
Samuel mendesah panjang karena ban mobilnya bocor. Terpaksa ia harus memperbaiki ban mobil tersebut di sini karena bengkel masih jauh.
Ia pun mengeluarkan ban mobil cadangan dari bagasi dan hendak menukangi mobilnya tersebut. Akan tetapi terdengar beberapa tembakan di belakangnya dan barulah Samuel paham jika ada orang yang sengaja membocorkan bannya.
"Oh ****," ucap Samuel dan lekas masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya yang masih dalam keadaan bocor. Tembakan demi tembakan terus dilayangkan kepada dirinya hingga Samuel pun merasa jika mobil bagian belakangnya tak lagi berbentuk karena penuh dengan lecet bekas tembakan di belakang.
Ia pun sempat menghubungi rekan-rekannya meminta bantuan. Samuel hanya berharap kepada Tuhan jika ia bisa selamat. Samuel bukan takut jika dirinya tak bisa melawan mereka akan tetapi ia takut jika dirinya tak ada lagi nanti siapa yang akan menjaga Aldara.
Apalagi itu adalah amanah hingga dirinya harus menjalankannya hingga sampai di ujung nyawa Aldara.
Sampai kapanpun Aldara adalah orang yang memegang kendali emosinya. Ia adalah jantung Samuel. Jika Aldara terluka maka Samuel juga akan terluka. Ia tak akan membiarkan siapapun menyakiti Aldara.
Samuel menatap ke depan dan ia terkejut saat ada belokan hingga Samuel hilang kendali dan ia pun menabrak pohon besar.
Samuel masih tak percaya mobilnya meledak dan kepalanya pun mengeluarkan darah karena terbentur stir. Untungnya pintu mobil terbuka hingga Samuel lekas keluar dan tepat di bawahnya adalah jurang.
Kemudian Samuel terguling di dalam jurang tersebut hingga ia terjatuh. Ternyata mereka tak puas melihat Samuel yang seperti itu dan terus menembaki Samuel.
Samuel berusaha untuk mengelak tembakan mereka hingga pada akhirnya ia pun tertembak di bagian lengan.
Samuel menarik napas panjang untuk mengalirkan rasa sakitnya. Ia memegang tangannya dan kemudian memejamkan mata ketika tubuhnya terbentur batang besar hingga rasanya tubuhnya remuk.
Samuel tak mungkin tinggal diam dan ia pun mengarahkan pistol yang kebetulan di bawanya kepada mereka yang turut turun ke bawah jurang untuk memastikan jika Samuel mati.
Mereka yang terkena tembakan Samuel pun terjatuh dan tepat mereka jatuhnya ke batu hingga mengalami luka serius.
Sebelum kabur, Samuel pun melayangkan beberapa tembakan kepada mereka terlebih dahulu dan kemudian barulah ia melarikan diri dengan sangat cepat agar tak dapat dikejar.
Untungnya Samuel ahli dengan hal ini sebab ia sudah sering berada di dalam situasi seperti saat ini. Ia pun berlari ke dalam hutan dan meninggalkan jejak palsu hingga mereka salah mengira.
Tapi ternyata mereka juga tak bodoh dan berhasil melacak Samuel dan mengejar laki-laki tersebut hingga Samuel kehilangan akal dan hampir menyerah.
Tak ingin tertangkap, Samuel pun menembak mereka beberapa kali untuk bertahan sebelum akhirnya masuk ke dalam sungai.
__ADS_1
Samuel berpegang pada kayu besar agar ia tak tenggelam. Malam yang sangat gelap membuat mereka tak bisa melihat dengan jelas. Samuel bersembunyi di dalam semak-semak sambil berpegangan dengan kayu besar.
"Ah sialan. Mereka benar-benar tak terduga."
Mareka menyenter ke arah Samuel tapi untungnya Samuel langsung menyelam hingga ia merasa jika tak ada lagi cahaya yang mengarah kepadanya barulah ia keluar dari dalam air.
Mereka yang merasa jika Samuel telah hanyut pun memutuskan untuk kembali ke jalan raya.
Samuel menarik napas dalam. Setelah mereka sangat jauh kemudian Samuel keluar dari dalam sungai.
Napasnya tersengal-sengal sembari menahan luka tembakan di tangannya. Samuel menyentuh tangannya dan berjalan dengan sisa tenaga menuju ke jalan raya.
Orang-orang yang membantu Samuel telah datang. Mereka yang menunggu di jalan raya ditangkap oleh aparat kepolisian dan dibawa ke kantor.
Selain itu mereka yang mengejar Samuel diburu. Samuel lantas diselamatkan oleh anak buahnya yang lain.
"Maaf Tuan kami terlambat."
"Ah, tidak apa-apa."
__________
Jantung Aldara bak ingin copot dari tempatnya saat mendengar jika Samuel berada di rumah sakit. Ia pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit sambil di kawal oleh anak buah Samuel.
Sampai di rumah sakit, Aldara langsung keluar dari dalam mobil dan berlari-larian di lorong rumah sakit mencari ruangan Samuel. Ia pun tersenyum ketika melihat nomor 204.
Aldara membuka pintu dan ia melihat jika di sana ada Samuel yang dipenuhi dengan selang di tubuhnya.
Aldara merasa jika tubuhnya lemas. Ia hendak terjatuh melihat kondisi Samuel yang sedang pingsan. Aldara berlari ke arah Samuel.
Ia menutup mulutnya tak tega melihat orang yang dicintainya dalam kondisi penuh luka. Aldara menangis dan meraih tangan Samuel.
"Hiks, apa yang terjadi pada mu? Kenapa kau sampai seperti saat ini."
__ADS_1
Samuel yang masih pingsan pun tak menjawab pertanyaan Aldara. Ia terus memejamkan matanya dan tak membukanya. Aldara menarik napas panjang dan menghapus air matanya dengan sikunya.
Melihat kondisi Samuel yang seperti ini sungguh sangat menyesakkan bagi Aldara.
Aldara menarik kursi dan duduk di dekat Samuel. Ia meraih dengan Samuel lalu menggenggamnya. Aldara terus menatap wajah Samuel yang tampak pucat.
"Kau tak boleh kenapa-kenapa. Aku mencintaimu," ucap Aldara dengan linangan air mata yang tak juga berhenti.
Ia pun meletakkan tangan Samuel di wajahnya. Air mata Aldara jatuh ke tangan Samuel hingga Samuel merasa terganggu dan membuka matanya.
Aldara terkejut ketika melihat jika Samuel sudah sadar. Aldara lantas memencet tombol darurat. Para dokter dan suster langsung datang.
"Ada apa?"
"Dia sadar!" tunjuk Aldara pada Samuel.
Samuel menatap ke samping dan menatap Aldara yang ada di sini. Ia tersenyum tipis, hatinya tenang jika Aldara baik-baik saja.
Suster dan dokter itu pun langsung bekerja untuk menyelamatkan Samuel.
Aldara memperhatikan cara kerja mereka dengan cemas. Ia merapalkan doa berharap jika sadarnya Samuel adalah pertanda baik.
"Pasien baik-baik saja. Hanya mengalami sakit akibat cedera sementara itu saraf pada pasien tidak ada yang rusak dan sejauh ini masih aman."
Aldara mengangguk.
"Terima kasih."
"Sama-sama." Dokter dan suster itu pun pergi. Setelah dokter dan suster pergi ia pun menghampiri Samuel dan memeluk tubuh Samuel.
"Kau tega membaut ku seperti ini." Samuel membeku dipeluk Aldara.
__________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.