
Samuel pergi ke persidangan. Ini adalah persidangan pertama atas kasus mengenai percobaan pembunuhan padanya.
Samuel akan mengungkapkan semua kejahatan mereka di sini. Di persidangannya.
Samuel telah menyewa pengacara mahal untuk mengurus kasusnya dan memenangkan persidangan. Apalagi Samuel sudah mengumpulkan bukti atas kecurangan dan fitnah terhadap Alkara dan juga alasan kenapa ia hendak dibunuh.
Selama sidang berjalan, ketegangan pun berlangsung karena dari kedua belah pihak sama-sama melawan. Tapi untungnya beberapa anak buah mereka sudah mau mengaku dengan kejahatan yang mereka perbuat.
Dan itu membuka jalan lebar Samuel untuk menceritakan kejahatan lebih banyak lagi kepada hakim dan penantian bertahun-tahun untuk Alkara bebas pasti akan terjadi. Samuel pun tampak yakin dan merasa percaya diri di persidangan ini.
Ia memang berhasil unggul di persidangan kali ini. Samuel pun keluar dari ruangan persidangan saat hakim mengetuk palu.
Di tengah jalan ia pun berpapasan dengan orang yang merupakan tangan kanan dari musuh Alkara.
Samuel hanya menatap sinis pria itu dan kemudahan berusaha untuk tak peduli kepadanya.
"Tuan! Ini berkas-berkasnya." Samuel pun mengambil berkas tersebut dan membawanya.
Ia pun masuk ke dalam mobil untuk menuju kantor. Tentunya mereka tak akan tinggal diam ketika pada persidangan kali ini Samuel lebih unggul.
Untuk penjagaan di rumah juga diketatkan. Agar tak ada teror yang menimpa Aldara.
Aldara pun heran karena ia bingung kenapa di rumah sangat ramai dengan para bodyguard dan juga selalu mengawalnya ke mana-mana.
Tapi Aldara saat tahu jika itu adlaha perintah dari Samuel ia pun tak membantah.
Di kantor Samuel penuh dengan pekerjaan mengenai perusahaan. Saat Aldara yang hendak tamat sekolah pun Samuel berhenti menjadi satpam karena dirinya terlalu banyak pekerjaan.
Samuel menatap semua berkas yang ada di depannya dan menelitinya. Tak hanya itu ia juga melakukan riset beberapa barang bukti yang ia dapatkan dan dijadikan penguat ia di persidangan kedua.
"Tuan ada yang ingin bertemu dengan Tuan."
"Biarkan dia masuk."
Orang tersebut pun masuk dan Samuel terkejut saat tahu siapa orang itu. Ia hanya menarik napas panjang dan memberikan perintah duduk dengan isyarat matanya.
"Wow kau sekrang sudah menjadi pimpinan, yah? Sangat hebat. Katanya perusahaan di tangan mu berjalan lebih maju. Kau luar biasa."
"Hm."
__ADS_1
Orang di depannya ini adalah partner Samuel. Dia adalah rekan saat masih bekerja dengan Alkara.
"Ah ya bagaimana perkembangan kasusnya? Apakah ada kemajuan atau harapan bos akan keluar."
"Kurasa usaha kita kali ini akan membuahkan hasil."
Pria yang di depan Samuel itu pun tersenyum. Ia menempuh pundak sama beberapa kali. Dampak jika ia sangat bangga kepada Samuel.
"Bos tidak salah memilihmu menjadi bayangan."
Samuel hanya menyumbangkan senyum. Ia tahu ia hampir menyelesaikan Semua kasus ini. Tapi ada yang lebih penting lagi. Yaitu keselamatan Aldara dan tampaknya semakin terancam.
"Ya apa yang kau katakan itu benar. Tapi keselamatan Aldara juga sangat penting. Sepertinya dia menjadi buronan mereka. Untuk dijadikan tameng agar mereka bisa mengancam ku. Ah ya Doni kau bisa membantu ku?"
Doni pun menarik napas panjang. Meski ia tak lagi bekerja pada Alkara tapi ia masih peduli pada bos lamanya.
"Kau tenang saja. Aku pasti akan membantu mu. Hem, apakah dia tahu jika dia sudah menjadi istri mu?"
Samuel menggelengkan kepala. Tampak wajahnya menjadi muram dan tertunduk.
"Belum."
Samuel pun menghela napas panjang. Ia pun mendongak menatap Doni. Doni tak begitu tahu dengan masalah yang dihadapi Aldara.
"Jika dia kembali ingat Mungkin dia akan semakin trauma. Itu adalah permasalahan yang pertama. Dan permasalahan selanjutnya jika Aldara tahu mengenai masa lalunya, maka ia akan mengalami pendarahan pada otaknya. Tapi ini baru dugaan, kita tidak tahu apakah benar-benar akan terjadi pendarahan atau tidak saat Aldara mengingat kembali ingatannya. Tapi lebih baik dihindari bukan. Agar sesuatu tak menakutkan terjadi." Semua mengatakan hal tersebut dengan perasaan yang sangat sedih. Siapa pria yang ingin istrinya mengalami hal tersebut.
Sementara itu Doni sangat tidak menyangka bahwa Samuel sudah jatuh cinta kepada Aldara.
"Hem kau menyukainya?"
"Hm."
"Wow menarik." Samuel menatap Doni dengan pandangan tajam.
___________
Aldara berdiri di taman yang kebetulan tak jauh dari rumahnya. Niko meminta agar ia datang kemari. Kata Niko ada yang ingin ia bicarakan padanya.
Aldara menunggu sangat lama dan pria itu belum juga muncul. Mungkin ia yang datang kecepatan.
__ADS_1
Ia yang hendak pulang karena bosan menunggu Niko pun mengurungkan niatnya saat melihat pria yang ditunggu tersebut pun datang.
"Kau lama sekali."
"Ck, mana novel yang aku pinjamkan kemarin? Aku harus mengantarnya kembali."
Aldara pun menyerahkan novel yang ia bawa. Kebetulan Niko memang mintanya membawa novel.
"Hanya meminta novel tapi datang ke taman?"
Niko pun hanya tertawa. Dia menggelengkan kepala jika bukan itulah tujuan utamanya mengajak Aldara ke taman ini.
"Bukan itu. Ada yang ingin aku katakan kepadamu."
Aldara pun menyipitkan matanya. Iya penasaran dengan apa yang akan diungkapkan oleh Niko.
"Hm kau ingin mengatakan apa? Aku hanya memiliki waktu sedikit."
Mendengar hal itu mata Niko pun membesar.
"Heh apakah kau benar-benar tak ingin mendengarkan ucapanku sebentar saja."
"Hei bukan seperti itu. Sudah aku katakan cepat kau mengungkapkan Apa yang ingin kau katakan tersebut. Bukan aku menunggumu seperti ini."
"Hm baiklah-baiklah maafkan aku."
Aldara pun menganggukkan kepalanya. Niko dengan ragu-ragu ingin mengungkapkan perasaannya.
Sudah sangat lama ia memendam perasaan ini. Dan pada hari ini Niko memutuskan untuk memberi tahu kan kepada Aldara bagaimana perasaannya kepada wanita itu.
"Aldara."
"Hm?"
"Aku ingin mengatakan jika aku menyukai mu." Aldara tercengang saat mendengar hal tersebut.
________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.