Satpamnya Aldara

Satpamnya Aldara
Part 8


__ADS_3

Diam-diam di dalam kamar Aldara menangis sambil memeluk sebuah bingkai foto. Foto yang ternyata adalah potret orangtunya. Aldara sangat merindukan ayahnya dan ingin bertemu dengan sosok itu.


Ia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah dan Aldara ingin menemui ayahnya dan merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah kepada anaknya.


"Aldara."


Samuel tak bisa membiarkan Aldara larut dalam kesedihan sambil menatap foto ayahnya.


Ia mengusap punggung Aldara demi menguatkan wanita itu. Perlahan Aldara pun semakin tenang dan menatap ke belakang.


"Kau benar-benar orang yang sudah menjaga keluarga ku. Aku tak menyangka jika aku memiliki nasib yang seperti ini. Ah iya aku ingin bertemu dengan Papa apakah boleh?"


Samuel memejamkan mata dan mengangguk. Tentu saja Aldara boleh menemui ayahnya dan memberikan kejutan kepada ayahnya.


Aldara belum mengetahui segalanya sepenuhnya. Samuel hanya memberi tahu setengah.


Melihat Aldara rapuh seperti ini nalurinya sebagai suami dari Aldara ia ingin sekali memeluk Aldara dan menghiburnya dan bukan diam-diam memendam rasa dan memperhatikan Aldara.


"Aldara. Ini sudah malam apakah kau tak ingin tidur?"


Aldara menatap ke arah jam dan ia melihat jika jam tengah menunjukkan pukul 10 malam. Aldara pun menghela napas panjang dan mengangguk jika ia merasa kantuk dan hendak tidur.


"Baiklah aku akan tidur."


"Kalau begitu selamat malam dan semoga tidur nyenyak."


Samuel menatap ke arah Aldara yang sudah menutup matanya. Wanita itu tampak damai dengan mimpi indahnya.


"Kau sangat cantik. Kau tak pantas untuk menerima penderitaan semua ini."


Samuel menghampiri Aldara. Ia pun duduk di samping Aldara dan mengusap kepala Aldara. Samuel juga memperhatikan istrinya yang ia nikahi saat wanita itu masih kecil. Bahkan saking kecilnya, Samuel tak berani menyentuh gadis polos seperti Aldara walau dia sudah resmi menjadi istrinya.


Aldara menjelma menjadi gadis yang sangat cantik dan sudah berumur 18 tahun. Gadisnya masih suci karena selama ini Samuel lah yang menjaga Aldara tanpa banyak orang ketahui.


Ia pun memeluk tubuh Aldara dan mengecup keningnya. Samuel tak sekali dua kali dia tidur berdua dengan Aldara. Tanpa sepengetahuan Aldara dia kerap tidur bersama wanita itu.

__ADS_1


Karena Samuel tahu jika tiap malam Aldara akan mengigau dan berteriak-teriak ketakutan dan Samuel lah yang tiap malam memeluk tubuhnya tanpa diketahui oleh Aldara.


Aldara mungkin tak sadar saking nyenyak nya tidur. Seperti saat ini ia bahkan tak menyadari seseorang tengah memeluk tubuhnya dan membisikkan kata-kata romantis.


Jika Aldara tahu jika satpam kesayangannya itu tengah memeluk tubuhnya pasti Aldara akan pingsan di tempat karena tak bisa menahan serangan jantung yang amat menggebu-gebu.


____________


Hari ini Aldara akan berkunjung ke sel ayahnya. Ia melihat sang ayah yang dibawa keluar. Ayahnya sangat tua dan Aldara merasa jika sang ayah memang mirip dengannya.


Sementara itu Alkara tak menyadari jika wanita yang ingin berkunjung dengannya adalah anaknya. Saat ia melihat tubuh Aldara barulah dia merasa jika wajah itu sangat familiar di matanya.


Alkara syok melihat Aldara. Ia pun ingat jika dia adalah anaknya yang sudah sangat lama ia tak melihatnya.


"Kau..."


"Papa!" teriak Aldara dan langsung memeluk ayahnya.


Sang ayah terkejut karena ia tak menyangka jika Aldara akan mengetahui dengan cepat. Ia menoleh ke arah Samuel dan menatap pria itu penuh dengan introgasi.


Samuel pun menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah karena tak bisa menepati janji kali ini.


"Papa."


"Kau benar-benar Aldara anak ku? Oh Tuhan kau sudah besar rupanya." Dia pun memeluk tubuh Aldara dengan sangat erat.


Rasa rindu yang dipendam dengan sangat lama akhirnya melimpah di hari ini.


"Tapi Mama!"


"Sayang. Aku tahu, tenanglah. Kau pasti aman. Papa juga sangat sedih tapi Papa akan berusaha kuat. Jadi kau harus kuat seperti papa. Agar mama di sana bahagia."


Aldara pun mengangguk.


"Pasti Papa."

__ADS_1


Mereka pun melepas rindu hingga tak terasa waktu untuk berkunjung Aldara sudah habis. Ia harus rela berpisah dengan sang ayah.


Aldara tampak tak mengikhlaskan jika ayahnya pergi. Untungnya ada Samuel yang menenangkan Aldara.


"Tenanglah. Papa mu akan baik-baik saja. Hanya saj kali ini aku harus memenangkan gugatan kepada ayah mu agar dia tak dihukum mati dan pelaku sebenarnya akan tertangkap."


Aldara mengangguk dan menyentuh tangan Samuel. Ia menggenggamnya. Samuel terkejut dan tangannya terasa dingin saat digenggam oleh orang yang sangat ia sayangi.


"Terima kasih. Aku harap kau melakukan yang terbaik."


"Tentu saja."


Aldara pun berjalan lebih dulu dan melepaskan tangan Samuel. Setelah itu ia memandang tangannya sendiri yang sudah digenggam oleh Aldara.


"Sayang, kenapa aku belum bisa memberitahukan mu?" Ada hal yang membuat Samuel tak bisa mengatakan jika Aldara adalah istrinya kepada perempuan tersebut.


Samuel menyusul Aldara ke parkiran. Ia melihat jika wanita itu tak memiliki kehidupan sama sekali dan tampak murung. Ketika ia hendak lari ke arah Aldara tiba-tiba saja Samuel langsung berhenti saat melihat jika Niko sang petugas perpustakaan yang menyukai Aldara juga ada di kantor polisi.


"Aldara sudah aku duga kau ada di sini. Kau sedang melaporkan rumah mu yang kebakaran, kan?"


Aldara menatap Niko yang datang dengan tepat waktu. Entahlah ia membutuhkan sandaran kepada orang lain. Bukan Samuel karena ia tak seberani itu bersandar pada orang yang ia sukai dan sementara itu ia belum bisa memastikan jika orang itu menyukainya balik atau tidak.


"Niko kau mencari ku?"


"Hm, karena aku merasa khawatir dengan mu dan benar dugaan ku jika kau ada di sini. Tenanglah, aku akan membatu mu dan anak-anak di sekolah juga akan membantu mu."


Aldara merasa sangat tidak enak. Mereka sangat baik dan Aldara tak terlalu dekat dengan mereka.


"Tapi aku merasa merepotkan kalian."


"Hey siapa juga yang merasa direpotkan dengan mu. Buktinya tidak tuh. Kami baik-baik saja."


Aldara tersenyum lebar ke arah Niko yang membuat panas Samuel. Samuel membuang pandangannya sembari mendengus.


__________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2