
Aldara menahan napasnya melihat semua keindahan yang terpampang jelas di depannya. Benarkah ini adalah yang ia lihat atau hanya dia yang salah lihat. Tapi jika salah lihat sangat tidak mungkin karena di depan matanya terasa sangat nyata.
Aldara pun berjalan mendekati Samuel. Ia menatap dalam pria itu dengan netra hitamnya. Mata Aldara berkaca-kaca karena tak menyangka jika akan diberikan surprise yang sangat luar biasa seperti hari ini.
"Semua ini apakah untukku?" tanya Aldara kepada satpamnya tersebut.
Samuel yang masih terkejut akan penampilan Aldara yang mengingatkannya dengan masa lalu lantas langsung mengerjapkan matanya ketika dipanggil oleh Aldara.
"Hah? Ya benar ini semua untukmu. Apakah kau menyukainya? Aku memberikan surprise yang sesuai kau minta waktu itu. Entahlah Tapi semua ini benar-benar belum seperti harapanmu. Karena aku terburu-buru melakukannya."
Aldara yang mendengarnya sangat terharu pun menggelengkan kepalanya respon tak menyangka. Semua yang diberikan oleh Samuel sangat berharga. Terlebih lagi Samuel adalah nama yang tercantum di hatinya. Diberikan surprise yang sangat indah seperti ini membuat anggaran rasa menjadi wanita nomor satu.
Ia pun lari ke arah Samuel lalu memeluk pria itu. Samuel yang belum siap menyambut tubuh Aldara, hanya diam menegang tanpa bereaksi apapun.
Aldara mengiritkan pelukannya dan menyembunyikan kepalanya di dada bidang milik Samuel.
"Kau tahu. Ini memang tak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Karena apa? Karena ini terlalu mewah. Kau mengatakan jika ini tak ada apa-apanya. Kau tahu apa yang diberikan olehmu sangat berharga untukku."
Kata-kata itu. Kata-kata tersebut mengingatkan Samuel kepada Aldara yang dulu yang masih berumur lima belas tahun. Kata-kata tersebut juga pernah terucap pada mulut Aldara.
Samuel menahan perasaannya sambil memejamkan mata. Ia terlalu rindu berat kepada Aldara. Hingga pada hari ini runtuhlah pertahanan Samuel.
Ia membalas pelukan istrinya tersebut. Lalu mengucap kepala Aldara dengan sangat lama. Aldara membulatkan matanya karena merasakan kehangatan Samuel yang biasanya seorang pria akan menunjukkan kepada orang-orang tercintanya.
__ADS_1
Tak ingin terlalu berharap, Aldara pun berusaha untuk menepis semua pikiran-pikiran yang selalu membuatnya yakin bahwa Samuel mencintainya.
"Kau tahu. Aku benar-benar merasa tersanjung dengan ucapanmu. Cukup dengan ucapanmu yang tadi aku merasa jika apa yang aku lakukan hari ini terbayarkanlah sudah. Terima kasih sekali lagi karena kau menghargai usahaku. Dengan begini aku yakin Alkara sangat senang di dalam sana jika melihat putrinya yang bahagia."
Aldara pun diam. Jadi semua ini Samuel lakukan untuk ayahnya. Memang sakit yang iya rasakan. Tapi untungnya Aldara yang sudah menyiapkan mentalnya tak merasa terlalu tersakiti.
Iya akan berusaha lebih giat lagi untuk menarik perhatian Samuel. Entahlah Aldara sudah gila, karena dia benar-benar menginginkan Samuel. Tiba-tiba Aldara merasa ingin jika perasaannya diketahui oleh Samuel.
Tapi bukan sekarang Aldara akan mengungkapkannya kepada Samuel. Mungkin suatu hari nanti ketika Aldara sudah siap dengan perasaannya dan juga jawaban dari Samuel terhadap perasaannya.
"Kau sangat cantik Aldara. Aku seperti melihat masa lalu." Aldara pun mengerutkan keningnya. Masa lalu seperti apakah yang dimaksud oleh Samuel. Tapi Aldara tak ingin bertanya dan hanya menunggu Samuel menceritakannya. "Kau tahu, di masa lalu aku bertemu orang yang sangat mirip denganmu. Hingga pada suatu hari aku tak tahu bermimpi apa hingga disuruh orang tuanya untuk menikahinya. Aku pun melakukannya walau aku dulu tak mencintainya. Namun ketika dia pergi dari hidupku barulah aku merasakan cinta kepadanya dan sangat merindukannya. Meskipun aku bisa melihatnya dari jauh tapi aku tak berani mengatakan kepada dia bahwa aku mencintainya. Sebab ini semua karena sumpahku agar tak memberitahukannya. Karena jika aku memberitahukannya ia akan merasakan sakit."
Aldara pun tak mengerti kenapa jika Samuel yang mengatakan perasaannya kepada perempuan itu maka perempuan tersebut akan sakit.
Aldara bingung setengah mati. Sementara itu Samuel pun sadar dengan kebingungan yang tengah dialami oleh Aldara. Ia tersenyum lebar kepada wanita tersebut lalu mendongak ke atas menahan air matanya.
Aldara pun mengangguk. Ia sudah paham dengan apa yang dimaksud oleh Samuel. Tapi kini malah dirinya yang merasa sangat terluka karena tampaknya Samuel sangat mencintai wanita itu.
Pria itu bahkan menangis di depannya. Aldara di sisi lain juga merasa sangat simpati kepada wanita tersebut. Akan tetapi masih ada kebingungan yang di pikiran Aldara. Kenapa Samuel mengatakan jika wanita itu sangat mirip dengannya. Ia pun tak mengerti dengan ucapan Samuel.
"Sudahlah. Buat apa menceritakan itu di hari surprise mu. Karena kau ingin aku selalu memasakkan untuk mu maka hari ini kita akan dinner dan memakan masakanku. Aku jamin Kau pasti akan menyukainya."
Aldara pun tersenyum lebar. Sudah pasti ia akan menyukai masakan milik Samuel. Menurutnya Samuel sudah seperti koki handal.
__ADS_1
"Tentu saja aku menyukainya. Kau tahu, aku benar-benar menyukai masakanmu."
Samuel hanya tersenyum simpul. Ternyata Aldara tidak berubah. Dia masih sama seperti Aldara yang dulu.
Dulu wanita tersebut juga sangat menyukai masakannya. Padahal Samuel dulu hanya bisa memasak apa adanya.
Mulai saat tragedi tersebut terjadi, dan Samuel sangat merasakan kehilangan Aldara. Mulai saat itu ia melatih kemampuan memasaknya agar jika ia bisa dekat dengan Aldara dan nanti maka ia akan memberikan masakannya kepada Aldara.
Terbukti dengan hari ini. Aldara benar-benar menyukai masakan Samuel. Bahkan dalam keadaan lupa ingatan.
"Wow ikan pepesnya enak banget. Kau benar-benar hebat. Kenapa kau tidak menjadi koki saja?"
"Aku sengaja tidak menjadi koki. Karena aku adalah koki spesial bagi seseorang."
Aldara pun tak jadi mengunyah makanannya. Mod-nya hilang seketika ketika Samuel mengatakan hal tersebut. Beruntung sekali wanita itu dicintai oleh Samuel. Tak seperti dirinya yang hanya bisa mendengarkan Samuel membanggakan perempuannya sementara iya menahan perasaannya.
"Wow kau benar-benar setia."
Samuel memandang Aldara penuh arti. Ia menundukkan kepalanya lalu tersenyum.
"Karena dia pantas untuk mendapatkannya."
__________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.