
Bahagia itu Sederhana
Di hari minggu pagi, Riski bangun pagi-pagi sekali. Tidurnya sangat nyenyak, belum pernah rasanya Sean tidur senyenyak ini.
"Begini rasanya punya kamar sendiri," gumamnya sambil meregangkan badan di atas ranjang. Kemudian dia bangun dan keluar kamar. Ternyata Giryo sudah berada di dapur membuat pancake yang aromanya sungguh menguggah selera.
"Pagi, Riski," sapa Giryo sambil terus menggoyangkan spatula dan frying pan.
"Hem... sedap sekali aroma pancakenya, Giryo. Apa sudah matang?" puji Riski sambil menarik kursi dan duduk di meja makan. Tangannya meraih pitcher yang berisi perasan jeruk lemon dan menuangkannya di gelas, lalu meminumnya hingga setengah gelas.
"Andai kita bisa seperti ini setiap hari, Giryo, tanpa perlu memikirkan pekerjaan," khayal Riski melambung tinggi. Giryo tertawa.
"Memangnya kau mau bermalas-malasan setiap hari tanpa bekerja?" tanya Giryo sambil menaruh sepiring pancake di atas meja.
"Ya siapa tahu kita punya keberuntungan seperti itu," jawab Riski sembarang.
geli. "Aku tidak mau," jawab Giryo Mata Riski langsung melebar, * Kenapa?"
"Umurku sudah hampir setengah abad, Riski. Kalau aku tidak bekerja dan bermalas-malasan, kurasa hari tua-ku akan berakhir di kolong jembatan," jawab Giryo jujur.
Riski menutup wajahnya dengan kedua tangan, apa yang dikatakan Giryo adalah benar. Orang kaya sekalipun harus tetap bekerja. Contohnya Cashel Ritter, dia bekerja walau tidak delapan jam sehari, tetapi dia tetap harus menjaga pundi-pundi uangnya tetap terisi penuh.
"Yeah, kau benar, Giryo. Hanya saja andai kita punya uang lebih, apa yang akan kau lakukan?" tanya Riski lagi.
"Jangan berandai-andai, Riski. Itu akan membuatmu menjadi seorang pemimpi dan pemalas. Hadapi harimu dengan tangan dan hati yang terbuka. Bekerja dengan tulus dan ikhlas. Dengan begitu kita akan merasa senang dan bahagia di tengah kekurangan kita. Bahagia itu sederhana tidak perlu bermewah-mewah, Riski," jawab Giryo bijak.
Riski mengangguk-angguk.
"Ayo makan, dan hentikan bermimpi karena hari sudah terang," kekeh Giryo sambil mulai menuang lemon juice dan mengambil dua potong pancake ke dalam piringnya.
__ADS_1
"Giryo ...," panggil Riski pelan saat lelaki itu sedang mencuci piring kotor. Riski merasa tak enak hati anda dia menyimpan sendiri emas-emas peninggalan Granny yan ditemukannya.
"Ada apa?" tanya Giryo santai tanpa menoleh pada Riski.
"Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan saat kau selesai mencuci piring." Giryo mengangguk.
"Aku tunggu di kamar," ucap Riski sambil melangkah menuju kamar tanpa menunggu anggukan Giryo.
Dia duduk di atas ranjang sambil bersedekap dengan mata menerawang jauh. Masih terus memikirkan perkataan yang akan disampaikannya pada Giryo. Riski sudah menganggap Giryo seperti abangnya sendiri. Jadi tak ada salahnya dia berbagi dengan Giryo.
Lima menit berselang, Giryo masuk ke kamar Riski tanpa mengetuk. Lelaki muda itu terlonjak kaget karena sedang melamun jauh.
"Kau membuat jantungku hampir lepas dari tempatnya," cetus Riski sambil mengelus dadanya. Giryo tertawa lebar.
"Kau melamun lagi! Bukankah sudah kukatakan hari sudah terang, jangan melamun lagi. Lanjutkan nanti malam saja lamunanmu itu," kekeh Giryo. Riski ikut terkekeh.
"Apa yang ingin kau sampaikan ?" tanya Giryo to the point. Riski menarik napas panjang, lalu dia berdiri dan mengambil sesuatu di lemari.
"Kau tahu, aku sedang membersihkan barang-barang peninggalan Granny. Dan aku menemukan ini," tutur Riski sambil membuka kotak emas dan memberikannya pada Giryo.
"Gila! Ini semua peninggalan Granny?!"tanya Giryo tak percaya. Riski mengangguk. Bagaimana Granny bisa menyimpan semua ini sendiri? Dia bahkan
"Aku sungguh tak percaya, Riski! bekerja keras demi memberi kita makan! Aku rasa emas-emas ini bukan milik Granny, Riski!" seru Giryo menyugar rambut ikalnya.
"Aku juga tidak tahu, Giryo. Padahal aku selalu bersama Granny. Tapi dia sama sekali tidak pernah menyinggung soal emas-emas ini,” ucap Riski bersedekap.
"Sebaiknya kau simpan saja dulu. Andai suatu hari ada yang datang menanyakannya, kau bisa mengembalikannya," jawab Giryo mencoba memberi solusi.
Riski masih bersedekap.
"Kau tahu, Giryo. Selama aku mulai mengenal Granny hingga hari dia meninggal, tidak ada satu orang pun yang pernah datang berkunjung ke rumah. Jadi apa mungkin setelah dia meninggal tiba-tiba ada sanak saudaranya datang menemui kita?"
"Hemm... kau yakin? Selama aku bersama Granny memang belum pernah melihat ataupun bertemu dengan seseorang yang mengenal Granny. Jadi darimana datangnya barang berharga sebanyak ini?" Giryo seperti bertanya pada dirinya sendiri. Ini membingungkan.
__ADS_1
Sejenak Riski dan Giryo tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Giryo, tadi terlintas di benakku, bagaimana kalau kita jual emas ini untuk membeli motor, satu untukmu dan satu untukku. Bagaimana menurutmu?" tanya Riski tiba-tiba.
Giryo terdiam. Tidak pernah terlintas di benaknya untuk memiliki kendaraan sendiri. Lagipula sepertinya dia tidak terlalu memerlukan. Tiap hari dia selalu di kedai, tidur juga di kedai. Seminggu sekali baru pulang ke apartemen dan dia merasa nyaman naik bus, tinggal duduk dan bus berjalan sampai ke halte tujuan yang tidak terlalu jauh dari apartemen.
"Sepertinya aku belum membutuhkan motor, Riski. Ada bus yang selalu datang sesuai jadwal," balas Giryo santai.
"Mungkin sebaiknya kau saja yang beli mobil, karena letak rumah bos-mu jauh dari halte. Dan kau juga sering pulang malam. Kau tahu, aku mengkhawatirkanmu pulang malam sendirian," ucap Giryo lagi.
Riski tertawa. "Kau lupa? Aku seorang bodyguard, Giryo. Tentu saja aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Kau lupa ajaran Kakek Qin dulu? Bodyguard juga manusia, Riski. Bukan manusia super," cetus Giryo tidak mau kalah.
"Tentu saja aku selalu ingat ajaran Kakek Qin. Karena dia aku bisa menjadi seperti sekarang."
"Nah baguslah kalau kau belum melupakan ajaran Kakek Qin. Karena itu, minggu depan aku akan menemanimu untuk membeli satu unit mobil. Mobil second juga tidak apa-apalah. Bukankah kau bisa mempraktekkan ilmu perbengkelanmu pada mobilmu sendiri," ungkap Giryo berterus terang.
"Kau sungguh tidak membutuhkan kendaraan sendiri?" tanya Riski masih ragu.
"Sungguh! Untuk apa aku membohongimu? Aku setiap hari selalu ada di kedai, tidur juga di kedai. Belanja keperluan kedai? Ada bos yang mengaturnya. Jadi untuk apa kendaraan? Pulang ke apartemen, aku bisa naik bus, santai dan nyaman."
"Pokoknya aku belum memerlukan kendaraan, Riski." Giryo menjawab dengan santai tetapi tegas. Dia sudah cukup bersyukur memiliki Granny dan Riski sebagai keluarga, walau hidup mereka pas-pasan.
"Baiklah kalau begitu, minggu depan kita mulai mencari mobil yang cocok untuk kita," seru Riski bersemangat. Giryo tertawa.
***
Sementara itu di kediaman keluarga besar Ritter, Xaviera tampak marah dan membanting semua barang yang ada di dalam kamar karena Cashel tidak mengijinkan dia keluar rumah selain bersama Riski.
"Apa yang Papa inginkan sebenarnya?" seru Xaviera dengan mata berkilat marah.
"Aku punya karier yang harus aku jaga, Papa! Aku tidak mau karier yang susah payah kubangun hancur begitu saja!" teriak Xaviera penuh emosi di depan Cashel.
__ADS_1
"Kau boleh pergi kalau Riski yang menemanimu!" tegas Cashel membuat mata Xaviera terbelalak.
***