Sang Ajudan Tampan

Sang Ajudan Tampan
Bab 8


__ADS_3


Menjemput Nona Xaviera Ritter Yang Sedang Mabuk



"Farrel, tolong antarkan aku pulang," rengek Xaviera, wajahnya tampak kacau dengan make up yang luntur akibat air mata. Farrel sudah mulai mabuk, dia melirik pada Xaviera sesaat.


"Minum dulu, aku akan mengantarmu pulang," bisik Farrel di telinga Xaviera sambil memegang erat rahang gadis itu dan mengecupnya perlahan. Xaviera menepis tangan Farrel dengan wajah merengut.


"Aku tidak mau! Kau dengar tidak? Aku hanya mau pulang saja!" seru Xaviera mulai tak sabar, tetapi dia takut karena lokasi bukit yang jauh dari rumah dan agak keluar dari kota.


Farrel yang mulai dikuasai alkohol memegang rahang Xaviera dengan kuat, lalu memaksa gadis itu membuka mulut kemudian menuangkan minuman yang sudah disiapkan sejak tadi ke dalam mulut Xaviera.


"Cepat telan!" hardik Farrel dengan kasar. Dia menahan rahang Xaviera hingga minuman itu habis ditelan dan dia tertawa melihat Xaviera terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah.


Riski melihat semua kejadian itu dari lubang kecil di antara dinding kayu. Dengan cepat dia melompat ke atas pondok, lalu menendang pintu pondok dengan sangat kuat.


BRAAKKK!


BRAAKKK!


Semua yang ada di dalam pondok terkejut. Terutama Xaviera, tak menyangka kalau Riski masih mengikutinya.


"MAU APA LAGI KAU, BODYGUARD TOLOL!" hardik Farrel begitu melihat Riski muncul. Riski melayangkan pukulan pada Astra yang bersiap untuk bangun saat Riski menerjang masuk. Lalu dengan cepat Riski menendang perut Farrel kemudian melayangkan satu pukulan di wajah culas itu, hingga keduanya terjerembab dan tak bisa membalas akibat sudah dikuasai alkohol.


Riski tidak memedulikan mereka, hanya berusaha dengan cepat menarik Xaviera bangun dari atas ranjang dan berlari keluar dari pondok tanpa mengenakan sepatu lagi.


Xaviera terdiam, dia tidak bisa berkata-kata. Gadis itu tidak pernah minum minuman beralkohol karena Cashel Ritter sangat ketat mengawasinya. Minuman yang ditelan Xaviera langsung membuat dirinya mulai dikuasai alkohol dan obat perangsang yang ditelannya barusan membuat dia mulai merasa panas disekujur tubuhnya.


"Xaviera!" teriak Farrel yang sempoyongan mengejar Xaviera. Sementara Riski segera membopong Xaviera di bahu seperti karung beras berlari dengan cepat menuju mobil yang diparkir di luar kafe.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan, Riski?" tanya Xaviera antara sadar dan tidak saat Riski meletakkannya di kursi belakang mobil sedan Porsche Panamera putih itu seperti mencampakkan karung beras.


Riski langsung menyalakan mobil dan melaju kencang menuju ke kediaman rumah keluarga Ritter. Tiba di sana, Riski langsung berhenti di depan pintu utama.


Sekali berbalik, Riski terkejut melihat keadaan Xaviera sudah hampir telanjang, hanya tersisa pakaian dalam yang masih melekat di tubuh sintalnya. Gadis itu terus bergerak mendesis dan mendesah.


Riski turun dan mengambil mantel yang selalu ada di bagasi mobil dan langsung menutupi tubuh Xaviera dengan mantel itu. Setelah itu Riski dengan cepat membopong tubuh Xaviera di bahu dan dibawa masuk ke dalam rumah mewah. Cashel Ritter berdiri di tengah ruangan dan melihat betapa kacaunya Xaviera.


"Bawa dia ke kamar, pangil Sinta, biar dia yang membantu mengganti pakaiannya," perintah Cashel senang melihat Riski berhasil membawa Xaviera pulang.


Riski naik ke lantai dua dan masuk ke kamar gadis itu dan meletakkannya di atas ranjang yang luas dengan seprai sutra putih yang lembut.


Baru saja Riski akan berdiri, tiba-tiba Xaviera menarik bajunya dengan sekali hentakan hingga membuat Riski jatuh menimpa gadis itu. Tepat saat Cashel masuk bersama


Sinta.


"Apa yang kau lakukan Riski!" hardik Cashel marah. Yang dia tahu Sean menimpa Xaviera. Riski langsung mencoba bangun dari tubuh Xaviera.


"Xaviera!" seru Cashel saat melihat


kejadian itu. Sinta sampai melongo di dekat ranjang Xaviera. "Dia ... Nona Xaviera dicekoki minuman alkohol oleh mereka, Tuan," lapor Riski pada Cashel ketika dia akhirnya berhasil lepas dari pelukan Xaviera.


"Mereka? Mereka siapa? Ada orang lain bersama Farrel?" selidik Cashel Ritter hingga keningnya berkerut.


Sean mengangguk.


"Siapa? Kau tahu namanya?"


"Aku tidak tahu, Tuan.... Tapi, aku mendengar dia memanggilnya Astra?" jawab Riski sambil mencoba mengingat kejadian di pondok.


"Hem... aku tahu, anak bungsu Demon! Biang kerok! Berani-beraninya dia menyentuh Xaviera !" desis Cashel marah, matanya berkilat menahan emosi.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apakah dia menyentuh Nona Xaviera atau tidak, Tuan. Tapi dia duduk jauh dari Nona, sedangkan Farrel duduk di samping Nona, Tuan," lapor Riski jujur.


"Tak peduli dia menyentuh Xaviera atau tidak, yang pasti dia ada di sana!" desis Cashel dengan wajah memerah.


Riski bergeming menatap Cashel bingung. Sikap Cashel terasa membingungkan. Ada hubungan apa Cashel dengan Amora dan Demon? Namun Riski cukup tahu diri untuk tidak menanyakan hal itu. Dia bukanlah siapa-siapa.


"Baiklah. Kau boleh pulang, Riski. Besok kau boleh libur," tukas Cashel sambil menghela napas berat, lalu dia dan Riski keluar dari kamar Xaviera dan meninggalkan Sinta melakukan tugasnya.


"Baik, Tuan," jawab Riski membungkuk memberi hormat lalu turun ke lantai satu menuju dapur. Perutnya sudah minta diisi dari tadi. Nyonya Salsa sedang membersihkan dapur ketika Riski masuk ke dapur.


"Kau belum makan makan, Anak Muda?" tanya Nyonya Salsa dengan senyuman ramah. Riski mengangguk.


"Duduklah, akan aku ambilkan makanan untukmu," ucapnya lagi.


"Terima kasih, Nyonya Salsa," jawab Riski berjalan menuju lemari es dan mengambil sebotol air minum dingin. Dia haus, lelah dan lapar. Ya Tuhan! Pekerjaan ini sungguh menguras tenaga, jauh lebih berat dari pekerjaannya di bengkel.


Riski meneguk minuman hingga sisa setengah, lalu menarik kursi dan duduk menunggu makanannya datang.


"Makanlah, Riski. Kau terlihat kelelahan hari ini? Hari yang berat, hah?" tanya Nyonya Salsa tertawa. Riski mengangguk dan mulai mengunyah makanannya. Yang paling penting dia bisa mengisi perutnya malam ini hingga kenyang.


Ketika Riski selesai mengunyah makanan terakhir di mulutnya, Sinta masuk ke dapur. Dia sudah selesai menggantikan pakaian Xaviera.


"Apa yang terjadi pada Nona Xaviera, Riski? Aku susah sekali memakaikannya pakaian tidur, dia terus bergerak dan membuka pakaiannya yang sudah kupakaikan," keluh Sinta kesal. Riski tertawa tertahan.


"Dia minum alkohol, Sinta, tubuhnya terasa panas. Aku tadi sampai terkejut begitu sampai di depan pintu, Nona Xaviera sudah hampir telanjang di kursi belakang!" cerita Riski dengan mata lebar dan berkeringat.


Sinta tertawa. "Kau menikmati pemandangan indah malam ini, Riski! Kupastikan kau akan bermimpi indah," ejek Sinta terbahak.


Riski tersenyum kecut. Terus terang saja selama hidupnya hampir dua puluh dua tahun, dia belum pernah sekali pun melihat tubuh wanita telanjang.


"Aku pulang dulu," pamit Riski pada Sinta dan Nyonya Salsa yang masih cekikikan mendengar cerita Riski.

__ADS_1


Riski berjalan kaki hingga halte, tetapi bus malam terakhir sudah lewat beberapa menit yang lalu. Lelaki muda itu mengembuskan napas lelah dan pasrah sambil melangkah gontai.


__ADS_2