai sewanya lebih murah di banding di kota. Ada dua kamar di apartemen itu, satu kamar adalah untuk Riski dan Giryo, sedangkan satunya adalah kamar Granny. Wanita tua itu membawa semua barang bawaannya ketika pindah ke apartemen itu lima tahun yang lalu, hingga memenuhi hampir seluruh ruangan kamarnya.
Riski tidak pernah tahu barang apa saja yang dibawa Granny, dia pernah bertanya pada Granny saat mereka pindah sebelum ini, tetapi Granny memarahinya untuk tidak banyak bertanya. Sejak saat itu Riski tidak pernah lagi mengungkit barang-barang itu.
Hari ini Riski akan mengetahui rahasia apa yang disimpan Granny sebenarnya. Biar bagaimanapun Riski merasa berutang budi pada wanita tua itu. Riski sudah bersamanya hampir seumur hidup. Dia seperti orang tua yang tidak dimiliki Riski.
Membuka pintu kamar, bau apek karena terlalu lama tertutup segera menguar keluar. Riski masuk dan menghidupkan kipas angin yang ada di langit-langit ruangan, lalu membuka jendela di kamar Granny, kemudian dia meninggalkan ruangan itu.
Riski turun ke lobi apartemen untuk mengambil surat yang biasanya diselipkan pada kotak surat sesuai urutan kamar apartemen. Walau apartemen ini agak kusam, tetapi bengan fasilitas di dalamnya masih cukup baik.
Uang yang didapat Riski bekerja selama ini digunakan untuk membayar sewa. Namun sejak Riski diberhentikan dari bengkel, mau tidak mau bergantung pada uang peninggalan Granny yang hanya sedikit. Juga dari Giryo, lelaki itu ikut membayar sewa walau dia hanya sesekali tidur di sana.
__ADS_1
Tidak ada surat, hanya beberapa lembar brosur dan iklan yang diselipkan pada kotak surat. Riski melihat dan membaca sekilas. Ada iklan lowongan pekerjaan di sebuah restoran yang baru akan dibuka. Dia tertarik.
Beberapa hari lagi dia akan menerima gaji pertama. Dan uang itu akan digunakan Riski untuk melunasi sewa apartemen untuk satu tahun ke depan. Biaya makan, dia bisa mendapatkannya di kediaman keluarga Ritter. Jadi Riski bisa berhemat untuk satu bulan ke depan. Lelaki muda itu tersenyum memikirkan rencana hidupnya untuk satu bulan ke depan.
Riski naik ke apartemen, lalu mulai mengeluarkan satu persatu kotak yang entah apa isinya dan lumayan berat dari dalam kamar. Semuanya ada delapan kardus yang cukup berat dan penuh, serta dua kotak peti kayu bergembok. Satu buah koper yang juga digembok dan berat sekali, ketika Riski memindahkannya. Untuk saja koper itu walau terlihat tua tetapi sudah memiliki roda hingga Riski tidak perlu mengangkatnya. Keringat mengalir deras dari tubuh lelaki muda itu.
Setelah semua kotak keluar, dia membongkar lemari Granny. Untuk pertama kalinya Riski melihat banyak kotak perhiasaan di sana. Dia seperti menemukan harta karun di kamar Granny.
Riski mengumpulkan kotak perhiasan ke dalam satu kotak besar dan menyimpannya ke dalam lemari pakaian. Namun dalam benaknya timbul pertanyaan besar. Kalau benar ini perhiasan Granny, berarti Granny adalah orang kaya! Mengapa mereka selama ini hidup dalam kemiskinan selama ini?
Pertanyaan itu mulai memenuhi pikiran Riski dengan cepat. Dia menjadi bersemangat membongkar kotak-kotak yang sekarang bertumpuk di ruang duduk sekaligus ruang makan di apartemen itu.
Saat matahari tiba di atas kepala, Riski sudah mengosongkan kamar Granny. Hanya ada kasur dan lemari pakaian yang kosong. Baju-baju Granny akan disumbangkannya pada rumah jompo. Begitu rencana yang ada di kepala Riski.
"Tumben kau datang hari ini, Riski? Kau tahu sekali aku libur hari ini," tukas Riski sambil tertawa. Dia mulai menata meja dengan makanan yang dibawa Giryo. Giryo tertawa, dia
masuk ke kamar Granny yang sudah bersih.
"Aku mengantar pesanan pelanggan di distrik sebelah. Sekalian saja aku mampir. Eh tak tahunya kau ada di rumah. Mengapa kau di rumah? kena kau dipecat?" tanya Giryo heran
"Heii... Brother! Bukankah sudah kukatakan tadi aku sedang libur," jawab Riski sambil tertawa lebar. Giryo ikut tertawa.
__ADS_1
"Bagaimana kemarin?" tanya Giryo teringat lebam di badan Riski. "Sudah selesai. Untung aku berhasil menemukan gadis itu kalau tidak bisa-bisa aku jadi pengangguran lagi, Giryo!" seru Riski mendelik lalubtertawa lebar.
"Apa ada kejadian yang lucu sampai kau tertawa seperti itu?" tanya Giryo bingung melihat ekspresi Riski. "Tidak, tidak ada yang lucu, hanya saja...." Riski menggantungkan kalimatnya, membuat Giryo penasaran.
"Apa? hanya saja apa?" tanya Giryo mengejar "Sudahlah lupakan saja. Yang pasti semua sudah selesai dengan baik. Tidak ada yang perlu dicemaskan lagi, Giryo," jawab Riski sambil mengibaskan tangan menandakan bahwa tidak ada masalah.
"Kau ini membuatku penasaran. Yakin bahwa tidak akan lanjutan dari kasus kemarin?" "Yakin! Sudahlah tidak usah dipikirkan lagi. Ayo kita makan, aku ambil bir dulu," jawab Riski, lalu berjalan ke lemari es mengambil beberapa bir kaleng dan membawanya ke meja makan.
Giryo mengangguk, walau dia belum merasa lega. "Ayo kita bersulang untuk kebersamaan kita, Giryo," tukas Riski mengangkat kaleng bir-nya ke tengah meja. Giryo terheran-heran melihat kelakuan Riski yang sepertinya sedang bersuka cita.
"Kau demam?" tanya Giryo yang duduk di seberang Sean menatapnya bingung. Riski terbahak. "Aku hanya kita bersulang karena bahagia," jawab Riski ambigu. Giryo mengernyitkan dahi. "Bahagia? Kenapa?" "Aku bahagia. Sebentar lagi gajian!" Riski kembali tertawa terbahak.
Tiba-tiba dia teringat akan kotak perhiasaan Granny. Apa sebaiknya dia menanyakan pada Giryo? Siapa tahu Riski mengetahui rahasia Granny. Giryo tertawa, "Baiklah."
Mereka mengadu kaleng bir di tengah meja dan tertawa, lalu melanjutkan makan hingga hidangan di atas meja tandas.
"Aku kekenyangan," lontar Riski tidak sanggup beranjak dari meja makan yang berupa meja persegi dengan sebagian papan dan kaki meja sudah gompel di sana sini.
Giryo hanya tertawa kecil melihat Riski dan mulai mengumpulkan piring dan peralatan makan yang kotor ke tempat cucian piring, lalu mulai mencuci.
"Giryo," panggil Riski perlahan. "Hem...," jawab Giryo acuh.
__ADS_1
"Apa kau tahu sesuatu tentang Granny?" tanya Riski lagi. Giryo menoleh dengan alis yang naik sebelah dan mata yang menatap tajam pada Riski.