
Perkataan Samuel tempo lalu masih terngiang-ngiang di benak Aldara. Istri? Siapa yang dimaksud oleh Samuel? Tapi ada satu kalimat yang menunjukkan suatu makna bahwa dirinyalah orang tersebut.
Sampai saat ini Aldara masih kepikiran akan hal itu. Wanita tersebut tak bisa mengabaikan ucapan Samuel dengan seenaknya.
Apalagi pria itu menunjuk jika dirinya adalah istri dari pria itu. Aldara menarik napas panjang dan menundukkan kepalanya.
Semuanya tampak rumit dan Aldara terus berusaha untuk masuk ke dalam kerumitan itu mencari tahu apa yang sebenarnya tak perlu dirinya ketahui.
Apalagi saat ini ayahnya akan bebas. Aldara sangat senang dan tak sabar ingin berjumpa dengan sang ayah. Apalagi mereka akan melakukan pertemuan dengan ayahnya pada hari ini.
Aldara bersama Samuel akan melakukan penjemputan kepada ayahnya setelah pria itu nantinya akan bebas dari hukumannya.
Aldara tak berhenti merasa kagum dengan Samuel yang amat setia kepada atasannya. Bahkan ia rela melakukan apapun agar bisa menyelamatkan sang atasan yang amat dicintainya itu.
Aldara menarik napas panjang dan kemudian memejamkan matanya. Bayangan kebersamaan dirinya dengan sang ayah nanti terus berputar di benak Aldara. Betapa bahagianya nanti ia.
Aldara keluar dari kamar dan melihat jika Samuel sedang membenarkan tangan jasanya. Pria itu sangat tampan dengan setelan jas tersebut.
__ADS_1
Aldara hanya menundukkan kepala. Samuel sangatlah tampan dan ia sangat berharap jika apa yang ia duga baru-baru ini adalah benar. Tapi mana mungkin orang setampan Samuel adalah suaminya.
"Aldara." Samuel terkejut saat melihat jika ada Aldara.
Ia pun tersenyum dan menghampiri Aldara. Aldara membulatkan matanya. Apa yang baru saja dilihat oleh Aldara? Apakah pria itu baru saja tersenyum kepadanya? Oh Tuhan senyumnya amat menawan dan Aldara bingung untuk merespon senyum itu saking tampannya pria tersebut.
Nara pun menundukkan kepalanya. Ia sangat berharap jika Samuel saat ini akan memanggil namanya sekali lagi karena saat Samuel menyebut namanya suara pria itu amatlah candi di gendang telinganya.
"Aldara."
"I..iya."
"Kau sudah siap untuk bertemu dengan ayah mu?" tanya Samuel kepada wanita itu.
Aldara menundukkan kepala. Kenapa ia harus tak siap bertemu dengan orang yang sangat ia cintai? Aldara menarik napas panjang dan mendongak. Ia pun tersenyum lebar ke arah pria itu.
"Tentu saja aku akan siap bertemu dengan Papa. Aku merindukan dia dan sangat merindukannya," ucap Aldara dengan mantap membuat senyuman di wajah Samuel.
__ADS_1
"Baiklah. Sepertinya kau adalah anak yang berbakti kepada orang tua mu. Aku bangga kau bisa tetap menerima ayah mu padahal dia tak ada menemani mu."
Aldara menundukkan kepalanya. Ia pun menghela napas panjang. Air matanya berkumpul di netra indahnya. Pertemuan dengan sang ayah akan menjadi momen terharu dalam hidupnya. Setelah kehilangan sang ibunda ternyata masih ada ayah yang masih ada di dunia untuk menemani langkah Aldara.
"Ah, aku sangat penasaran sebenarnya ayah ku dipenjara karena apa?" tanya Aldara kepada Samuel.
Samuel terdiam dengan tubuh yang menegang. Pria itu belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yah satu ini. Ia berharap Aldara tak mencari banyak tentang kenapa orang tuanya dipenjara.
"Ah, dia difitnah. Bukannya kau sudah tahu?"
"Iya aku tahu jika dia difitnah. Tapi difitnah karena apa aku belum mengetahuinya."
__________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1