Satpamnya Aldara

Satpamnya Aldara
Part 6


__ADS_3

Aldara menghela napas panjang. Ia mengerjapkan matanya dan menatap ke atas dengan bingung. Perempuan itu teringat akan kebodohannya kemarin yang bisa-bisanya tertidur di dalam perpustakaan dan untung saja ada Samuel yang menolongnya.


Jika diingat-ingat Aldara sangat malu. Betapa kucelnya dia pada waktu itu dan duduk di samping Samuel pula. Untung Samuel berbaik hati padanya, entahlah Aldara tak bisa membayangkan betapa Samuel mengejek penampilannya malam tadi.


Nara menghela napas panjang dan berusaha untuk tak ambil pusing walau hatinya terus berpikir hal-hal yang mempermalukan dirinya sendiri.


"Huh, sudahlah Aldara kau tak boleh memikirkan itu. Kau sendiri yang akan malu. Yang sudah berlalu biarkan sudah berlalu," ucap Nara dan kemudian mengusap kepalanya sendiri berharap ia dan pikirannya yang sedikit aneh ini lekas sadar.


Aldara menghela napas panjang dan memejamkan matanya. Ia pun kemudian bangun dari baringnya dan tak peduli lagi dengan tadi malam. Buat apa memikirkan hal yang sudah berlalu dan belum tentu Samuel mempermasalahkannya.


Aldara masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang bahkan malam tadi tak sempat ia bersihkan. Ketika merasakan dinginnya air di pagi hari membuat Aldara kembali segar.


Aldara pun keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan yang lebih fresh ketimbang sebelumnya.


Ia pun memakai seragamnya dan cepat memilih buku pelajaran untuk hari ini. Setelah semuanya tampak siap Aldara lekas bergegas keluar rumah.


Tapi pada saat hendak mencari sepedanya barulah Aldara ingat jika sepedanya ditinggal di sekolah.


Aldara menahan napasnya dan berusaha untuk memikirkan cara agar ia bisa pergi ke sekolah.


Namun tiba-tiba ada ojek online yang berhenti di depan rumahnya. Aldara bingung kenapa bapak ojol tersebut menatap ke arahnya.


"Ada apa ya Pak?"


"Apa benar ini adalah rumah neng Aldara?"


"Saya sendiri? Ada apa memang?" tanya wanita itu seraya mendekati sang ojol. Ia heran kenapa pagi-pagi buta seperti ini ada ojol di depan rumahnya dan mencarinya.


Perasaan Aldara tak ada memesan ojek online seingatnya. Tapi ia berusaha untuk tetap melayani sang ojol sebagai orang yang ramah.


"Ada pesanan atas nama mbak Aldara."


"Hah? Saya? Se..sejak kapan?"


"Eh jadi bukan Nona? Berarti saya salah orang," ucapnya tampak penuh kecewa dan hendak pergi.


Nara yang tak tega melihatnya lantas menahan tukang ojol tersebut.

__ADS_1


"Eumm antar saya aja Pak ke sekolah saya. Oh iya kalau sampai di sekolah Melane School berapa ongkosnya yah?"


"Non, ongkosnya sudah dibayar."


Aldara ternganga kebingungan. Siapa yang sudah membayarkan ongkos ojol ini dan apalagi itu atas nama dirinya.


Oh Tuhan. Siapapun itu Aldara yakin jika dia orang baik. Aldara pun mengambil helm yang diberikan oleh tukang ojol tersebut dan duduk di bagian boncengan.


Aldara merasa bosan di perjalanan lantas menghidupkan ponselnya. Ia terkejut saat melihat jika ada notifikasi dari nomor tidak dikenal.


"Karena sepeda mu masih di sekolah jadi hari ini saya kirimkan ojol buat kamu. Tenang sudah saya bayar."


Aldara pun akhirnya tahu dari mana ojol ini berasal dan karena apa. Diam-diam ia tersenyum. Samuel sangat-sangatlah baik membuat dada Aldara kian berdetak kencang mengingat kebaikannya. Ia selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Aldara.


"Kenapa harus semanis itu sih?" tanya Aldara dalam hati yang tersipu malu.


________________


Beberapa Minggu Kemudian


Saking cintanya Aldara kerap kali mengikuti Samuel diam-diam hingga ia pun menyadari jika Samuel bukanlah orang biasa. Saat mengetahui hal itu harapan Aldara bak dijatuhkan dari ketinggian.


Nyalinya untuk dekat dengan pria itu menciut. Aldara minder dengan kekayaan Samuel. Dan Aldara mulai sejak itu menjauh dari Samuel.


Ia menghabiskan waktunya untuk membaca novel demi mengobati rasa sakitnya. Aldara juga perlahan bisa melupakan ibunya karena sudah memiliki tujuan hidup dan itu adalah Samuel.


Tapi ketika ia tahu Samuel adalah orang kaya kini tujuan itu pun pupus. Aldara menahan napas panjang dan menutup wajahnya dengan buku novel yang tengah ia baca.


Petugas perpustakaan yang melihat Aldara tampak muram lantas menghampiri Aldara. Ia pun duduk di samping Aldara dan mengambil novel yang menutupi wajah Aldara.


"Hoy."


"Hah?" Aldara kaget dan matanya mengedip polos membuat Niko tertawa pelan melihat kelucuan Aldara.


"Ck." Niko menyentil kening Aldara membuat Aldara pun tersadar dan menghela napas panjang lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kayu yang tengah ia duduki.


"Hm? Kenapa sih datang ke sini? Aku mau sendiri," ucap Aldara yang kini terang-terangan menunjukkan rasa tidak nyamannya dekat dengan Niko.

__ADS_1


"Eh. Eh. Aku mau tau aja kenapa hari ini seorang Dara galau? Sesuatu terjadi? Mau cerita?" Aldara menatap Niko ragu-ragu.


Tapi tetap saja pilihan terakhirnya adalah tetap tak menceritakan masalahnya. Aldara tak ingin jika perasannya diketahui siapa pun selain dirinya. Ini adalah rasa tersembunyi.


"Tidak."


Aldara mengambil novelnya lalu kemudian pergi. Niko tampak kecewa dan mengejar Aldara.


"Al mau makan?"


"Hah? Tidak. Aku sudah kenyang."


Niko pun menarik napas pasrah dan mengangguk. Aldara pun kemudian pergi membuat Niko hanya bisa memandang Aldara dengan lemah.


Mata Niko membulat saat melihat jika ada buku yang hendak jatuh dan tepat di bawahnya ada Aldara.


Ia terkejut dan lekas menghampiri Aldara dan memeluk tubuh Aldara hingga dialah yang dijatuhi buku tersebut.


Dara terkejut dan mendorong tubuh Niko yang tengah memeluknya. Wanita itu meledak hendak marah tapi ia terdiam saat melihat beberapa buku yang berserakan di lantai dan barulah dia sadar jika Niko berniat ingin melindungi dirinya.


"Terima kasih," ucap Aldara pada Niko.


"Kamu tidak kenapa-kenapa?" Aldara menggeleng.


"Niko kau tidak apa-apa?"


"Lihat aku baik-baik saja. Seorang pria harus kuat, bukan?" Aldara pun mengangguk dan tersenyum manis membuat Niko terdiam menatap betapa manisnya Aldara.


"Aldara," gumam Niko pelan melihat wanita itu yang terlalu sempurna.


Sementara itu di tempat lain seseorang tengah memperhatikan Aldara dengan mata tajamnya. Ia pun mengepalkan tangan dan kemudian pergi.


_____________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.

__ADS_1


__ADS_2