Satpamnya Aldara

Satpamnya Aldara
Part 23


__ADS_3

Tak mungkin Samuel mengatakan yang sebenarnya. Jika ia mengatakan gara-gara tragedi di pulau Ambas yang terjadi ledakan hingga memakan banyak korban pada saat itu pastilah Aldara akan mencari tahu tenang tragedi tersebut di media sosial.


Tragedi itu hanya beberapa tahun yang lalu terjadi saat wanita tersebut berumur lima belas tahun.


Jika ia tahu maka Aldara akan terus merasakan kejanggalan karena yang ia tahu wanita itu sudah ditinggal sang ayah dari kecil.


"Dia difitnah karena telah menggelapkan uang," ucap Samuel berbohong dan kemudian mengandeng tangan Aldara. "Kita harus segera pergi ke sana secepatnya sebelum ada kendala lagi. Aku khawatir mereka akan menghalangi jalan kita lagi."


"Eumm baiklah."


Sementara itu Aldara tak tenang karena genggaman tangan Samuel pada dirinya. Pria itu mungkin tak bisa merasakan jika saat ini tangan Aldara benar-benar dingin.


Tubuhnya bahkan sampai berkeringat saking tak percayanya jika ia saat ini tengah digandeng oleh Samuel.


Aldara menatap punggung tegap Samuel yang berjalan lebih dulu tersebut. Lalu kemudian ia pun membuang wajahnya. Semakin ditatap maka akan semakin membuat Aldara jatuh cinta kepada Samuel.


Samuel membukakan mobil untuk Aldara. Diperlakukan seperti itu saja sudah membuat Aldara merasa jika ia diratukan oleh Samuel.


Namun semua itu seakan hancur setelah dia mengingat ketika Samuel memiliki wanita idamannya.

__ADS_1


Baiklah Aldara saat ini tak usah memikirkan itu lagi. Dia adalah seorang wanita yang tangguh dan pastinya ia akan sanggup memendam perasaannya dengan cukup lama.


___________


Sesampainya di penjara, Aldara langsung berlari dan memeluk tubuh ayahnya. Akhirnya ia bisa merasakan tubuh tegap pria itu yang berada di dekapannya. Sudah sangat lama Aldara memimpikan hari ini terjadi.


"Papa, hiks." Aldara tak bisa menghentikan air matanya yang terus mendobrak pertahanannya.


Pertemuan antara anak dan ayah itu membuat haru orang sekitar. Tak ada yang bisa menyangkal jika aura antara orang tua dan anak itu sangatlah kuat.


Samuel bahkan tak bisa mengalihkan pandangannya. Apa yang ia lihat ini adalah momen yang cukup mengharukan. Jarang ia akan bisa bertemu dengan momen-momen seperti ini.


Meskipun ada potensi jika Aldara akan semakin cedera otak, tapi keinginannya untuk terus bersama terlalu kuat.


Samuel menghampiri anak dan papa tersebut. Dia menatap ke arah Alkara lalu tersenyum tipis.


Alkara melepaskan pelukannya pada Aldara. Ia pun menghampiri Samuel lalu memeluk tubuh pria itu.


"Terima kasih, kau benar-benar telah berusaha untuk mengeluarkan ku. Tidak salah selama ini aku percaya kepadamu. Satu lagi, aku juga berterima kasih karena kau telah menjaga anakku selama ini."

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan Tuan. Ini sudah menjadi tugasku."


Alkara tersenyum dan menepuk punggung Samuel beberapa kali. Pria itu kemudian memperhatikan anak perempuannya yang masih saja menangis.


"Selama ini kau tinggal dengan di?"


Aldara mengangguk beberapa kali. "Iya Papa."


"Kau tidak ada melakukan apapun dengannya, bukan?" ditanya seperti itu oleh ayahnya sendiri membuat rona merah di wajahnya pun terlihat.


"Kenapa kau wajah mu sangat merah Aldara?"


"Hah?" Aldara pun menyentuh wajahnya. Apakah saat ini ia benar-benar terlihat bahwa dia sangat salting?


__________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2