
Seluruh Kerajaan merasa sangat kehilangan atas kematian Marshall Hermes, Dimana dia adalah salah satu kekuatan utama kerajaan dan juga salah satu 4 Supreme Master.
Meskipun Marshall kelihatan kasar akan tetapi dia mempunyai sifat yang baik dan lembut terhadap orang-orang di sekitarnya.
Pemakaman Marshall pun di hadiri oleh seluruh Prajurit dan Mage kerajaan, Semua anggota dari Klan Hermes menghadiri upacara penghormatan terakhir untuk Marshall.
Scene berpindah ke taman setelah selesai pemakaman Marshall Hermes
Tiba-tiba orang yang berbadan tinggi dan tampan berambut pirang menghampiri Niele
"Apakah kau sudah merasa lebih baik?"
"Pada akhirnya aku memiliki penyesalan, Dan itu yang mengganggu ku sekarang " Ucap Niele yang sedang duduk di taman
"Apa itu?" Ucap Pria itu
"Sebelum Ayah meninggal dia sempat mengatakan bahwa dia menyayangiku, Hal itu yang membuat dadaku terasa sangat sesak!" Ucap Niele yang memegang dadanya sambil menunduk
Pria itu hanya menatap kearah Niele dan langsung duduk di samping Niele
"Aku selama ini hanya bertindak seperti anak kecil, Aku dengan sangat egois membenci Ayah hanya karena dia jarang berbicara kepadaku " Ucap Niele
Pria itu memegang kepala Niele dan tersenyum
"Sekarang kau sudah besar yah, Sebenarnya ada sesuatu hal yang selalu Ayah katakan padaku selama ini, Sebenarnya Ayah selalu mengkhawatirkan mu selama ini, Dia diam-diam selalu memperhatikan mu dan selalu memberiku pesan untuk selalu menjagamu, Aku sangat mengerti perasaanmu ketika melihat ayah seperti membencimu tetapi sebenarnya dia sangat menyayangi semua keluarganya tapi dengan cara yang berbeda" Ucap MARVIN HERMES (Anak pertama Marshall Hermes)
"Alasan dia mengasingkan kamu dan ibunda adalah, Dia tidak mau kamu terlibat dengan urusan keluarga dengan usiamu yang masih sangat muda" Ucap Marvin
"Tapi mengapa dia sangat terobsesi dengan kekuatan! Dan memperlakukan ku seperti tidak ada! Dan membuatnya seolah olah membuat dia membenciku " Ucap Niele
"Niele, Aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan akan tetapi aku juga merasakan hal yang sama denganmu ketika aku masih seumuran denganmu, Sudah ku bilang Ayah mempunyai caranya tersendiri untuk mendidik anaknya" Ucap Marvin
"Apa maksudmu"
"Seperti yang ku bilang Ayah sangat menyayangi kita semua dan memiliki caranya sendiri untu mendidik kita, Aku akan bertanya padamu Niele"
Marvin pun berdiri dan pindah ke hadapan Niele
__ADS_1
"Apa kamu pernah melihat anak-anak dari keluarga bangsawan lainya yang sangat lemah? Dan mereka selalu menggunakan status untuk menyelesaikan sebuah masalah dan mempunyai sifat ketergantungan kepada orang tuanya hanya karena mereka berasal dari keluarga bangsawan ? " Tanya Marvin ke Niele
"Ya-yah Aku sering melihatnya"
"Apa yang membuat mereka seperti itu?" Tanya Marvin
"Mungkin mereka Benar-benar lemah?" Balas Niele
"Semua manusia sebenarnya tidak ada yang lemah Niel, Pada dasarnya sifat manusia dapat berubah dengan lingkungan dan keadaan di sekitarnya, Orang-orang seperti mereka adalah orang yang tipe pemikirannya yang tidak akan pernah maju, Dan berpikir semuanya bisa diselesaikan dengan status mereka, Apa yang membuat mereka berpikir seperti itu?" Tanya Marvin
"Aku tidak tahu" Jawab Niele sambil menunduk
"Mereka terlalu di manjakan oleh orang tua mereka, Cara mendidik anak itu wajib di perhatikan oleh orang tua, Mungkin alasannya karena mereka sangat sayang kepada anaknya sehingga tidak mau melihat anaknya berada di situasi kesusahan, Namun mereka terlalu berlebihan memperlakukan anak seperti itu dan secara langsung tidak memikirkan nasib anak mereka kedepannya"
"Bukankah itu bagus ketika orang tua memperhatikan dan memperlakukan anaknya dengan sangat baik ? " Tanya Niele
"Kau benar Niele, Namun apakah kau tidak ingat? Bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik? Ingat ini, Ketika kita sudah sangat bergantung kepada sesuatu hal yang membuat kita sangat nyaman maka semakin sulit juga kita untuk melepaskanya, Itu adalah sifat alami manusia, Orang yang sudah berada dalam situasi tersebut cara pemikirannya pasti akan seperti ini, Ketika mereka di beri pertanyaan dalam suatu keadaan pasti mereka akan menjawab seperti ini "BAGAIMANA NANTI SAJA, ATAU LIHAT SAJA NANTI KEDEPANYA BAGAIMANA" Itu adalah jawaban mereka, Disini kita melihat bahwa orang seperti itu sudah terbiasa bergantung kepada orang tua maupun orang lain" Ucap Marvin
"Terus apa hubungannya dengan Ayah?" Tanya Niele dengan wajah polos
"Gembel! dengerin dulu napa, Jadi singkatnya Ayah tidak mau membuat kamu menjadi anak yang seperti itu, Hanya karena keluargamu adalah keluarga yang cukup kaya dan berpengaruh itu semua bukan sesuatu hal yang harus kau banggakan, Karena semua sesuatu yang dimiliki oleh keluarga sekarang bukanlah hasil kerja keras mu, Ayah sengaja membuat dia seolah tidak memperhatikan mu untuk membuat kau berpikir lebih dewasa, Sudah kubilang Manusia dapat berubah oleh keadaan atau situasi yang mereka alami saat itu juga, Mungkin kau belum cukup dewasa dalam cara berpikir untuk keadaan yang kau alami, Cepat atau lambat kau pasti akan bertumbuh dewasa, Ayah tidak mau anak-anaknya mempunyai pikiran sangat sempit dan hanya mengandalkan orang tua maupun orang lain"
Niele hanya melamun dan menunduk ketika mendengar sifat ayahnya yang tidak Niele ketahui selama ini
"Selama ini aku membenci dia tanpa mengetahui apa tujuan dia berprilaku seperti itu ! Aku sangat bodoh ...hikss " Ucap Niele sambil menangis
"Aku berterimakasih padamu Niele, Kau sudah menemani Ayah pada hembusan nafas terakhirnya" Ucap Marvin sambil tersenyum ke arah Niele
Niele Menangis sejadi jadinya di taman itu
Banyak pelajaran yang kita ambil dari kehidupan ini, Banyak orang mengakhiri hidupnya hanya karena tidak kuat dalam menghadapi situasi yang sedang mereka alami saat ini, Dan berhentilah membandingkan diri sendiri dengan orang lain, Karena setiap orang mempunyai jalanya tersendiri, Ketika kita gagal teruslah bangkit dan jadikan kegagalan menjadi sebuah pembelajaran untuk kedepannya, sebelum mencintai orang lain cintailah dirimu sendiri.
Ini adalah pesan yang di buat Author dan tidak masuk kedalam alur cerita, Ini hanyalah pengingat untuk semua orang untuk lebih menghargai diri sendiri, Baru saja kemarin teman sekaligus sahabat Author meninggal dengan cara bunuh diri karena depresi dan stress yang dia alami, Untuk semua pembaca saya harap untuk lebih menghargai diri sendiri,Karena jika bukan kita sendiri terus siapa lagi?
Saya meminta do'a nya kepada semua pembaca untuk Alm teman saya agar tenang di alam sana, Sekali lagi saya minta maaf atas waktu yang saya ganggu untuk menikmati Novel ini
Kembali ke cerita
__ADS_1
Terlihat di dunia bawah di tempat Azazoth dan para Demon tinggal
"Kau kalah oleh manusia?" Ucap Azazoth
"Maafkan aku tuanku, Aku sudah mengalahkan semua manusia yang menghadang kita ke pemukiman, Namun ketika aku akan membunuh pemimpin mereka tiba-tiba ada seorang anak manusia yang sangat kuat! Aku pikir dia mempunyai Aura yang sama seperti Erick Javier di masa lalu " Ucap Astaroth sambil berlutut
"Hahahah!..Jadi dia masih belum mati? Yah itulah yang aku harap kan darimu Erick! Untuk sekarang biarkan tugas kita di jalankan oleh Manusia-manusia itu (menunjuk Ares dan Gladius) " Ucap Azazoth
Mereka berdua pun menghadap ke Azazoth
"Sesuai keinginan anda yang mulia" Ucap mereka berdua
"Buatlah suasana semakin panas di kerajaan, Untuk 3 tahun kedepan semua tugas yang akan dikerjakan oleh Manusia ini, Aku akan mempersiapkan rencana untuk melakukan perang besar-besaran karena tubuhku masih tersegel di dalam pedang Erick Javier dan aku akan memberikan tugas untuk sebagian orang untuk mencari pedang itu"
"Hidup tuan Azazoth"
Scene berpindah ke rumah Edward
"Kita akan kembali ke akademi, Dan kembali dalam 3 tahun kedepan aku dan Niele akan kembali ke sini" Ucap Leon yang siap-siap berangkat kembali ke akademi
"Berjanjilah untuk selalu mengirimkan ku surat kak" ucap Reina
"Yah aku berjanji, Baiklah semuanya aku pergi dulu" Ucap Leon
"Andine, Aku pasti akan kembali untuk menikah denganmu ! (Bersemangat) "Ucap Niele
Mereka pun kembali ke akademi, Setelah Kematian Marshall Hermes banyak orang yang antusias ingin membela kerajaan ini dan meneruskan tekad Marshall untuk keadilan, Semuanya kembali ke keadaan semula akan tetapi ancaman dari para Demon tidak hilang begitu saja
Tetapi semua masyarakat berpikir bahwa setelah kejadian seperti kemarin tidak akan terjadi lagi, Namun semua itu hanyalah awal dan disini ancaman yang lebih besar akan terjadi
Scene memperlihatkan kembali kepada pria berambut panjang dan badan tinggi besar yang membawa pedang Erick di masa lalu, Dia bersiap akan memulai perjalananya ke Kerajaan Hellparnia
"Aku rasa pedang ini selalu bereaksi ke arah sana (Hellparnia) Aku harus kembali ke kerajaan itu " Ucap pria itu
-Bersambung
ARC TIME SKIP DI MULAI
__ADS_1