
Setelah mengingat segala ingatannya di masa lalu membuat Aldara kerap merasakan pusing di kepalanya. Wanita itu bahkan tak jarang akan mengeluh sakit. Tapi mengenai fakta baru yang ia terima, nyatanya Aldara sangat senang dan menerima hati Samuel yang ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya.
Baik Samuel dan Aldara sama-sama tak menyangka jika mereka akan saling mencintai.
Karena semuanya sudah terbongkar, Aldara pun malam ini menjadi istri Samuel. Ia tidur bersama Samuel meskipun rasanya sangat canggung di antara keduanya karena diliputi dengan perasaan yang saling berdebar.
Aldara berusaha memejamkan mata dan tak peduli dengan staus mereka. Mereka balik lagi seperti pengantin baru yang baru saja menikah.
"Al."
Mata Aldara membulat saat mendengar Samuel menyapa dirinya. Kontan ia menatap ke arah pria itu. Benarkah yang tadi adalah suara Samuel?
Aldara masih saja gugup padahal saat ini ia sudah menjadi istri dari Samuel.
"Apakah kau masih sakit?"
Aldara mengangguk beberapa kali. Samuel pun menghela napas panjang dan kemudian ia bangkit. Dari pada canggung yang cukup lama lebih baik ia melakukan sesuatu untuk mencairkan keadaan.
Dengan jantannya, Samuel pun bangun dan kemudian ia memijat kepala Aldara.
Aldara terkejut saat Samuel memijat kepalanya. Lantas ia memejamkan mata menikmati pijatan tersebut.
"Kau tahu, dulu kau sangat suka memijakkan kepala ku saat aku sedang kesulitan."
Aldara pun diam dan mendengarkan cerita masa lalu yang hanya separuh dapat diingatnya.
"Dulu kau tak mencintai ku. Kau hanya peduli kepada ku," ucap Aldara yang sangat mengena di hati Samuel.
"Aku tahu dahulu aku salah karena telah menyakiti hati mu. Kini aku sadar jika kau adalah satu-satunya orang yang berada di sisi ku saat aku dalam kesusahan dan juga senang. Saat kau pergi aku benar-benar merasakan kehilangan. Kau ada di depan mata ku, tapi aku hanya bisa mengamati mu," ucap Samuel yang membuat Aldara pun kontan terdiam.
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh Samuel membuatnya merasa sangat bersalah. Memang jika memilih, lebih baik ia tak mengingat ingatan masa lalu yang sangat pedih tersebut, akan tetapi hal itu malah akan menyakiti hati Samuel yang berharap Aldara mengingat semuanya.
"Maafkan aku. Aku memang sedikit menyusahkan orang lain hingga membuat mu susah untuk mengungkapkan perasaan ku."
"Kau tak bersalah, tapi aku lah yah bersalah," ucap Samuel lalu tak disangka malah memeluk tubuh Aldara. "Aku sangat menyayangi diri mu. Jangan pernah pergi dari diri ku."
"Kau juga."
Samuel pun menatap wajah Aldara dengan sangat lama. Lalu ia tersenyum dan mendekatkan wajahnya.
Aldara melotot tanpa berkedip saat melihat Samuel yang kian mendekatkan wajhanya hingga wajah tersebut saling bersentuhan.
Samuel menyatukan bibir mereka lalu mencium Aldara dengan sangat dalam. Aldara yang merasa jika ini adalah ciuman pertamanya tentunya sangat syok dan seakan tak percaya dengan apa yang tengah ia rasakan.
Tapi, Aldara tak menjauhkan bibirnya dan tetap menikmati ciuman yang diberikan oleh Samuel.
Samuel pun yang sadar lantas terkejut dan menatap ke arah Aldara. Ia pun berusaha untuk menyimpan wajahnya yang malu-malu. Kemudian mengecup kepala Aldara secara singkat.
__________
Hari ini Aldara melakukan pemeriksaan mengenai syaraf otaknya yang sedikit terganggu akibat Aldara yang kembali mengingat masa lalunya yang sempat ia lupakan.
Wanita itu baru saja selesai melakukan cek dan sedang menunggu Samuel yang sedang berbicara dengan dokter di dalam.
Untuk menghilangkan rasa bosannya, Aldara lantas memilih untuk keluar dari rumah sakit dan berjalan ke arah parkiran.
Di sepanjang jalan, Aldara bisa minat orang-orang yang tidak beruntung dengan hidupnya. Mereka hidup tak bisa jauh dari obat-obatan.
Rasa sedih pun menyelimuti diri Aldara. Mereka sangat menyedihkan dan dirinya masih tergolong orang yang beruntung.
__ADS_1
Aldara pun tersenyum tipis. Ia menghirup udara dengan rakus saat sampai di parkiran.
Ia memang sedikit tak tahan dengan bau rumah sakit.
Saat sedang menikmati keterangannya, Aldara terkejut saat melihat ada Niko.
Aldara pun menaikkan satu alisnya bingung. Ia pun tersenyum ke arah Adlara.
"Niko, ada apa?" tanya Aldara pada pria itu.
"Sedang apa kau di sini."
"Eum pengen cek kesehatan juga. Oh iya kami kenapa di sini?"
"Sama cek kesehatan juga." Niko pun mengangguk. Ia tampak sedang gelisah dan sedang berusaha untuk menutupinya. "Al, boleh temani aku sebentar."
"Ke mana?"
"Ke mobil sebentar."
Merasa heran tapi Aldara tetap mengikuti Niko. Kemudian ia pergi ke mobil Niko. Aldara pun terkejut saat dirinya disekap dan hidungnya ditutup dengan obat bius.
Aldara terkejut, tapi sebelum ia jatuh pingsan ia sempat menatap ke arah Niko dengan penuh kecewa.
Niko menatap orang yang baru saja berhasil melumpuhkan Aldara.
"Aku mohon jangan sakiti dia."
__________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.