
Kebebasan Alkara tentu saja menjadi berita buruk bagi musuh-musuhnya. Saat ini mereka lah yang terancam untuk dipenjarakan.
Tentu saja hal itu tak akan mereka biarkan dan berusaha untuk memutar otak.
Segala cara dan daya upaya meraka lakukan agar bisa membunuh Alkara dan juga Samuel.
Sementara itu Samuel dan Alkara sedang berdiskusi untuk mengatasi masalah ini sebelum terjadi.
"Aku percayakan ini kepadamu," ucap Alkara kepada Samuel.
Samuel mengangguk-anggukkan kepalanya. Pria itu menghela napas panjang dan kemudian menatap ke arah luar dan ternyata Aldara sedang membawakannya minum.
Alkara pun memandang ke arah yang sama dengan Samuel. Ia tersenyum melihat anak gadisnya tersebut.
"Sekrang dia benar-benar sudah dewasa. Aku juga sungguh tak menyangka jika ia akan secantik ini," ucap Alkara penuh makna. "Dia persis seperti ibunya. Tapi sayang, dia harus mati demi melindungi diri ku."
Samuel menatap ke arah Alkara dengan pandangan sedih. Semenjak mendengar kematian istrinya, Alkara sama sekali tak lagi memiliki tujuan hidup. Seakan apa yang selama ini ia inginkan telah sirna.
Aldara pun masuk ke dalam ruang kerja tersebut lalu memberikan minuman kepada kedua orang itu.
"Papa, ini minumnya."
Kemudian Aldara pun pamit undur diri. Entah kenapa untuk saat ini ia tengah malu-malu kucing dan tak seperti biasanya sangat berani untuk bertatapan dengan Samuel.
Samuel pun tersenyum tipis. Saat Aldara keluar ia pun meraih cangkir yang berisi teh hangat tersebut lalu meminumnya.
"Teh buatan istri mu ini benar-benar tidak ada duanya," ucap sang ayah kepada Samuel.
Samuel tersipu malu. Ia pun meminum teh tersebut sembari menikmati sensasi Aldara yang membuatnya.
__ADS_1
"Kau benar Pa. Buatan Aldara tak pernah salah."
"Ah, apakah kau tak ada rencana untuk membuat Aldara ingat dengan masa lalunya?"
"Hm, aku takut untuk melakukan itu. Karena aku rasa apa yang Aldara rasakan saat ini mungkin dia akan kesakitan saat setelah mengingatnya. Lebih baik menciptakan lembaran baru dan kemudian berlabuh hati dengan dia kembali. Kalau pun dia mencintai ku."
"Kenapa kau tak melakukannya?"
"Karena aku takut dia tak mencintai ku."
Alkara tampak menarik napas cukup panjang. Ia menepuk pundak Samuel beberapa kali.
"Malah aku mengira jika perasaan Aldara baik setelah kehilangan ingatan maupun sebelum kehilangan ingatan masih tetap sama, sama-sama mencintai diri mu."
Samuel mendengar hal itu pantas sangat terkejut. Ia menatap ke arah Alkara dan mecari maksud yang diharapkan oleh Alkara.
"Apa yang kau katakan Pa? Tidak mungkin Aldara mencintai diri ku."
Samuel pun terdiam. Apakah mungkin Aldara mencintai dirinya?
Sementara itu Aldara yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka pun terkejut. Ia tak sengaja ingin masuk namun mendengar nama istri membuat dirinya sangat terkejut.
Apakah mungkin dirinya istri dari Samuel? Tapi fakta seperti apa itu yang mengatakan jika dirinya adalah istri dari Samuel? Lantas jika bukan, apa yang baru saja ia dengar?
Dengan penuh kebingungan Aldara pun pergi ke kamarnya. Wanita itu menutup pintu dan tiba-tiba rasa pening menyerang dirinya. Ia snagat bingung kenapa ia bisa tiba-tiba pening.
Apalagi seperti ada sekelabat ingatan yang berusaha untuk berputar di otaknya. Aldara kiab bingung lagi daj menutup matanya. Ia berusaha untuk melawan rasa sakit itu.
Tapi ia tak mampu. Hingga Aldara terjatuh dan tak sengaja menyenggol pas bunga.
__ADS_1
Aldara terkejut mendengar pecahan kaca yang sangat nyaring di telinganya. Ia refleks menutup telinganya dan kemudian secara tak beraturan ingatan-ingatan masa lalu pun masuk.
Tapi bayaran dari ingatnya ia akan masa lalu adalah rasa sakit yang luar biasa. Hingga hidung Aldara mengeluarkan ciran merah.
Ia pun berteriak senyaring-nyaringnya karena tak kuasa menahan rasa sakit tersebut.
"Akh!!!" teriak Aldara.
Samuel dan Alamat yang mendengar suara pecahan pas bunga tadi sudah cepat berlari ke kamar Aldara.
Merak pun berusaha membuka pintu tapj ternyata pintu kamar Aldara dikunci dari dalam.
"Biar aku yang mendobraknya," tawar Samuel dan kemudian menendang pintu itu.
Pintu tersebut pun terbuka. Mereka membulatkan matanya melihat Aldara yang tergeletak di lantai sambil berusaha menahan sakit.
"Aldara ada apa dengan mu."
Aldara berusaha untuk menatap orang yang mengajak ya berbicara tersebut. Ia pun samar-samar melihat jika orang tersebut adalah Samuel.
"Samuel."
"Iya ada apa?"
"Apakah kita sudah menikah? Jangan berbohong karena aku melihat saat aku menikah dengan mu."
_______
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.