Sang Ajudan Tampan

Sang Ajudan Tampan
Bab 3


__ADS_3


Sentuhan Kehangatan Orang tua



Riski merasakan kehangatan saat bahunya ditepuk oleh Cashel Ritter, seperti seorang ayah yang sedang memberi semangat pada anaknya. Riski seorang anak yatim piatu. Dia bahkan tidak mengenal kedua orang tuanya. Hanya Granny. Dia hanya memiliki Granny yang entah siapa namanya. Sejak pertama mengenal Granny, Riski sudah memanggilnya seperti itu kepada wanita setengah baya yang mengurusnya dari sejak kecil.


Dia pernah menanyakan pada Granny, siapa kedua orang tuanya, tetapi Granny selalu menggeleng. Saat di sekolah, Riski selalu diejek dan tak punya teman karena dia tak punya orang tua. Hal ini menimbulkan luka batin yang luar biasa dalam di hati Riski.


Sampai suatu ketika, Riski bertemu dengan Kakek Qin yang tinggal tak jauh dari rumah. Dia sangat ahli dalam ilmu bela diri walau usianya sudah tidak muda lagi.


"Riski, kau lapar? Mau makan malam di sini?" tanya Nyonya Salsa, Ibu Sinta. Untuk sesaat Riski tersadar dari lamnunan masa lalu, merasa tertarik kembali ke dunia nyata.


"Aku mau, Nyonya Salsa, kalau masih ada sisa makan malam," jawab Riski malu. Dia harus menghemat uang yang ada di kantongnya sekarang ini. Nyonya Salsa tertawa.


Hahahaha......


"Duduklah, aku akan ambilkan piring dan makanan untukmu," ujar Nyonya Salsa seraya menyiapkan piring dan sendok untuk Riski.


"Terima kasih, Nyonya Salsa," balas Riski saat Nyonya Salsa menaruh dua piring sayuran dan daging iris di hadapannya. Nyonya Salsa tertawa.


Hahahaha....


"Ayo dimakan, nanti dingin tak enak lagi." Riski mengangguk. "Aku tidak akan sungkan lagi," jawab Riski dengan senyuman lebar diwajah, mengambil satu sendok penuh daging ham panggang yang aromanya


sangat menggugah selera. Riski bahagia, malam ini dia bisa makan hingga kenyang setelah beberapa hari menahan lapar.


"Selera makanmu bagus juga, Riski. Habiskanlah, kalau kurang nanti akan kutambahkan lagi," ucap Nyonya Salsa gembira sambil menaruh semangkok sup. Dia menyukai Riski yang ramah dan juga tampan. Andai Sinta belum punya kekasih, mungkin dia akan dijodohkannya dengan Riski.

__ADS_1


"Besok pagi kau bisa minta pada Sinta untuk membungkuskanmu bekal, Riski," saran Nyonya Salsa.


"Ide bagus, Nyonya Salsa," balas Riski senang. Senyum menghiasi wajah tampan itu. Hari-hari ke depan. akan semakin menyenangkan. Dia tak akan kelaparan lagi.


"Kau akan tidur di rumah belakang, Riski?" tanya Nyonya Salsa lagi, Riski menggeleng.


"Aku sudah menyewa apartemen sendiri, Nyonya Salsa. Jadi sehabis makan malam, aku akan pulang andai Nona Xaviera tak membutuhkan aku lagi," ucap Riski sambil membereskan peralatan makan dan membawanya ke cucian.


"Eh... biar aku yang bereskan, Riski. Kau pergilah menanyakan pada Nona Xaviera. Kalau tidak ada pekerjaan lagi, pulang dan istirahatlah," seru Nyonya Salsa penuh kasih. Hati Riski menghangat seketika. Dia belum pernah diperlakukan begitu istimewa. Bahkan ketika Granny masih ada.


"Te-terima kasih, Nyonya Salsa. Kau baik sekali, padahal kita padahal baru kenal hari ini," ucap Riski tersendat. Sudut matanya terasa menghangat.


"Sudah... sudah, tidak usah sungkan padaku. Katakan saja kalau kau ingin makan sesuatu, akan aku masakkan untukmu. Anggap saja sebagai hadiah selamat datang di kediaman keluarga Ritter," ucap Nyonya Salsa dengan senyum terkembang di wajah.


Riski mengangguk dengan senang hati. Dia bahagia sekali hari ini. Hari yang paling membahagiakan sepanjang dua puluh tahun hidupnya. Dia meninggalkan Nyonya Salsa yang sibuk mencuci peralatan masak, menuju ke ruang depan.


Cashel Ritter sedang duduk menonton film di depan televisi layar datar yang hampir selebar dinding ketika Riski masuk. Sejenak Riski terpana melihat kemewahan di depannya.


Riski mengangguk, "Sudah, Tuan. Aku ingin segera pulang seandainya Nona Xaviera tidak keluar rumah malam ini."


"Ah ya, sebentar kutanyakan pada Xaviera," jawab Cashel mengambil telepon wireless yang ada di atas meja. Sesaat kemudian, Cashel beralih pada Riski.


"Kau boleh pulang sekarang. Ingat besok pagi jangan datang terlambat."


"Apa aku masih bekerja di sini, Tuan? Tadi sore Nona Xaviera mangatakan kalau dia ingin agar aku diganti," ucap Riski ragu. Cashel Ritter tertawa.


Hahaha......


"Kau tahu, Riski, Xaviera adalah anakku satu-satunya dan aku begitu terlalu memanjakannya karena dia persis sekali dengan istriku. Apapun yang diinginkannya selalu aku turuti. Tapi tidak kali ini. Dia belum mengenalmu, Riski,"

__ADS_1


Hati Riski lega mendengar ucapan Cashel. Dia semakin yakin kalau masa depannya akan segera membaik. Tak masalah menghadapi Xaviera yang manja. Riski yakin dia akan bertahan demi memperbaiki kualitas hidupnya.


"Terima kasih, atas kepercayaan yang Tuan berikan," ucap Riski dengan mata berbinar sambil membungkuk memberi hormat. Lalu dia berjalan ke dapur, bersiap untuk pulang.


Bus terakhir yang akan membawanya pulang ke apartemen sudah tiba saat dia sampai di halte. Riski berlari kecil agar tidak ditinggal bus. Hatinya terasa ringan karena masalah keuangan sudah teratasi. Malam ini dia bisa tidur nyenyak dengan perut yang juga kenyang.


Seminggu berlalu begitu saja. Riski sudah mulai terbiasa menghadapi Xaviera yang manja dan angkuh. Dia memaklumi tingkah gadis itu. Anak tunggal dengan Ayah yang kaya raya. Mungkin dia juga akan bertingkah seperti itu seandainya memiliki Ayah seperti Cashel Ritter.


"Antarkan aku ke studio X-press di temple street, pecinan. Sekarang!" perintah Xaviera yang turun dari lantai dua dengan kaos dan jeans ketat membungkus tubuh sintal itu dengan indah nan anggun.


Riski segera ke garasi menyiapkan mobil, lalu menunggu di depan pintu utama. Xaviera keluar begitu melihat mobil berhenti di depan pintu dan langsung naik ke dalam mobil.


Mobil berjalan dengan lambat dan tenang. Kali ini Xaviera tidak lagi marah-marah seperti saat hari pertama Riski bekerja.


Lebih dari satu jam kemudian mobil sedan putih itu memasuki area pecinan. Riski mencari tempat parkir lalu memarkirkan kendaraan tepat di depan studio X-press.


Xaviera langsung turun dari mobil kemudian masuk ke dalam studio. Pemotretan yang sedang berlangsung di lantai dua studio itu.


"Halo, Xaviera. Rico sudah menunggumu dari tadi," seru Wenny, sesama model yang sedang beraksi di depan kamera.


"Aku sudah tahu," jawab Xaviera tak peduli sambil berlalu, dia mencari keberadaan Rico.


"Sombong sekali dia," sindir Wenny yang merasa tak senang karena jawaban Xaviera dirasa menyinggung harga dirinya. Bukankah dia sudah lebih dulu terjun di dunia modeling sebelum Xaviera.


Xaviera berhenti melangkah, mata hitam indah itu menatap tajam pada Wenny yang tak merasa bersalah dengan ucapannya itu.


"Kenapa? Kau tidak mungkin tertarik padaku, kan?" sindir Wenny lagi, senyum sinis menghias wajah cantik Wenny.


Xaviera berdiri berkacak pinggang menghadap Wenny. Dia paling benci disindir seperti itu. Sekarang emosinya meluap dan siap melampiaskan kemarahan pada Wenny. Namun, Wenny juga bukanlah model yang baru menetas. Dia tidak takut pada Xaviera. Dia pun kesal dengan sikap Xaviera yang angkuh dan sok kaya, walau Cashel Ritter memang orang kaya.

__ADS_1


"Kau sedang bosan sekali, ya? Mencari masalah denganku, Wenny?" tantang Xaviera dengan kilat kemarahan yang sangat jelas di mata indah itu.


__ADS_2