Satpamnya Aldara

Satpamnya Aldara
Part 12


__ADS_3

Hubungan Aldara dan Samuel semakin dekat dan tidak mereka sadari jika mereka sudah seperti pasangan. Dari Samuel yang selalu memperhatikan Aldara, dan juga Aldara yang jatuh cinta kepada Samuel, membuatnya dengan suka rela menerima perhatian Samuel. Hingga hal itulah yang membuat mereka tampak akrab dan selalu bersama.


Bahkan banyak siswa dan siswi yang merasa heran dengan kedekatan mereka. Padahal tidak ada yang mustahil apalagi mereka diam dalam satu atap yang sama.


Tentunya tak ada lagi interaksi canggung bahkan kini Aldara menunjukkan rasa ketertarikannya kepada Samuel. Sementara itu Samuel ternyata tetap masih sama dengan sifatnya yang dulu, susah peka.


Ia mengira jika Aldara tak menyukainya padahal pria itu sendiri menyukai Aldara.


"Oi!!" teriak Aldara pada Samuel.


Samuel yang tengah bekerja itu terkejut ketika disapa oleh Aldara. Ia menoleh ke depannya dan sudah ada Aldara yang berdiri di seberang meja kerjanya. Ia pun mengangkat satu alisnya seolah tengah bertanya kepada wanita di depannya tersebut yang tampak tengah bergembira.


"Ada apa? Sepertinya suasana hati mu sangat baik."


Aldara bertepuk tangan bangga karena Samuel dengan mudah menebak suasana hatinya.


"Wow hebat dan kau benar-benar dapat menebaknya."


"Tentu sja aku bisa menebaknya jika kau yang terus tersenyum-senyum seperti itu," ucap Samuel sembari menggelengkan kepala. Ia pun berdiri dan menarik tangan Aldara agar duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.


Aldara pun patuh dan duduk di samping pria itu. Senyum indahnya dicurahkan Aldara untuk Samuel.


"Kau tahu aku mendapatkan peringkat yang bagus. Kau harus memberikan aku hadiah." Aldara mengeluarkan rapor nya dan memberikannya kepada Samuel.


Samuel menatap lapor tersebut dan terdiam. Benar apa yang dikatakan Aldara jika wanita tersebut mendapatkan peringkat 1 di kelasnya. Aldara tergolong anak yang pintar tapi menurut Aldara dirinya masih tak terlalu pintar.

__ADS_1


"Wow hebat. Baiklah aku akan memberikan mu hadiah. Mungkin tak hari ini, nanti malam atau besok-besoknya atau bahkan tidak sama sekali."


Padahal Samuel hanya bercanda tapi reaksi Aldara langsung marah kepada pria itu. Ia pun membuang wajahnya dan menarik napas panjang lalu kemudian keluar dari ruangan Samuel. Samuel tersenyum jahil kepada wanita tersebut.


Ternyata jika marah seperti saat ini Aldara sangat menggemaskan. Sudahlah jika terus memperhatikan Aldara yang ada ia tak bisa fokus bekerja sementara itu ia harus fokus pada pekerjaannya yang amat berat. Setelah semua itu selesai barulah memikirkan hadiah apa yang akan ia berikan kepada Aldara.


Sementara itu sepanjang jalan Aldara terus mendumel karena marah kepada Samuel yang malah mengatakan tak ingin memberikan hadiah kepadanya. Memang tak mengatakan secara langsung tapi Aldara tahu benar jika itulah maksud dari Samuel.


Aldara bukan matre hanya saja ia ingin seperti orang-orang yang mendapatkan kado dari orang yang dicintainya. Meksipun Aldara tak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Samuel tapi ia berharap pria itu memberikan hadiah untuknya. Terserah benda apa yang akan dihadiahkan Samuel.


Aldara masuk ke dalam kamar dengan wajah yang cemberut. Kemudian ia duduk di meja belajarnya dan menatap boneka robot yang ada di depannya. Seperti biasa, Aldara akan mencurahkan seluruh perasannya kepada robot itu. Sebab hanya robot itu yang menjadi tempat mengadu Aldara.


Ia sering bercerita banyak hal hingga menceritakan mengenai Samuel. Robot itu miliknya dan Aldara lupa di mana ia membeli robot itu sebab Aldara tak mengingatnya dan ibunya memberikan itu katanya itu milik Aldara.


Sementara itu di luar Samuel menyempatkan untuk memperhatikan Aldara. Ia tak bisa mendengar Aldara bercerita tapi ia tersenyum melihat Aldara yang berbicara kepada robot itu.


Mengingat kenangan yang dulu membuat senyum Samuel melebar. Kini ia bisa bersama Aldara walau situasinya yang sedikit berbeda.


"Aku akan selalu menjaga mu dan akan mencintai mu. Aku tak tahu perasaan mu dan aku harap kau tidak akan marah Kepadaku jika akulah suami mu."


Samuel menghela napas panjang dan memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana dan kemudian pergi dari hadapan kamar Aldara.


Sampai Samuel pergi, Aldara tak menyadari jika Samuel dari tadi memperhatikannya.


________________

__ADS_1


Samuel menatap anak-anak buahnya yang berlutut di depannya. Tangannya terkepal karena salah satu rahasia dari dirinya dibocorkan kepada musuh. Kini semakin gawat dan Samuel sudah ketahuan jika adalah orang bayangan dari Alkara.


Hanya saja wajahnya belum tersebar hingga masih aman. Ia menatap ke arah anak buahnya yang tak becus menjaga rahasia tersebut.


"Kenapa kau bisa mengatakannya?"


"Karena kami tak menyadari jika mereka adalah bagian dari salah satu mata-mata yang menyamar hingga tanpa sadar kami menceritakan semuanya."


Samuel pun memejamkan mata. Kenapa mereka bisa ceroboh seperti saat ini.


"Kau tahu jika sering kali aku memperingati jangan mudah terpengaruh oleh orang lain yang belum pasti identitas nya. Kau masih saja tetap tak mengerti hingga mereka tahu jika Alkara memiliki orang bayangan. Mungkin mereka tak akan tinggal diam dan akan mencari ku untuk dibunuh. Lalu setelah ini siapa yang akan mengurus semuanya?"


Samuel menarik napas panjang dan kemudian memukul meja yang mengeluarkan bunyi nyaring yang mengejutkan mereka. Mereka lantas menunduk dan meminta maaf beberapa kali kepada Samuel.


Tapi, semua itu sudah terlambat karena Samuel dipenuhi dengan amarah yang tak bisa dikendalikan oleh pria itu.


Ia pun menendang mereka dan kemudian meminta mereka untuk keluar dari ruangannya karena Samuel sudah muak kepada anak buahnya yang beberapa kali tak sengaja membocorkan informasi mengenai dirinya.


"Orang sialan itu," umpat Samuel dan kemudian menarik napas yang sangat panjang sembari memejamkan matanya.


Ia menyentuh keningnya yang terasa sangat pening. Kemudian Samuel memijatnya agar bisa mengurangi rasa sakitnya dan menghentikan semua masalah yang tengah ia hadapi ini.


Entahlah kenapa Samuel bisa lahir ke dunia dan mengemban banyak beban yang diamanahkan kepadanya. Untungnya baru kali ini Samuel mengeluh karena sebelum-sebelumnya ia tampak biasa-biasa saja menjalani semua ini.


_________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2