
Aldara tak tahu harus menjawab perasaan Niko seperti apa. Jujur saat ini ia merasa tak enak untuk menolak Niko. Tapi untungnya Niko paham dengan sekali lihat ekspresi Aldara.
Ia pun menunduk sedih. Tampak sekali jika ia merasa kecewa tapi berusaha untuk sadar dan melakukan yang terbaik.
"Aku tahu kau menolaknya." Aldara diam dan tak membantah. Apa yang dikatakan oleh Niko memang itulah suasana hatinya saat ini. Cinta tak dapat dipaksakan, bukan? Dan Aldara hanya mencintai Samuel. Jadi ia tak ada alasan ingin menerima Niko.
Lagi pula Aldara tak ingin Niko terluka jika ia yang tak mencintai pria itu bersamanya. Aldara menarik napas panjang dan menundukkan kepala.
Ia tak tega melihat wajah Niko yang sangat sedih. Baru kali ini Aldara menolak orang tapi ia juga ikut tersakiti.
"Maafkan aku."
Niko mendongak ke atas menahan air matanya. Ia kemudian menatap Aldara saat sudah meyakinkan dengan kekuatannya sendiri.
"Hey kenapa kau menangis? Apa aku telah melakukan hal yang salah?" tanya Niko dengan sangat sedih.
Aldara menggelengkan kepala. Niko sama sekali tak ada salah padanya. Ia pun menarik nafas panjang dan kemudian menundukkan kepalanya. Aldara perlahan mulai yakin untuk mendongak.
Tapi saat ia menatap wajah Niko, Aldara terkejut karena jarak mereka yang benar-benar sangat dekat. Pun begitu juga dengan Niko. Pria tersebut yang awalnya ingin menenangkan Aldara akan tetapi malah salting brutal saat menyadari jika jaraknya dengan Aldara begitu dekat.
Tapi melihat air mata yang dikeluarkan oleh Aldara membuat hati Niko tersentuh. Sebagai seorang pria sejati, Niko menghapus air mata milik Aldara.
Aldara malah terperangah saat melihat perhatian yang ditunjukkan oleh Niko. Refleks ia mundur beberapa langkah ke belakang.
"Apa yang kau lakukan Niko?"
Niko pun mengedipkan matanya beberapa kali. Ya baru sadar apa yang barusan ia lakukan.
"Maafkan Aku. Karena aku telah lancang menghapus air matamu. Seharusnya aku lebih berhati-hati ketika dekat dengan mu," ucap Niko dan kemudian menarik napasnya panjang.
"Niko. Tidak apa-apa. Baiklah setelah kau tahu apa jawabanku dan kau juga telah mengungkapkan perasaanmu. Kini kau mungkin lebih tenang. Tapi sesuai dengan yang apa aku katakan, aku tak bisa lama-lama di sini."
Niko pun mengangguk. Ia tahu jika Aldara sangat sibuk.
"Baiklah. Apakah kau ingin aku mengantarmu?"
__ADS_1
Aldara menggelengkan kepalanya. Karena rumahnya berada di dalam kompleks ini dan sangat dekat. Jadi niku tak perlu repot-repot untuk mengantarkannya.
"Tidak usah. Karena rumahku dekat dengan sini. Semenjak kebakaran Aku pindah di komplek ini."
Niko pun pasrah. Bahkan setelah ditolak perasannya pun ia juga ditolak untuk mengantarkan Aldara. Padahal Ia ingin melakukan hal tersebut untuk terakhir kalinya ia dekat dengan Aldara sebelum menjauh dari wanita itu untuk menghapus perasaannya kepada perempuan tersebut.
"Baiklah. Kalau begitu Kau harus hati-hati."
"Tentu saja. Kau juga harus hati-hati."
Niko pun mengangguk beberapa kali. Wanita tersebut juga telah meninggalkan taman. Niko hanya bisa menatap punggungnya yang kian menjauh.
Kemudian barulah ia yang pulang dari taman itu. Niko berjalan gontai sambil memasukkan kedua tangannya di dalam satu celana dengan kepala yang tertunduk.
Air matanya tak bisa dibendung saat mengingat Aldara menolaknya. Biasanya iya yang selalu menolak wanita dan sekarang ialah yang ditolak oleh wanita pujaannya.
Ia yang terlalu larut dalam masalah hingga tak menyadari Aris gerombolan orang yang turun dari mobil dan kemudian menarik tangannya.
Niko terkejut dan lekas melawan mereka. Pagi sayangnya Niko malah salah jumlah dengan mereka hingga Ia pun tertangkap oleh orang-orang tersebut.
_______
Aldara heran kepada Samuel. Tapi di lain sisi ia tak bisa menampik jika hatinya berbunga-bunga ditatap seperti itu oleh Samuel.
"Kau dari mana saja? Kenapa baru pulang? Kau tahu di luar sana sangat membahayakan."
"Aku tahu. Tapi aku hanya ke taman itu," tunjuk Aldara kepada arah taman yang memang dari rumah Samuel bisa masih terlihat.
Samuel menghela nafas panjang. Oleh karena itulah ia melihat semuanya dari sini. Bagaimana tadi Niko menghapus air mata udara Aldara. Samuel benar-benar terpancing emosi. Untungnya ia bisa mengendalikan dirinya sendiri tadi. Jika tidak mungkin Samuel sudah pergi ke taman dan memukuli Niko.
"Hm. Bertemu dengan siapa?" tanya Samuel dengan intimidasi.
"Bertemu dengan Niko."
"Siapa yang memberikanmu izin?"
__ADS_1
"Hah? Harus memakai izin juga?" tanya Aldara sangat kaget.
Biasa-biasanya juga tidak. Itulah yang menjadi misteri kenapa tiba-tiba ia dituntut untuk meminta izin.
"Apakah peraturannya berubah? Perasaan dulu juga tidak ada begitu."
Samuel menghela napas panjang. Ia menundukkan kepala dan menyentuh keningnya. Ia terlalu berlebihan kepada Aldara hingga membuat Aldara pun curiga padanya.
"Sudahlah lupakan saja. Aku benar-benar dalam kondisi buruk."
Aldara kemudian langsung merasa khawatir saat mendengar jika Samuel dalam kondisi buruk.
"Kau sedang sakit? Kita harus ke kamar. Tidak baik kau tetap di luar. Apalagi angin di luar sangat kencang."
Samuel mamaku di tempat saat merasakan dengan lembut yang berada di keningnya. Aldara benar-benar begitu perhatian kepadanya hingga membuat Samuel merasa salah tingkah.
"Eh."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Kita harus masuk."
Aldara pun kemudian menarik tangan Samuel. Ia membawa pria itu ke kamar dan kemudian menyuruh agar Samuel berbaring di kasur. Sementara itu dirinya langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan serta obat untuk Samuel.
Samuel di dalam kamar menepuk jidatnya. Padahal Ia baik-baik saja. Ini semua karena dirinya yang salah berbicara.
"Sudahlah nikmati saja. Kapan lagi bisa seperti ini dengan istri sendiri," gumam Samuel.
"Hah istri?"
Aldara sangat terkejut mendengar hal itu.
__________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.