
Di hari Raspati pada bulan Kartika, Siliwata dan Yudasara mendapat tugas dari sang Resi Wanayasa untuk mengambil harta karun yang sudah puluhan tahun di simpan.
Siliwata dan Yudasara berjalan menyusuri jalanan setapak menuju bukit hanjuang, untuk memenuhi panggilan dari sang Resi yang di bisikan melalui media gaib.
Singkatnya kedua kakak beradik itu telah sampai di bukit hanjuang, pancaran harum mewangi dari bunga-bunga yang banyak tumbuh di luar goa, sampai membuat Yuda sara terpana akan indahnya alam dan aneka bunga-bunga yang di tanam tersusun rapi.
"Owwhb, sungguh indah alam di sekitar goa ini kakang." Ujar Yudasara.
Setelah itu terdengar suara, yang meminta mereka untuk segera memasuki goa.
"Cepatlah masuk cucuku." Bisik suara dari dalam goa.
"Baik eyang."
Keduanya pun langsung memasuki goa tersebut, setibanya di dalam goa nampak eyang Resi wanayasa dengan berpakaian serba putih lagi duduk bersila di atas batu pualam yang sudah nampak mengkilap.
"Sampu rasun eyang." Sapa Kedua kaka beradik itu.
"Rampes." Jawab Snag Resi.
"Sungkem hamba eyang Resi." Ujar Yudasara.
"Iya terima kasih, duduklah Yudasara, kakek sudah tau siapa kamu, makanya kakek menyuruh kakangmu untuk membawa kamu kesini." Tutur Sang Resi.
"Ada apa kirang eyang Guru, menyuruh hamba dan adik hamba datang kemari?." Siliwata mulai membuka pertanya'an.
Kemudian sang Rsei pun membeberkan maksud dan tujuanya meminta Silawata dan Yudasara untuk datang ke Goa Hanjuang.
"Begini cucuku, Ratusan tahun yang silam, sebelum kakek mendiami Goa ini, kakek jadi ponggawa keraja'an, yang sekarang sudah tenggelam tidak meninggalkan bekas sama sekali, bahkan banyak sebagian orang-orang menganggao bahwa keraja'an itu adalah keraja'an gaib, munculnya pun tidak di ketahui oleh orang begitupun lenyapnya tidak ada yang tahu."
Lalu Siliwata bertanya memotong pembicara'an sang Resi.
"Ma'ap eyang Guru kalau hamba lancang memtong pembicaraannya, apakah tidak ada bekas puing-puing dari keraton atau benteng kerajaan itu, dan letak keraja'an itu di mana?." Tanya Siliwata.
Sebelum melanjutkan cetitanya sang Resi lalu meraih sebuah kendi dan di tuangnya air dari dalam kendi ke dalam gelas batok kelapa, dan di minumnya untuk memasahi tenggorokannya.
"Keraja'an itu tidak meninggalkan bekas sedikitpun, malahan setelah hilang keraja'an itu tempatnya berubah menjadi hutan dan perbukitan, mengenai letak keraja'an itu persisnya di bawah bukit kahuripan, nah yang menjadi tujuan kakek adalah, kalian berdua pergilah ke gunung kencana, cari harta karun yang kakek kubur di sekitar gunung itu." Titah sang Resi.
"Sebentar eyang, ada yang mau hamba pertanyakan pada eyang Guru." Ujar Siluwata.
"Mau bertanya apa cucuku." Jawab Sang Resi.
"Tadi eyang bercerita, bahwa kerja'an itu letaknya berada di bawah bukit kahuripan, itu kan rumah ayahanda dan Ibundaku, lalu apa nama kerajaan gaib itu?." Ujar Siliwata bertanya.
__ADS_1
"Nama keraja'an itu adalah keraja'an Medang Kencana." Jawab sang Resi.
"Dan di dalam harta karun itu, nanti akan terungkap para keturunan Raja medang Kencana dan siapa yang berhak atas harta itu, dan ini peta yang kakek gambar tentang letak dan keberada'an harta itu, ingat jangan sampai jatuh ke tangan orang jahat." Tutur sang Resi.
"Baik eyang Resi kalau begitu kami siap untuk berangkat sekarang ke gunung kencana." Ujar Siliwata.
"Iya kalian harus waspada, kakek yakin seluruh dunia persilatan pasti akan mencari harta karun itu, yang sudah barang tentu akan banyaknya korban berjatuhan karena sebuah keserakahan, dan ingin mendapatkan apa yang bukan menjadi haknya."
Akhirnya Siliwata dan Yudasara keluar dari dalam Goa Hanjuang, dan berjalan menuju arah Utara yang di tuju adalah Gunung Kencana.
Kedua Satria dari Tirta kencana terus berjalan menyusuri jalan naik bukit turun bukit, masuk hutan keluar hutan, yang akhirnya di pertengahan perjalanannya kedua Satria bepapasan dengan rombongan orang yang berpakain seragam kuning dan merah, sudah barang tentu mereka datang dari sebuah perguruan di Negri timur.
"benar apa kata eyang Guru, kini orang-orang dari dunia persilatan mulai keluar dari tempatnya, dan ini yang kita lihat Rayi yang ada di depan kita itu mereka orang-orang dari negri timur, kita harus lebih waspada rayi, karena akan banyak tokoh sakti yang pastinya akan berhadapan dengan kita." Bisik Siliwata.
"Kakang benar, karena yang akan berhadapan dengan kita bukan orang-orang mentah yang masih hijau, tapi para tokoh sakti yang masih haus dan serakah akan ke kuasaan." Jawab Yudasara berbisik.
Kemudian ke enam orang itu langsung menghentikan langkahnya ke tika ia berpapasan dengan Siliwata dan Yudasara.
"Tunggu...Hai anak muda, barang kali anda tau arah menuju Gunung kencana?." Tanya salah satu dari ke enam orang itu.
Siliwata dan Yudasara pun berhenti dan menatap dengan intens pada ke enam orang itu.
"Ini orang bertanya tidak ada adab sopan santun sama sekali, mungkin adat negri timur memang begitu." Gumam Siliwata dalam hati.
Yuda sara pun sama berpikiran seperti kakaknya, lalu ia berkata.
"Eeh kamu itu tuli apa budeg, jelas-jelas tadi saya bertanya." Sungutnya membentak.
"Ooh bertanya? baiklah, maaf kami tidak tahu coba aja kisanak jalan lurus barang kali di sana kisanak dapat Jawaban." Ucap Yudasara.
"Dari tadi bilang kalau tidak tau." Hardiknya sambil melanjutkan lagi perjalanan nya.
Siliwata hanya tersenyum melihat adiknya sudah memberikan petunjuk untuk mempersulit perjalanan mereka, lalu Kedua kakak beradik itu langsung melangkah kan lagi kakinya untuk melanjutkan perjalanannya menuju Gunung Kencana yang masih sangat jauh.
Siliwata dan Yudasara kini mempercepat perjalanannya dengan terpaksa menggunakan ilmu mamba angin, dan Yudasa pun menggunakn Ilmu yang sudah mengalir dalam darahnya Titisan dari Batara Indra.
Hanya dalam sekejap mata mereka pun tdlah sampai di Gunung kencana, Siliwata mulai membuka lilitan kulit Rusa yang di berikan oleh eyang Resi Wanayasa, yaitu sebuah peta tentang letaknya Harta karun tersebut.
Di peta yang tertulis di kulit Rusa, menujukan tentang keberdaan Harta karun, yang di tandai oleh batu hitam yang sangat besar yang tak mampu di hancurkan oleh kekuatan apapun, cuma orang yang berbudi luhur dan mempunyai hati bersih yang bisa mengangkat batu itu.
Perlahan Yudasara memegang batu itu, dan sebelumnya ia berkata untuk pemilik Harta tersebut.
"Sampu rasun, ini kami datang atas ijin dari sang Resi Wanayasa untuk membuka pintu gaib yang menghubungkan pada Harta yang tersimpan di bawah batu ini."
__ADS_1
Setelah itu Yudasara mengangkat batu itu dengan sangat enteng sekali.
Setelah batu itu tergeser dari posisi semula, nampak sebuah pintu yang terbuat dari logam keras, kemudian Siliwata membuka lagi peta itu, untuk bisa membuka pintu itu, di peta itu terlukis sebuah sebuah pedang, Siliwata agak kebingungan yang di maksud gambar pedang itu, harus bagaimana cara membukanya.
"Coba rayi kaji lebih dalam, di sini ada gambar pedang apa maksudnya." Bisik Siliwata.
Yudasara sejenak merenung sambil berpikir, lalu ia memperhatikan di pintu logam itu terukir angka Tujuh romawi dan gambar kepala ular.
"Coba kakang cabut pedang mu." Perintah Yudasara.
"Untuk apa rayi?." Tanya Siliwata brlum paham.
"Ya cabut saja dulu." Ujar Yudasara.
Siliwata pun langsung mencabut pedang mamba merahnya, kemudia Yudasara melihat pedang itu dengan intens.
"Lho ko bisa." Sontak Yudasara.
Siliwata sepertinya belum mengerti dengan ucapannya Yudasara. "Mkasud kamu rayi apa?." Tanya Siliwata.
"Coba kakang perhatikan, yang terukir di pintu logam ini, angka tujuh Romawi dan kepala ular, ini sama seperti yang tertulis di pedang kakang, Sebuah angka Romawi bilangan tujuh, dan kepala ular, pedang kakang kan gagangnya kepala ular." Cetus Yudasara.
Siliwata pun langsung mencocokan apa yang ada di pintu itu dengan apa yang tertulis di pedangnya. "Kamu benar rayi." Ujar Siliwata.
Kemudian Siliwata pun menempelkan pedang itu antara angka romawi dan kepala ular.
Ceklek
Pintu itu pun terbuka mereka tersontak kaget ternyata pintu itu adalah jalan untuk menuju ke arah harta karun berada.
Lalu kedua kakak beradik itu berjalan memasuki kedalam goa, dan menjelajahi setiap sudut dan ruangan di dalam goa tersebut.
Dengan ketajaman mata mamba Siliwata, segelap apapun di dalam goa tersebut bagi Siliwata tidak ada bedanya.
Begitu pula Yudasara yang mendapat titisan dari kekuatan Batara Indra, Yudasara mampu melihat dalam suasana gelap gulita.
Ketika mereka menyentuh sebuah dinding goa yang di atasnya tertulis aksara romawi kuno, tiba-tiba dinding goa tersebut bergetar lalu bergeser ke samping.
Siliwata dan Yudasara tersontak kaget dengan kedua bola matanya terbelalak ketika melihat sebuah benda panjang menyerupai sebuah pedang, dengan warangkanya berwarna hitam, di tengah-tengahnya menempel ukiran emas dua puluh empat karat dan gagangnya berbentuk kepala ular yang di hiasi dengan sisik emas.
"Ini kah harta karun yang di maksud eyang guru itu." Ujar Siliwata.
"Bisa jadi begitu kakang, mungkin harta karun yang di maksud itu adalah sebuah pedang peninggalan para leluhur, dan aku merasa pedang itu adalah kunci untuk membuka sebuah portal." Cetus Yudasara.
__ADS_1
Sementara di bawah kaki gunung kencana, puluhan orang dari dunia persilatan golongan hitam lagi terlibat pertarungan memperebutkan pepesan kosong.
Karena napsu dan keserakahannya atas Harta karun yang kini ramai di perbincangkan, sehingga mengundang para jago dan tokoh dari dunia persilatan harus turun gunung. Demi sebuah harta yang belum tau keberadaannya.