Satpamnya Aldara

Satpamnya Aldara
Part 27 END


__ADS_3

Kematian Niko sudah menjadi akhir dari segalanya. Tidak ada lagi pria yang selalu menggangu Aldara.


Wanita itu juga tak mudah untuk mengikhlaskan kepergian Niko begitu saja. Perjuangan Niko begitu hebat hanya untuk melindungi dirinya.


Pria itu pantas menjadi pahlawan Aldara. Bahkan Samuel mengakui itu sendiri.


Niko adalah cerminan cinta sesungguhnya. Bahkan dia merelakan nyawanya demi orang yang dicintainya.


Sementara itu pemikiran Niko juga sangat terbuka. Pria tersebut berani bertanggung jawab dengan nyawanya sendiri demi untuk menyelamatkan Aldara.


Aldara bahkan merasa salut dengan Niko. Bahkan kebaikan Niko tak akan pernah bisa ia lupakan.


Hari ini adalah peringatan 1 tahun Kematian Niko. Aldara dan Samuel datang ke makam Niko.


Keduanya sama-sama menundukkan kepala sedih. Terdapat foto Niko yang sedang tersenyum. Hal itu membuat Aldara kembali mengingat memorinya bersama Niko.


"Apakah kau akan cemburu jika akan aku ceritakan bagaimana Niko menjaga ku?" tanya Aldara sambil mengusap batu nisan Niko. Wanita itu tersenyum lebar kala melihat potret Niko yang tersenyum tanpa beban.


"Kau tak perlu menceritakannya. Aku memang cemburu, dan aku tahu bagaimana dia selalu ada dan melindungi mu. Aku tahu semuanya karena aku juga ikut mengawasi mu," ucap Samuel yang membuat Aldara merasa tersentuh.


Ia menatap ke arah suaminya itu. Setelah apa yang ia alami bersama Samuel, mereka memutuskan untuk melakukan pagelaran upacara pernikahan lagi. Sebab dahulu waktunya sangat mepet dan terbatas.


Mereka pun sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


"Niko, aku snagat berterima kasih karena kau juga menjaga istri ku dan mengorbankan nyawa demi istri ku. Aku tak tahu cara membalas budi untuk mu, karena memang kau lebih berani dari pada aku. Aku merasa malu dengan mu," ucap Samuel lalu tersenyum kecut.


Aldara pun menghela napas panjang. Ia memang sangat respect kepada Niko tapi dia juga tak ingin melihat suaminya yang merendah.


"Kau hebat dan Niko juga sangat hebat. Aku bangga memiliki dua pria seperti kalian," ucap Aldara sembari tersenyum lebar.


Ia pun mengalihkan tatapannya ke kuburan Niko. Tatapan Aldara berubah kosong. Apalagi saat ini kilat pun menyambar-nyambar di langit dan sebentar lagi akan turun hujan.

__ADS_1


"Niko. Aku akan membawa istri ku pulang. Ku harap kau tenang di sana."


"Niko, aku bangga pernah mengenal mu dan aku tak pernah menyesal. Maafkan aku yang dulu selalu menolak kehadiran mu. Sekrang aku paham betapa pentingnya diri mu. Satu lagi kabar gembira yang ingin ku beri tahu kepada mu, saat ini aku sedang mengandung. Kau akan menjadi paman."


Samuel pun memeluk tubuh Aldara. Ia menggenggam tangan wanita itu lalu membawanya pergi.


Sementara itu hujan pun turun dan mengguyur bumi. Kuburan Niko yang penuh dengan taburan bunga pun kini menjadi basah.


________


Aldara merintih kesakitan. Ia pun berteriak dan menggenggam tangan Samuel yang berada di sampingnya. Sebentar lagi mereka akan melihat malaikat kecil mereka.


Aldara dan Samuel tak sabar menunggu kehadiran buah hatinya. Ia pun berjuang hidup dan mati untuk menyelamatkan anak mereka.


Begitu besar perjuangan Aldara demi anaknya bisa melihat dunia. Bahkan ia tak memikirkan keadaannya tapi anaknya.


"Aaaa Mas ini sangat sakit."


Ia pun semakin yakin dan terus mendorong sang anak keluar dan mengikuti arahan dokter.


Samuel yang melihat betapa besarnya perjuangan seorang ibu pun merasa sedih. Ia merindukan sang ibu yang sudah tenang di sana.


Untuk mengalihkan perasaan sedihnya, ia ohm mengecup kening Aldara dengan hikmat.


"Sayang, jangan takut. Aku selalu ada di samping mu," bisik Samuel lalu membantu Aldara mengurangi rasa sakitnya dengan membisikkan kata-kata mutiara untuk sang istri.


"Mas terima kasih untuk semuanya."


"Sama-sama sayang."


Samuel pun menatap ke arah dokter yang sedang membantu persalinan Aldara.

__ADS_1


"Buk tarik napasnya lalu keluarkan pelan-pelan yah." Aldara pun mengangguk. "Terus didorong buk, ini kepalanya sudah terlihat."


Senyum Aldara pun merekah. Ia menatap ke arah Samuel dengan pandangan berkaca-kaca.


"Mas, anak kita. Anak kita sebentar lagi akan hadir di dunia. Aku akan menjadi ibu dan kau akan menjadi ayah."


Samuel pun mengangguk. Ia bahkan sampai menangis karena tak menyangka akan berada di posisi ini.


"Kau benar sayang."


Samuel pun menarik napas panjang. Oh Tuhan ini benar-benar anugerah terindah yang pernah diberikan olehnya untuk Samuel.


"Buk selamat anaknya perempuan."


Dokter pun menyerahkan bayi merah tersebut kepada Aldara. Aldara mengambilnya dan menatap anaknya tak menyangka.


"Dia sangat kecil dan merah."


"Anak ku," ucap Samuel sembari mengusap kepala sang anak. "Sekarang nama mu adalah Geisha Sauna Taria," ucap Samuel.


Aldara pun menatap ke arah Samuel. Ia tersenyum dan Samuel membalas senyumnya. Kemudian Samuel mengecup kening Aldara.


"Mas, terima kasih."


"Aku juga berterima kasih kepada mu."


__________


TAMAT


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


NOVEL KALI INI PENDEK KARENA EMANG BULAN INI SANGAT SIBUK.


__ADS_2