SATRIA MAMBA HITAM

SATRIA MAMBA HITAM
Eps 31 Bukit Hanjuang


__ADS_3

Selepas itu Ke tiga putri penguasa dari negri awan, pamit pergi meninggalkan Siliwata dan Yudasara.


Kabut putih tebal telah terbang ke angkasa membawa ke tiga Bidadari untuk kembali kenegri awan.


Siliwata dan Yudasara terpaku memandang sambil menengadahkan wajahnya ke angkasa, melepas kepergiannya tiga Bidadari.


"Selamat jalan kanjeng Ratu." Serempak Siliwata dan Yudasara ber ucap.


Setelah kabut putih tebal yang membawa ke tiga Bidadari itu, tidak nampak lagi dalam pandangannya.


Siliwata mengajak Yudasara untuk pergi ke Bukit Hanjuang menemui Eyang Resi Wanayasa atau Pangeran Rangsak seta.


"Perjalanan ke Bukit Hanjuang lumayan sangat jauh kakang." Ujar Yudasara.


"Iya, tapi adek bisa sebentar kesana, kalau menggunakan ilmu Kidang kencana." Tukas Siliwata.


"Iya kakang, tapi kalau keada'an sangat mendesak barulah kita bisa menggunakan ilmu itu, kan kakang sendiri yang sering memberi aku petuah." Ucap Yudasara.


Siliwata tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya.


"Ya sudah ayo kita jalan, mungpung hari belum gelap, kita harus meninggalkan Bukit Dadap ini." Ujar Siliwata.


Kedua bersaudara itu langsung berjalan meninggalkan Bukit Dadap.


Jalan setapak yang menurun membelah perbukitan telah Siliwata dan Yudasara lalui.


Kini misteri di balik satria Mamba hitam terungkap sudah, ternyata Kala Seta dan kedua putranya, Siliwata dan Yudasara adalah Keturunan langsung dari maha Raja pendiri kerajaan Kencana yakni Prabu Wayan Dava Taksa Seta.


Bila orang yang sudah menghina Kala Seta dan keluarganya tau, pastilah mereka akan merasa terkejut dan tidak percaya.


............


Sementara di tempat lain.


Di alam dimensi lain, di sebuah keraja'an Goa Mamba.


Nampaknya Nyai Ratu lagi berada di ruang meditasinya, mendapat wangsit dari semesta bahwa Pedang Mamba merah kini telah menyatu dengan Pedang Mamba kencana.


Nyai Ratu nampak telah membuka kedua netranya, Bersama'an dengan menarik napas perlahan.


"Kalau kedua Pedang Mamba sudah berhasil di gabungkan berarti Nyai Ratu dari negri awan sudah turun ke Bumi dan membuka silsilah lembaran sejarah kerajaan Kencana, dan nanda Siliwata cucuku sudah sa'atnya mengetahui misteri di balik Satria Mamba hitam." Gerutu nyai Mamba Sari bermonolog.


"Apakah kakang Rangsak Seta sudah mengetahuinya." Batin Ratu Mamba Sari.


Kemudian Nyai Ratu Mamba Sari, kembali memejamkan matanya untuk melakukan mediasi dengan Pangeran Rangsak Seta.


"Kakang, apa kakang mendengar aku." Batin Nyai Ratu.


Getaran Suara yang di ucapkan melalui mediasi oleh Nyai Ratu, telah terkoneksi dengan Pangeran Rangdak seta atau Eyang Resi Wanayasa.


"Iya Nyai, kakang telah mendengar bisikanmu, ada apa kiranya nyai memanggilku." Jawab Pangeran.


"Aku mendapat wangsit kakang, bahwa kedua Pedang Mamba sudah berhasil di gabungkan." Ujar Nyai Ratu.

__ADS_1


"Iya Nyai, kakangpun sudah di kabari, malahan hari ini pula kedua cucu kita lagi berjalan menuju tempatku." Jawab Pangeran.


"Berarti aku telah terlepas dari hukuman para dewa, dan bisa menemui kakang kapan saja." Tukas Nyai Ratu.


"Iya benar, tapi nanti kita tunggu mustika Naga emas mengeluarkan cahayanya di mayapada." Ujar Pangeran Rangsak Seta (Resi Wanayasa).


"Baiklah kakang."


Setelah itu Nyai Ratu menyudahi kontak batinnya dengan Resi Wanayasa, dan beranjak bangkit dari semedinya.


Nyai Ratu Mamba Sari berjalan keluar dari ruangan Semedi menuju ke istana untuk berkumpul kembali dengan Rakyat tercintanya.


..........


Kembali pada Siliwata dan Yudasara yang lagi melakukan perjalanannya menuju Bukit Hanjuang.


Untuk bisa sampai di Bukit Hanjuang, Siliwata dan Yudasara harus melewati dulu Sungai Ci Getih.


Di mana setiap orang yang melewati Sungai itu, sudah di pastikan hidupnya tidak akan selamat.


Karena para penghuni Sungai Ci Getih adalah para manusia yang suka memangsa daging manusia atau di sebut Suku Canibal.


Sepuluh tumbak lagi untuk bisa tiba di Sungai Ci Getih, tapi Siliwata tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Rayi, kamu merasakan bau anyir." Bisik Siliwata.


"Iya kakang, seperti bau anyir darah segar dan auranya terasa panas." Jawab Yudasara.


Dengan sangat hati-hati sekali Siliwata dan Yudasara mengayunkan kakinya agar tidak menimbulkan suara yang berisik.


Tapi hawa bau manusia telah tercium oleh Suku Bangsa Canibal yang saat itu lagi berkumpul di sebuah goa.


"Huhaaha...Hari ini kita tidak akan kelaparan lagi, aku mencium darah manusia yang masih segar, ayo kita keluar dari goa ini." Ujarnya dengan suara yang serak-serak parau.


"Iya benar."


Kepala suku Canibal langsung melompat keluar dari dalam goa, yang di ikuti oleh kesepuluh rakyatnya.


Para Suku Canibal dengan Cepat berlari mengikuti hawa dari Siliwata dan Yudasara yang semakin mendekat ke arah tepian Sungai Ci Getih.


Siuurr


Siiiuur


Siiuurr...


Suara lompatan dari para Suku Canibal menghadang Siliwata dan Yudasara.


Karena Siliwata dan Yudasara sudah mengetahui akan kedatangan para Suku Canibal, Keduanya nampak tenang ketika mereka menghadang.


Kepala Suku tertawa liar dengan sorot matanya yang begitu bringas, ingin rasanya segera merasakan daging yang nampak masih segar.


"Hahaha..Sungguh makanan yang lezat, cepat tangkap kedua manusia itu." Perintah kepala Suku.

__ADS_1


Ketika ada perintah dari kepala Suku, mereka langsung mendekat pada Siliwata dan Yudasara.


Siliwata dan Yudasara langsung melompat mundur sambil menghunus pedang Mamba Kencana.


"Jangan mendekat, pergilah sebelum kepala kalian lepas dari jasad." Pekik Siliwata.


Hhmmmmm...


Mereka menggeram, lalu melompat ingin menangkap Siliwata dan Yudasara.


"Hhh..Akhirnya dapat juga mangsa kita." Ujarnya.


Padahal Siliwata dan Yudasara lagi bertengker di atas dahan kayu sambil cekikikan menyaksikan para Suku Canibal, di kira menangkapnya padahal yang di pegang kedua Bangsanya.


"Hihihi...Ternyata orang Canibal, bisa juga ya bikin kita tertawa." Bisik Siliwata terkekeh.


"Hehee..Mereka lucu kakang kaya anak bayi, sudah tidak berpakaian, cuma sehelai kulit rusa yang menutupi bagian terlarangnya." Tukas Yudasara.


Sementara kepala Suku yang sedari tadi hanya berdiri menunggu rakyatnya membawa mangsa, merasa kesal melihat kedua mangsanya susah sekali di dapat.


"Kalian semua bodoh, coba lihat siapa yang kalian tangkap." Bentaknya.


Para rakyat Canibal langsung terperanjat ketika yang mereka tangkap itu bangsanya sendiri.


Kemudian mereka saling pandang sambil menoleh pada kepala suku.


"Di mana kedua manusia itu, kenapa cepat sekali menghindar, mungkin para dewa yang turun ke bumi." Celotehnya.


"Dia manusia yang di kirim oleh Dewa untuk makanan kita." Pekik Kepala Suku.


Sementara Siliwata dan Yudasara melompat turun dari atas pohon dengan sangat enteng.


Kepala Suku nampak kesal lalu menyerukan pada rakyatnya untuk segera menangkap Siliwata dan Yudasara yang merupakan makanan lezat bagi Suku tersebut.


Ketika kelompok Suku Canibal itu menyerang dengan senjatanya, Siliwata dan Yudasara melesit ke atas sambil menghempaskan kekuatan Pedang mamba kencana dan gada Sakti Dewa indra.


Wheess


Wheesss


Wheeesss..


Bluuuaarr..


Kedua sinar yang melesat dari kedua Senjata Kakak beradik itu telah melemparkan sekelompok dari Suku tersebut.


Auuuuggghhhh.....


Jerit lesakitan begitu histeris terdengar, tinggal kepala Suku yang nampak mematung melihat kelompoknya terlempar begitu jauh dengan luka yang begitu mengerikan.


..........................


Terima kasih atas dukungannya, silahkan like, comentar dan berikan Votenya bila suka.

__ADS_1


__ADS_2