Satpamnya Aldara

Satpamnya Aldara
Part 21


__ADS_3

Ia menatap ke arah Samuel dengan pandangan yang menuntut. Sementara sang empu yang mendengar suara Aldara hanya mampu menutup mulut tanpa berani berkata. Pria tersebut bahkan belum memandang Aldara.


Samuel terlalu deg-degan untuk sekedar menatap Aldara. Karena pada situasi seperti saat ini pikirannya buntu dan susah untuk bekerja.


Tapi sebagai seorang pria tentunya tak mungkin lari dari masalah. Samuel terpaksa menghadapi masalah tersebut dan lagi-lagi ia akan berbohong kepada Aldara.


"Aldara."


"Istri siapa?"


"Itu sedang membahas istri teman saya," jawab Samuel pada Aldara membuat Aldara pun diam dan tahu jawaban dari kebingungan tersebut.


Ia pun menarik napas panjang dan menghampiri Samuel dengan membawa nampan di tangan lalu duduk di samping pria itu.


Ia pun dengan taletan menyediakan semua kebutuhan Samuel. Ia juga meracik obat untuk Samuel.


"Kau sedang sakit, minum obat terlebih dahulu," ucap Aldara dan kemudian langsung meletakkan sendok di depan mulut Samuel.


Samuel yang aslinya sedang baik-baik saja pun terpaksa harus berakting mengikuti alur cerita dari kesalah pahaman ini. Ia pun membuka mulutnya dan membiarkan Aldara menyuplai dirinya dengan obat tersebut.


Namun rasa pahit dari obat itu tak bisa dihindari oleh Samuel. Ia membulatkan matanya ketika obat itu sampai di lidahnya. Ini benar-benar pahit dan Samuel hendak sekali memuntahkan obat tersebut tapi ia tak ingin Aldara kecewa kepadanya.


"Ada apa? Apakah ada racun?" Samuel menggelengkan kepalanya. Ia seperti ini bukan karena racun tapi karena obat itu yang terlalu pahit.


"Kau tahu aku sangat membenci obat-obatan yang sangat pahit ini," ujar Samuel dan kemudian menarik napas panjang dan terpaksa harus menelan susah payah obat tersebut hingga pada akhirnya ia bisa melewati penderitaan tersebut.


"Ku kira kau tak akan lagi merasa pahit. Malu dengan anak kecil, bahkan banyak anak kecil yang tahan makan obat sepahit ini."


Aldara sengaja mengejek Samuel. Samuel pun menganga karena telah disamakan dengan seorang anak kecil. Tentunya ia tak terima.


Tapi pada saat hendak membalas perkataan Aldara, Aldara lebih dulu meletakkan telunjuknya di bibir pria itu hingga Samuel malah menegang.


"Tidak usah melawan dengan orang yang lebih muda. Apa yang aku katakan benar, bukan? Sudahlah. Jangan terlalu lebay." Setelah itu Aldara pergi dari kamar Samuel. Saat sampai di depan pintu ia pun berbalik lagi memandang k arah pria itu. "Jangan lupa kau juga harus makan. Jika tidak kau akan semakin sakit."


Kemudian Aldara benar-benar keluar dari kamar Samuel. Dadanya berdetak sangat kencang. Dai tadi Aldara berusaha melawan bucahan di dadanya hingga pada akhirnya ia pun berhasil bersikap tenang di depan Samuel.


Aldara menyentuh dadanya dan kemudian bersandar pada dinding. Wanita itu menarik napas panjang dan kemudian merosot.


"Oh Tuhan. Gugup sekali. Tapi dia sangat manis jika seperti itu. Sampai kapan aku hanya bisa memperhatikannya secara diam-diam?" Aldara juga tak tahu jawabannya.


Akan tetapi Aldara tak akan bisa menyimpan perasaan yang setiap hari semakin besar itu selamanya. Ia harus mengatakannya dari pada mati tersiksa dengan perasaan cinta tersebut.

__ADS_1


____________


Sementara itu Niko yang baru saja mengalami penculikan terbangun dengan tubuh yang sudah terikat dengan rantai di atas kursi.


Niko memandang orang-orang di depannya dengan ketakutan. Mereka berpakaian serba hitam dan juga memiliki banyak tato. Tatapan mereka juga sangat tajam dan amat mengintimidasi siapapun yang langsung bertatapan berdua.


Bulu kuduk Niko berdiri. Apakah sudah saatnya dia akan mati? Tapi apa salahnya. Apakah mereka semua ingin membunuhnya lalu menjual organ tubuhnya? Oh Tuhan kenapa ia sangat malang sekali.


Niko menunduk dan tanpa sadar air matanya menetes. Ia ingat kebersamannya dengan orang-orang terdekat, dengan Aldara dan juga dengan keluarganya. Apakah semuanya akan berakhir hanya sampai di sini.


Niko bisa merasakan jika salah satu di antara mereka berjalan ke arahnya. Pria itu tetap menunduk dan tak ingin melihat mereka sama sekali.


"Kau kenal gadis ini?" Niko menatap ke arah foto seorang wanita.


Betapa terkejutnya ia saat melihat jika foto itu adalah foto Aldara. Niko yang bingung pun dan juga tak mengetahui tujuan mereka apa betahnya tentang Aldara lantas menggeleng ingin melindunginya Aldara.


"Aku tidak tahu."


Plakk


Niko merasakan desiran panas di pipi kirinya yang ditampar sangat kuat oleh tangan kasar mereka. Niko merasa emosi dan menatap ke arah orang yang sudah menampar dirinya.


"AKU TIDAK MENGENALINYA!!" teriak Niko yang merasa geram kepada pria-pria tersebut.


Rupanya mereka telah kehabisan kesabaran terhadap Niko. Ia pun membuka ponselnya dan menunjukkan kepada Niko video Niko yang sedang berinteraksi bersama Aldara di rumah sakit.


"Apakah kau masih mau membantah?"


Niko mendengus. Ia pun memutar bola matanya. Sementara itu tangannya terkepal.


"Jika kau tahu kenapa tetap bertanya kepada ku? Apakah kau benar-benar bodoh hingga terus bertanya padahal kalian sudah tahu jawabannya."


"Baiklah berarti kau mengenalnya." Niko diam. "Aku ingin menawarkan kerjasama kepada mu."


Niko menaikkan satu alisnya. Ia melihat rekan dari pria yang berbicara dengannya itu menghampiri dirinya.


"Tapi sayangnya tidak ada penolakan. Karena kau sudah ada di sini kau harus bekerjasama dengan kami."


Niko merasa emosi. Kenapa ia tak visa memilih.


"Apa maksud kalian? Kalian semua benar-benar bajingan!"

__ADS_1


"Kami hanya ingin kau membunuh wanita ini."


"KAU!!" teriak Niko marah. Mana mungkin ia bisa membunuh Aldara sementara wanita itu adalah separuh dari bagian hidupnya. "Atau kau bisa menculiknya. Jika kau tidak ingin melakukan ini maka kau akan tahu bagaimana kau kehilangan keluarga mu satu per satu."


Sontak saja mendengar jawaban dari pria berpakaian hitam itu membuat Niko merasa marah dan berada di situasi yang sangat sulit.


Pria tersebut membawa Niko ke sebuah ruangan yang Niko sendiri tak tahu tempat apa itu.


"Kau ingin membawa ku ke mana?"


"Diam mu tadi adalah jawaban ya bagi kami. Kami akan membawa mu ke hadapan bos kami."


_________


Pada hari itu Samuel dinyatakan menang dalam persidangan hingga ia pun juga sekaligus dapat membebaskan ayah dari Aldara.


Meskipun begitu masih ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh Samuel untuk membebaskan Alkara.


Masih membutuhkan waktu yang lama untuk mengurus kebebasan Alkara karena semua bukti telah didapatkan dan bukti tersebut juga telah diuji kebenarannya dan hasilnya memang Alkara tak bersalah.


Aldara yang mendengar hal itu sangat senang. Wanita tersebut amatlah sangat semangat karena sebentar lagi ia dapat berkumpul dengan ayah tercintanya.


Aldara menatap ke arah Samuel yang sibuk bekerja. Ia merasa malu untuk menghampiri pria itu dan memberikannya kopi.


Aldara menatap ke arah tangannya yang membawakan kopi untuk Samuel. Ia tahu jika pria itu sangat lelah mengurus tentang persyaratan pembebasan ayahnya.


Dengan keberanian yang amat tipis Aldara memutuskan untuk menghampiri pria itu. Samuel berhenti menulis di atas lembaran berkas miliknya. Ia menatap lurus ke arah kopi yang dibawa oleh Aldara lalu kemudian mengangkat kepalanya menatap wanita itu.


Ia memandang Aldara dengan decakan kagum sebab wanita itu yang amat tampak seperti istrinya sungguhan. Samuel tak menyangka jika mereka akan semakin dekat tiap harinya.


Hal itu pulalah yang membuat Samuel sangat penasaran mengenai perasaan yang Aldara miliki kepadanya. Tinggal bersama cukup lama, apakah telah membuat hati Aldara menerima dirinya.


"Ini kopi untuk mu. Tampaknya kau sangat lelah bekerja dan aku merasa tak tega melihat mu yang sangat sibuk," ucap Aldara lalu kemudian hendak pergi.


Sebab ia juga merasa ragu untuk tetap berlama-lama di tempat ini dengan jantung yang berdetak hebat.


"Terima kasih." Aldara langsung berhenti berjalan ketika mendengar ungkapan tulus tersebut.


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2