
Aldara menarik napas panjang. Kenapa di ruangan sebelah sangat ribut dan juga terdengar amarah Samuel. Merasa sangat penasaran Aldara pun menghampiri ruangan Samuel dan ia melihat jika ruangan itu tak berbentuk lagi.
Semua kertas berserakan di lantai. Tampaknya saat ini Samuel sedang frustasi. Aldara menghampiri Samuel dan kemudian wanita itu menyentuh punggung Samuel.
"Ada apa? Katakanlah! Sepertinya saat ini kau sangat marah."
Samuel berbalik dan tanpa sadar pria itu langsung memeluk tubuh Aldara dengan sangat erat. Mata Aldara membelalak. Oh Tuhan! Ini dirinya sedang dipeluk Samuel. Apakah ini nyata?
"Sa...Samuel..."
"Hiks." Aldara teridam bisu setelah ia mendengar isak tangis yang keluar dari mulut Samuel. Ia pun tahu jika pria ini tengah menangis di punggungnya dan mencurahkan segalanya kepadanya.
"Tenanglah." Aldara pun mengusap punggung Samuel dan kemudian membawa pria itu duduk di sofa.
Samuel pun menangis terus di dalam dekapan Aldara. Ia bahkan tak peduli lagi jika Aldara menganggap dirinya adalah pria yang cengeng karena hanya masalah itu pun ia menangis.
"Aldara.."
"Hm?" jawab Aldara dengan suara yang sangat lembut dan juga penuh perhatian kepada Samuel.
"Kau tahu aku saat ini sangat lelah."
"Aku tahu makanya aku datang ke sini untuk melihat kondisi mu."
"Aku baik-baik saja hanya lelah sebentar," jawabanya yang sok kuat dan Aldara tak menyukai hal itu. Sebab Aldara melihat dengan jelas jika saat ini Samuel sangat lelah dan juga putus asa.
"Aku tahu kau sedang banyak pikiran. Jangan sok kuat di depan ku. Karena kau tak akan bisa mengelabuhi aku."
Samuel pun yang tengah menelusupkan kepalanya di leher Aldara pun menerbitkan senyum. Dia merasa bangga kepada Aldara.
"Aldara! Terima kasih untuk semuanya. Aku mungkin tak lama lagi tidak akan bisa menjaga mu seperti sekarang."
__ADS_1
Aldara terkejut. Apa maksud dari perkataan Samuel. Kenapa pria ini begitu sangat tidak ikhlas mengatakannya. Tampak ia terpaksa dan penuh tekanan.
"Kenapa kau mengatakan itu? Kau akan terus menjadi satpam ku yang akan menjaga ku dari aku kecil hingga sekarang."
"Karena identitas ku perlahan akan diketahui dan aku akan dikejar mereka."
"Apakah aku membiarkan itu terjadi pada seorang satpam ku? Tentu saja tidak. Diamlah, jangan berpikir yang terlalu jauh." Bak bocah yang kecil Samuel pun mengangguk membuat Aldara merasa puas.
Wanita itu menarik napas panjang dan kemudian merebahkan Samuel ke pangkuannya. Perlahan Samuel pun bisa tenang karena Aldara membisikkan kata-kata yang menenangkan bahkan menyanyikan sebuah lagu untuk Samuel.
Hingga Samuel menutup matanya dan pria itu merasa tak ada lagi masalah seperti tadi dan tertidur. Aldara pun menatap ke arah lantai yang penuh dengan kertas yang berserakan. Ia menarik napas panjang dan kemudian menatap lagi kepada Samuel.
Ada rasa simpati yang dipendam Aldara kepada Samuel. Ia merasa kasihan kepada pria itu yang harus melakukan segala hal dengan sempurna dan kemudian menjaga dirinya tanpa tahu kenal lelah.
Kini saatnya Aldara untuk membalas budi kepada Samuel. Ia mengusap kepala Samuel lalu menatap lama pria itu. Tampak Samuel tidur dengan damai. Hati Aldara merasa bahagia bisa sedekat ini dengan orang yang ia cintai secara diam-diam.
Aldara kemudian meletakkan kepala Samuel ke bantal sofa. Lantas ia membersihkan ruangan Samuel yang seperti kapal pecah.
"Aku yakin kau akan mendapatkan kebebasan mu setelah ini. Tak akan ku biarkan orang yang aku cintai akan menghadapi masalah sendirian dan ingin dibunuh. Aku akan membantu mu."
Aldara mengatakannya dengan sepenuh hati sambil melemparkan senyum manis ke arah pria itu. Hati Aldara menghangat jika dekat dengan Samuel.
___________
Aldara bingung ketika pembantu Samuel memintanya untuk ke ruang tengah karena dipanggil oleh pria itu.
Apa yang sebenarnya akan dilakukan Samuel hingga memanggil dirinya. Aldara pun acuh tak acuh tetap mematuhi keinginan dari Samuel.
Apalagi saat ini ia harus mengenakan baju mewah yang ada di depannya. Aldara bahkan tak bisa menilai berapa mahalnya baju ini. Sempat Aldara menolaknya tapi sang pembantu terus memaksa Aldara karena suruhan Samuel.
Terpaksa Aldara pun memakainya karena tak ada pilihan lain. Lagipula baju ini sangat cantik dan rugi jika ia tak menikmati keindahan baju ini.
__ADS_1
Aldara didandani. Sempat terbesit di pikiran Aldara, masa hanya untuk pergi ke ruangan tengah ia harus mengenakan baju yang super mewah dan juga didandani seperti saat ini. Benar-benar tak masuk akal. Seperti ingin menghadiri pesta saja.
Dan bodohnya lagi dia menuruti semua itu.
Aldara menarik napas panjang dan menatap cemberut ke arah pembantunya. "Kenapa sih? Kenapa tidak ingin memberi tahu ku apa yang sebenarnya terjadi. Kalian malah merahasiakannya," ujar Aldara dengan wajah juteknya.
"Sudahlah. Kau turuti saja kami."
"Baiklah-baiklah."
Kemudian Aldara menatap ke dalam kaca. Ia bahkan sangat terkejut ketika tahu bahwa dirinya sangat cantik dan juga anggun. Tak ada lagi poni yang menutupi keningnya yang indah dan juga tak ada lagi kacamata di matanya. Aldara bukan minus tapi memang ibunya yang meminta untuk ia mengubah penampilan seperti itu. Sampai saat ini Aldara tak tahu alasan kenapa Ibunya meminta ia menjadi wanita yang nerd.
"Huh kenapa aku bisa secantik ini?" tanya Aldara terperangah kepada diri sendiri. Ini kali pertama Aldara berdandan dan ia tak menyangka bahwa dirinya sangat cantik.
Tiba-tiba Aldara merasakan jika.
kepalanya sangat pusing. Seperti Aldara tak asing dengan wajahnya. Tapi tentu saja ia tak asing karena ini wajahnya. Tapi bukan itu masalahnya.
Aldara merasakan jika ada ingatan yang memaksanya untuk kembali melihatnya. Tapi Aldara tak tahu ingatan seperti apa sebab Aldara sendiri tak bisa mengingatnya.
"Non ada apa dengan mu Non?"
"Hah? Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
Kemudian Aldara pun pergi ke ruang tengah sambil dituntun oleh pembantunya. Ia terkejut saya melihat keindahan ruang tamu yang telah didekor.
Aldara tak melihat bagaimana reaksi Samuel saat melihatnya. Pria itu diam membisu karena melihat Aldara yang dulu. Istrinya.
___________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.