SATRIA MAMBA HITAM

SATRIA MAMBA HITAM
SATRIA MAMBA HITAM EPS 13 Perjalanan ke tirta kencana 2


__ADS_3

Dimalam itu selepas Siliwata turun dari pohon beringin tua, Ia berjalan menuju tempat kediamannya sipemilik kedai itu, karena hatinya yang berjiwa luhur, Siliwata ingin membebaskan orang uang sudah terikat perjanjian dengan jin gombel.


Sementara disudut kampung tepatnya disebuah rumah besar dengan bangunannya yang terbuat dari papan kayu jati, yang bermotip banyak ukiran disetiap bingkai-bingkai jendela dan pintunya,Tentu saja dijaman itu sudah tergolong orang yang kaya.


Dimalam itu tepat dimalam selasa kliwon, seorang lelaki yang berusia kira-kira 40 tahunan lagi bersemedi disebuah kamar kecil dengan asap dupa yang mengepul di pembakaran persembahannya.


Tiba-tiba angin mendadak kencang masuk keruangan tersebut, bara yang membakar kemenyan sampai terbang tersapu oleh angin itu.


Bersama'an dengan munculnya sosok mahluk tinggi besar berwajah menyeramkan


''Sodiiiiikkk, sekarang waktunya kamu ku ambil sodiiik.'' Ucap Mahkluk tinggi besar itu.


''Ampuuun pangeran gombell, hamba belum siap untuk bekerja dikeraja'an gombel.'' Ucap Sodik sambil bersujud.


''Kamu sekarang sudah dua kali tidak melakukan persembahan pada ayahanda prabu Janata gombel, dan saya ditugaskan untuk menjemutmu sodiik, hahahaha.'' Ucap mahluk itu yang tak lain adalah pangeran Gombel


''Ampun pangeran, berilah hamba kesempatan sekali lagi.'' Ucap Sodik.


''Tidak ada lagi ampunan untukmu Sodik, hahahaha.'' Teriak pangeran gombel sambil tertawa terbahak-bahak.


Sodik sangat ketakutan sekali, ia berteriak-teriak memohon ampun pada pangeran gombel, tapi pangeran gombel tidak memperdulikannya.


Disa'at pangeran gombel mau menyambar sodik dengan tangan kanannya, sekelebatan cahaya merah menerjang tangan kanan pangeran gombel


Sodik yang sudah pasrah sambil merengek-rengek mendadak kaget, begitu melihat tangan pangeran gombel mau menyentuh dirinya, seperti kesakitan.


Suara besar bergema keluar dari mulutnya pangeran gombel.


''Aaawww.... Kurang ajar siapa yang ingin ikut campur dengan pangeran gombel.'' Teriak Pangeran gombel.


''Sayalah orangnya yang ingin menggagalkan rencanamu, putra gombel.'' Ucap orang bertubuh tegap, dengan gagah beraninya berdiri.


''Setan alas, beraninya kau manusia melawan kami.'' Bentak pangeran gombel.


''Kaulah yang setan putra gombel, kenapa kamu mau membawa orang ini?.'' Tanya lelaki itu yang tak lain adalah Siliwata yang datang tepat waktu.


''Karena si sodik telah melanggar perjanjian yang telah disepakatinya.'' Jawab pangeran gombel.


''Perjanjian apakah itu?.'' Tanya Siliwata.


''Sisodik telah datang kejuru kunci goa gombel, untuk menghadap sang prabu janata gombel, untuk meminta penglaris dagangannya, lalu sang prabu memenuhi semua keinginannya dengan sarat, harus mempersembahkan tumbal disetiap enam kali purnama, sudah dua belas purnama sodik tidak melakukan itu, dan sebagai gantinya, sang prabu menyuruh saya untuk mengambil si sodik.'' Begitu tutur kata dari pangeran gombel.


''Ooh begitu rupanya.'' Ucap Siliwata.


Sodik pas melihat pada Siliwata, pemuda yang pernah datang untuk makan dikedainya, ia langsung menghampiri Siliwata dengan memohon perlindungan pada siliwata, agar pangeran gombel tidak jadi membawanya pergi.


''Tolongin saya satria, dan saya minta ma'ap waktu itu sudah mengusir anda, dan saya menyesal tidak menuruti kata-kata anda.'' Ucap Sodik memohon-mohon.


''Apakah benar paman mau bertobat, dan tidak melakukan hal yang nista lagi, dan paman tau perbuatan paman sudah banyak merugikan banyak orang, dan paman sudah menyekutukan sang pencipta.'' Ucap Siliwata.


''Paman berjanji, tidak akan mengulangi lagi, asalkan satria mau menolong hamba.'' Ucap Sodik.


''Memintalah pertolangan pada sang murbeng alam, dialah yang mempunyai ampunan pada umatnya yang mau benar-benar bertobat.'' Ucap Siliwata.


Pangeran gombel sangat murka, lalu pangeran gombel melesat seperti angin ingin mengambil sodik untuk diserahkan pada rajanya.


Tapi Siliwata tidak tinggal diam, ia lalu menjamah sodik untuk menghindari dari cengkraman tangannya pangeran gombel.


Hanya dalam sekejap mata tubuh sodik telah bisa di selamatkannya.


Pangeran gombel yang belum tau pada Siliwata, sangatlah murka sekali, dengan suara menggeram dan menggema pangeran gombel mengayunkan tangannya yang besar itu, berniat untuk menangkapnya.


''Hai manusia akan kuremas-remas tubuhmu, sudah berani sekali menentang keraja'an goa gombel, Heeeaaaaa....'' Ucap pangeran Gombel sambil melesat mengayunkan tangannya ingin mencengkram Siliwata dan Sodik.


Tapi Siliwata, yang sudah mengalir dalam darahnya, yaitu darah Siluman mamba, hanya dalam sekejap saja Siliwata berhasil menghindari dari cengkraman sitangan raksasa itu, dengan lentur sekali tubuh Siliwata berkelit sambil memegang tubuhnya sodik.


Pangeran gombel semakin gencar ingin menangkap Siliwata dan sodik, tangannya yang besar berkelebat kesana kemari terus mengincar Siliwata dan Sodik.

__ADS_1


Tapi tubuh Siliwata terlalu cepat dan susah untuk ditangkap oleh pangeran gombel.


''Kurang ajar kau manusi, beraninya kau bermain-main dengan pangeran gombel hah.'' Teriak pangeran gombel dengan suara yang besar dan menggema.


''Hahahaaaaa... Hai gombel tubuhmu aja yang tinggi besar, tapi kemampuanmu tidak ada apa-apanya.'' Ucap Siliwata sambil menghunus pedang mamba merahnya.


Pedang yang bentuknya berbeda dengan pedang kebanyakan, pedang mamba merah berbentuk bulat dengan ujungnya yang runcing, laksana seperti bentuk se ekor ular, dengan sisik-sisiknya seperti ular ter ukir diseluruh bagian pedang tersebut.


Begitu pedang Mamba merah sudah keluar dari sarungnya.


Sebuah cahaya merah menyala keluar dari pedang itu.


Pangeran gombel sangat terkejut begitu melihat pedang mamba merah itu berada dalam gengaman Siliwata.


''Hai anak manusia, kenapa kau bisa mempunyai pedang andalan goa mamba.'' Teriak Pangeran gombel.


''Hahahaa, hai putra gombel, rupanya kau cukup mengenal sekali dengan pedang ini.'' Ucap Siliwata.


''Dasar manusia yang serakah, siapa kau sebenarnya, kenapa pedang itu bisa berada di genggamanmu.'' Teriak pangeran gombel.


''Kamu tidak usah tau siapa saya, yang jelas kamu sudah banyak menyesatkan manusia, dan banyak menipu daya.'' Teriak Siliwata.


''Kurang ajar kau manusia, saya tidak takut dengan pedang itu, ciaaaaaattt.'' Teriak pangeran gombel sambil meluncurkan serangannya.


Pangeran gombel melesat dengan cepat, ingin mencabik-cabik tubuhnya Siluwata, tapi siliwata yang sudah tercampur dalam darahnya, darah siluman mamba tidak terkecoh dengan gerakan dan serangan pangeran gombel yang begitu cepat, kalau dipandang oleh mata manusia biasa.


Siliwata melesat keatas dengan cepatnya, ingin menghantam kepalanya pangeran gombel.


Entah kenapa siliwata tidak menggunakan pedang mamba merahnya, padahal sebelumnya pedang itu sudah terhunus dari sarungnya, tapi kini pedang mamba merah sudah berada lagi dalam warangkanya.


''Kini sa'atnya saya menggunakan ilmu dari eyang resi wanayasa.'' Ucap Siliwata dalam hatinya.


Siliwata melesat dengan cepatnya menghantam pangeran gombel dengan ilmu cakra saketi, sebuah sinar putih menembus tubuh pangeran gombel.


Siluman gombel itu langsung melepaskan suaranya yang keras, karena rasa sakit yang kini dideritanya.


Sebuah ilmu penghancur bangsa dedemit dan sangat angker juga juga bila menimpa pada manusia.


Sodik setengah sadar dan setengah tidak sadar, melihat kesaktiannya Siliwata yang berhasil memukul mundur utusan dari keraja'an goa gembel itu.


Sodik lalu mendekati Siliwata, ia lalu bersujud meminta ma'ap karena sebelumnya sodik sudah menganggap remeh pada pemuda yang pernah makan dikedainya itu, yang tak lain adalah Siliwata, Sang kesatria dari keraja'an mamba.


''Ampuni saya tuan, atas kelancangan saya tempo itu, sungguh saya tidak tau kalau tuan seorang satria yang linuhung.'' Ucap Sodik sambil bertekuk lutut.


''Udah mamang janganlah bersikap begitu, saya cuma manusia biasa, yang tak luput dari segala kesalahan, apabila saya bilangin mamang waktu itu, karena saya tidak mau mamang menipu banyak orang atas kelakuan mamang yang telah bersekutu dengan siluman gombel.'' Jawab Siliwata sambil memegang kedua pundaknya sodik.


Sodikpun langsung berdiri setelah Siliwata mengangkatnya dan menyuruhnya bangun.


Setelah itu sodik menyadari atas apa yang telah dilakukannya, bersekutu dengan keraja'an siluman goa gombel.


Siliwata terus memberikan wejangan pada sodik, untuk memulai hidupnya dijalan yang lurus.


Setelah itu sodikpun membawa Siliwata kerumahnya untuk nginap sehari dua hari, karena Sodik masih merasa takut akan kedatangan lagi utusan dari keraja'an goa gombel untuk membawa dirinya.


Siliwatapun menuruti perminta'an dari sodik, takut sewaktu-waktu ada kiriman dari keraja'an gombel untuk menuntut balas.


Tiga hari kemudian Siliwata pamitan pada sodik untuk melanjutkan lagi perjalanannya menuju tirta kencana, sebenarnya sodik sangat berat sekali melepaskan Siliwata, tapi sodikpun mengerti bahwa dirinya tidak mungkin harus menahan-nahan Siliwata ketirta kencana apalagi siliwata mau bertemu sama kedua orang tuanya, Sesuai dengan yang telah diceritakan oleh Siliwata pada sodik, bertahun-tahun siliwata tidak mengetahui orang tuanya.


Sa'at pagi menjelang, setelah sarapan pagi siliwata sudah melangkahkan kakinya, dari rumah sodik untuk melakukan perjalannya.


Sodik hanya memandang Siliwata dari belakang, biarpun sodik sudah dibekali senjata oleh siliwata kalau sewaktu-waktu, siluman gombel datang menuntut balas, tetap aja sodik belum percaya diri akan kemampuannya nanti bila dibutuhkan.


Kini siliwata sudah jauh meninggalkan rumahnya sodik, bukit-bukit dan lereng-lereng terjal sudah siliwata lalui.


asap putih mengepul keluar dari kawah gunung kencana, siliwata terus menelusuri jalan setapak dikaki gunung kencana.


Perjalanan Siliwata dari rumahnya sodik menuju tirta kencana.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Siliwata, bahwa dirinya selama dalam perjalanannya menuju tirta kencana tak lepas dari pengawasan sang penguasa negri awan.


Putri palaka sari ratu dari seluruh putri-putri dinegri awan, lewat cermin saktinya sang putri lagi mengawasi Siliwata yang didampingi oleh putri ungu dan putri hijau.


''Putri hijau dan putri ungu kalian turun kebumi, ikuti terus pemuda itu, saya merasakan akan ada aura sakti yang menghadangnya didepan.'' Ucap putri palaka sari.


''Kiranya siapa yang akan menghadang pemuda itu, bukankah pemuda itu sangat sakti, karena seluruh jiwanya sudah mengalir darah mamba, ditambah lagi sudah digembleng oleh sang resi wanayasa yang sakti mandra guna.'' Ucap putri hijau.


''Ia putri hijau saya tau itu, tapi yang saya rasakan ada hawa sihir yang sangat kuat yang akan menghadang siliwata nanti.'' Ucap putri palaka sari.


''Kalau tentang penyihir siapa lagi kalau bukan nene sulampe, sipenyihir gila.'' Saut putri ungu.


Para putri negri awan lagi pada kumpul sambil melihat cermin sakti, yang nampak jelas, siliwata lagi melakukan perjalanannya menuju tirta kencana.


Putri palaka sari, ratu penguasa negri awan hanya mengutus putri hijau dan putri ungu, untuk mengikuti siliwata dalam perjalanannya menuju tirta kencana.


Back to siliwata.


Siliwata terus berjalan tanpa lelah, terkadang sesekali ia beristirahat sebentar, sebenarnya bisa saja siliwata cepat sampai ketujuan, Karena siliwata sudah menguasai ilmu kilat mamba, tapi sang resi pernah memberi petuah jangan pergunakan suatu ilmu hanya untuk kesombongan, pergunakanlah ilmu itu, dalam keada'an terdesak.


Disa'at Siliwata sudah keluar dari lereng kaki gunung kencana, suasana tiba-tiba berubah, Angin mendadak kencang dengan awan tiba-tiba menghitam, menutupi wilayah disekitar siliwata berada.


''Jagat dewa batara, apalagi ini, ini bukan perubahan alam biasa, tapi ini tidak wajar, dan sepertinya perbuatan para penyihir.'' Gerutu Siliwata.


Siliwata mencium bau ilmu sihir sedang mendekatinya, ia lalu mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya.


Dengan bekal ilmu yang didapat dari resi wanayasa, siliwata lalu duduk bersila melakukan semedi.


Ajian halimun sukma, yang kini siliwata kerahkan untuk menutupi wadaknya dari pandangan para siluman dan dedemit.


Setelah itu sebuah bayangan persis menyerupai siliwata keluar dari wadaknya siliwata, dan berjalan kearah asalnya awan gelap itu datang.


Sukma yang menyerupai siliwata kini melayang masuk kedalam gumpalan awan hitam tersebut.


Ternyata siliwata sedang mengeluarkan sukmanya dari raganya.


Nampak terlihat oleh siliwat, seorang nenek tua bermuka keriput menyeramkan lagi menunggangi sebuah upih, dan anehnya sinenek tua itupun tidak mencium kedatangannya siliwata.


''Ooh rupanya inilah sinenek penyihir itu, sangat sakti ilmu sihirnya sampai mataku tidak bisa menembusnya tadi, mungkin ku akan kecolongan kalau tidak mengeluarkan sukmaku.'' Sukma siliwata berkata.


.......................


Sementara ditempat lain, dua putri dari negri awan lagi bersembunyi dibalik mega putih, dengan pandangan terus tertuju pada siliwata.


''Coba kau lihat ungu, pemuda itu ternyata sanagt sakti.'' Ucap putri hijau.


''Iya benar hijau, terus apa maksudnya kanjeng ratu palaka sari mengutus kita untuk mengintai pemuda itu.'' Jawab putri ungu.


''Saya juga belum mengerti maksud dan tujuan kanjeng putri, ya sudah tidak usah dipikirin yang penting kita menjalankan perintah dari kanjeng putri.'' Ucap putri hijau.


Kedua putri utusan dari negri awan itu terus memantau siliwata dari atas mega putih.


Sementara sinenek sihir yang laju menunggangi upih sakti, terus meluncur diatas jagat raya sambil matanya memandang kebawah bumi dengan sebuah tongkat berkepala capung digenggamnya.


''Heheeeheee, sepertinya ada bola mata yang sedang mengintaiku, tapi kenapa saya tidak bisa menembusnya, bola mata itu pastilah orang sakti.'' Ucap sinenek sihir, yang tak lain adalah nenek sulampe sambil terkekeh-kekeh tertawa.


Sementara siliwata yang kini sedang mirogo sukma, untuk melihat sinenek sihir, telah kembali lagi ke wadaknya atau raganya, yang bersembunyi dibalik pohon.


Setelah itu siliwata telah membuka matanya perlahan-lahan, dalam posisi duduk bersila.


Dan kini tubuh siliwata sudah mulai lagi bergerak, yang sebelumnya kaku tidak berdaya, karena ditinggqlkan sang sukma.


''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''


Bersambung.


Bagi yang suka dengan cerita ini, klik aja like, tulis komentar dan sarannya, favorit dan juga vote.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya, semoga sukses selalu.


Selamat membaca.


__ADS_2